Hubungan saya dengan kampus Universitas Airlangga hanya dua: UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tingi Negeri–legacy version-nya UTBK) dan RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut). Selain itu hanya sedikit sekali. UMPTN saya dulu di Kampus A Universitas Airlangga (selanjutnya “Unair” saja biar singkat). Pagi ini, setelah melihat-lihat Kampus B Unair dan menemukan berbagai perubahan, saya cenderung yakin saya tidak akan menemukan tempat UMPTN saya di kampus A Unair saat tiba di sana. Namun, jangan kuatir, apa yang saya temukan di kampus A Unair ini benar-benar tidak saya duga: kata kuncinya alumni.
Mari kita sok tuwir dulu. Omong-omong tentang ujian masuk PTN, generasi saya dan generasi hari ini sudah beda. Generasi dulu, untuk ujian harus beli di perguruan tinggi, ketika ujian harus mencari gedung dan bangkunya, dan untuk tahu lulus atau tidak pun perlu beli koran dan mencari nama kita dalam teks yang renik. Untung peserta UMPTN masih umur 18-21-an–matanya masih belum rabun dekat.
Generasi sekarang sih tinggal beli online dan melihat ujiannya terjadwal tanggal berapa jam berapa dan kemudian tinggal pergi ke tempat tersebut untuk mengerjakannya di lab komputer. Lihat pengumuman pun tinggal login.
Santai, kawan, cerita ini bukan soal generasi yang saling menjagokan generasinya. Mari kita lanjut jalan-jalan ke Kampus A Unair.
Begitu belok ke jalan Dr. Moestopo di depan RSUD Dr. Soetomo yang dikenal sebagai Rumah Sakit Karang Menjangan itu, saya bersiap untuk menemukan tempat yang dimaksud. Di dekat situ memang ada tempat yang beberapa tahun lalu sering saya kunjungi, yaitu RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut) yang merupakan tempat belajar dan praktiknya mahasiswa kedokteran gigi dan yang mengambil spesialis. Tapi untuk Kampus A Unair sendiri saya tidak pernah mengunjungi sejak hari UMPTN itu. Saya tidak ingat sama sekali bentuk depannya seperti apa. Yang saya ingat adalah bangunannya tua.
Kampus Heritage
Begitu mendekati pos keamanan, tampaklah bangunan itu: bangunan kolonial dengan gapura mirip benteng. Tampak tulisan besar Ned-Indische Artsen School (disingkat NIAS) yang artinya “Sekolah Kedokteran Hindia Belanda). Pagi itu sepi dan Satpam yang berjaga tersenyum ke saya ketika tahu saya akan masuk dengan potongan orang jalan pagi.

Ketika sudah cukup dekat dengan gerbang masuk tersebut, tampak semakin jelas ada prasasti marmer yang menjadi keterangan tentang gedung ini. Gedung ini merupakan gedung cagar budaya kota Surabaya. Kalau mau sedikit browsing, kita akan tahu bahwa gedung ini diresmikan sebagai cagar budaya kota pada tahun 1996 dan menjadi cagar budaya nasional pada tahun 2007.

Ini yang tidak saya ingat sama sekali ketika dulu mengikuti UMPTN. Hanya hal-hal yang meninggalkan kesan mendalam saja yang masuk ke dalam core memory kita. Tampaknya, urusan gedung heritage sama sekali tidak masuk ke radar minat saya masa itu. Kalau bangunan-bangunan candi dari zaman Majapahit memang waktu itu sangat menarik perhatian saya. Namun, tampaknya zaman kolonial tidak terlalu menarik.
Apakah karena waktu itu saya masih usia 18 tahun? Kata Brad Paisley dalam lagunya “Letter to Me”: “… at 17 it’s hard to see past Friday night…” Saya mungkin cuman kepikiran Sabtu malam minggu waktu itu. Lebih tepatnya, saya begitu terpesona eksotika zaman Majapahit yang memang dirayakan di drama radio dan film-film silat lokal.
Begitu melewati gerbang, terlihatlah semua nama-nama para lulusan kedokteran yang pernah bersekolah di sana mulai zaman sebelum kemerdekaan. Ada nama Jawa, Manado, Tionghoa, nama berbahasa Arab, nama asing, dan sebagainya.
Merayakan Alumni
Ini yang perlu menjadi perhatian khusus. Ned-Indische Artsen School (NIAS) adalah sekolah kedokteran buat pribumi. Di Jakarta, ada istilah STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), tempat kuliahnya Mingke dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Dr. Soetomo (yang menjadi nama Rumah Sakit Karang Menjangan) pernah menjadi dosen di sekolah ini. Pada zaman Jepang, NIAS berubah nama menjadi Djakarta Iki Dai Gaku.

Prasasti berisi nama-nama dan tahun lulus ini semakin menyedot perhatian saya. Ada kebanggaan yang besar dari lembaga pendidikan atas orang-orang yang berhasil mereka luluskan. Apalagi kalau orang-orang itu kelak menjadi orang-orang yang berguna di masyarakat dalam hal besar. Kebanggaan semacam ini ada di mana-mana, biasanya dalam bentuk foto-foto lulusan terbaik yang memberikan kebanggaan bagi institusi.
Anak saya jalan sendiri mencari bagian-bagian gedung yang lain. Seorang perempuan muda (mestinya mahasiswa) melewati kami dan masuk lebih dalam ke bagian kampus. Pagi hari Minggu ini, kampus sangat sepi. Bedanya dengan kampus B adalah, kampus A ini sangat padat. Jarak antara bangunan satu dan lainnya nyaris tidak ada karena saling terhubung. Jadi, praktis ketika melewati gerbang tadi, rasanya sudah berada di satu gedung yang terus terhubung. Ada taman-taman kecil di antara gedung-gedung yang serba terhubung itu.
Kami masuk lebih dalam untuk mencari gedung tempat UMPTN yang ada di pikiran saya. Satu bagian terhubung dengan bagian lainnya melalui koridor-koridor beratap. Kalau melihat bangunan semacam ini saya jadi ingat bangunan-bangunan rumah sakit yang sejak zaman dahulu sudah memiliki koridor yang menghubungkan satu bagian dengan bagian yang lain. Di kampus A ini, bagian-bagian penghubungnya lebih estetis. Ada satu koridor penghubung yang bahwa dilengkapi semacam dinding miring. Awalnya, saya pikir itu bagian untuk mencegah cipratan air hujan.
Yang mengejutkan saya adalah, ketika mendekat, tampaklah bahwa dinding miring yang ada di koridor itu sebenarnya adalah semacam platform untuk prasasti yang berisi petak-petak batu yang masing-masing bertuliskan nama-nama dokter yang lulus dari Fakultas Kedokteran ini.

Sekilas tampak betapa bangganya kampus ini terhadap para lulusannya. Mungkin ini penghargaan yang layak untuk jurusan yang masuk maupun lulusnya membutuhkan berbagai upaya dan sumber daya. Yang pasti, mengetsakan nama-nama angkatan di batu ini cara yang unik untuk menghargai para alumni. Dan nama-nama ini terus bertambah seiring waktu–biasanya tiap tahun ditambah angkatan yang menjadi panitia dies natalis.
Tentu ini bukan satu-satunya cara menghargai alumni di dunia. Kebetulan saya sempat kuliah di kampus yang merayakan para alumninya dengan cara serupa. Di University of Arkansas, tradisi ini bahkan punya nama sendiri. Universitas yang berusia 150 tahun lebih ini menuliskan nama alumninya di trotoar sepanjang lingkungan kampus. Jalan ini disebut Senior Walk.

Di kawasan kampus yang tidak bisa dilalui kendaraan bermotor, ada trotoar yang menghubungkan satu gedung ke gedung lainnya. Di trotoar itulah nama-nama lulusan ditorehkan. Saking seriusnya University of Arkansas dengan tradisi ini, bahkan mereka berinovasi merancang mesin yang khusus dibuat untuk tujuan menuliskan nama di trotoar. Nama alat itu Sand Hog (atau Celeng Pasir). Kebetulan saja “celeng” adalah maskot bagi tim olahraga kampus ini.
Adanya prasasti nama-nama alumni ini sempat mengalihkan perhatian saya. Sebenarnya, sebelum prasasti-prasasti ini, ada sebuah aula dari zaman Belanda yang sangat bersejarah. Namun, karena saya datang pada pagi hari minggu ketika tidak ada siapa pun di sana, saya tidak bisa masuk ke dalam aula yang historis itu. Semoga ada kesempatan di masa yang akan datang untuk masuk ke dalam aula itu dan melihat sisa zaman. Saya sempat keliling-keliling dan menemukan sebuah masjid di tengah kampus ini yang sepertinya punya kegiatan. Ada beberapa orang yang tampaknya baru keluar dari masjid itu. Ada petunjuk menuju ruang eksperimen jantung kura-kura.

Ingat PR Sendiri
Bisa ditebak, saya tidak bisa memastikan di mana bangunan tempat saya dulu mengerjakan tes UMPTN. Namun, entah kenapa saya tidak merasakan kekecewaan yang bagaimana. Mungkin memang saya dan anak saya hanya ingin berjalan pagi, membakar lemak di tengah hawa pagi Surabaya yang sejuk yang cukup gerah. Melihat bagaimana kampus ini menghargai alumni membuat saya bertanya-tanya: apa yang sudah saya lakukan untuk menunjukkan penghargaan kepada para alumni dari kampus Universitas Ma Chung?
Kami menunjukkan gambar-gambar para alumni terbaik itu di lobi menuju gedung kuliah utama. Tapi, karena ini berhubungan dengan alumni terbaik setiap tahunnya, mungkin akhirnya kami harus menggantikan gambar-gambar itu dengan yang lebih baru. Kami punya satu dua gagasan tentang perayaan alumni, tapi ya tentunya tulisan perjalanan pagi ini bukan forum yang tepat untuk membocorkan rencana tersebut.
Pagi ini saya berjalan-jalan untuk mencari sisa-sisa dari seperempat abad yang lalu. Namun, yang saya temukan justru sesuatu yang lebih tua, yaitu bangunan cagar budaya yang kini berusia satu abad. Dan tentu saja saya menemukan sesuatu yang harus saya jalankan hari-hari ini: bagaimana cara merayakan para alumni di kampus tempat saya sekarang bekerja.


