Kampus B Universitas Airlangga: Mencari Gedung, Menemukan Bangku dan Taman

Beberapa waktu lalu anak saya bilang bahwa ada temannya yang kuliah di Universitas Airlangga dan dia ingin ke kampus itu untuk menemuinya. Kami belum sempat ke sana, tapi saya dapat kesempatan tiba-tiba untuk mengikuti kegiatan di gedung pasca sarjana kampus B Unair pada sebuah hari Jumat. Ketika mendekati kampus, saya mencari-cari sebuah gedung lain. Tidak ketemu, saya justru sholat Jumat di Masjid Nuruzzaman, sebuah masjid yang masih gres dan sangat megah.

Masjid Nuruzzaman (Cahaya Zaman) di Kampus B Universitas Airlangga

Waktu sudah di rumah, saya bilang ke anak saya bahwa kalau ada kesempatan ke Surabaya, saya akan ajak dia jalan-jalan ke Unair karena saya masih penasaran menemukan sebuah gedung yang pernah saya kunjungi 27 tahun yang lalu. 

Memangnya ada apa 27 tahun yang lalu? 

Ketika itu, di tahun 1998, Kampus B Universitas Airlangga adalah saksi usaha saya untuk bisa kuliah bahasa Inggris. Setelah lulus SMA, saya sempat ingin kuliah D3 di sebuah Akademi Bahasa Asing atau di Sekolah Perhotelan yang pada masa itu biasanya berjenjang D3. Tapi, karena orang tua baru menyelesaikan S1 program kampus jauh, akhirnya saya tidak diizinkan ambil D3—orang tua saya tidak ingin kuliah mereka malah lebih tinggi dari anaknya. Akhirnya, saya mendaftar UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi–versi retro dari UTBK). Setelah mempertimbangkan ini dan itu, tempat pembelian formulir UMPTN yang paling mudah buat saya adalah di Unair. Saya tinggal naik kereta api dari Stasiun Porong dan turun di Stasiun Gubeng. Kemudian tinggal jalan sedikit ke kampus Universitas Airlangga kampus B.Demikianlah kisah tahun 1998.

Pagi ini, hampir 27 tahun kemudian, saya ada kesempatan ke Surabaya dan menginap semalam di penginapan dekat stasiun Gubeng. Karena anak saya punya keinginan melihat perguruan tinggi yang sama dan saya juga ingin menyusuri lorong-lorong memori, maka terjadilah perjalanan ini. 

Saya ingin mencari lagi gedung tempat saya beli formulir UMPTN dulu. Pagi ini, sebelum matahari terbit saya jalan-jalan ke Unair dengan anak, melewati gang-gang di sekitar Stasiun Gubeng. 

Di ingatan saya, setelah turun dari kereta api dulu, saya berjalan melewat gang-gang yang sama dengan yang saya lewati saat ini. Setelah itu, saya keluar ke jalan besar menuju Jl. Airlangga. Setelah berjalan sedikit di Jl. Airlangga, waktu itu saya sudah lihat kerumunan di salah satu gedung bagian depan di sebelah kanan, di kampus B Universitas Airlangga. Saya menuju ke sana untuk membeli formulir UMPTN. Saya tiba di sana pagi-pagi sekali. Kereta apinya sudah tiba sebelum pukul 7 waktu itu. Pagi itu saya lihat ada anak yang lebih tua dari saya dan kelihatan seperti belum mandi. Dalam imajinasi fresh graduate SMA saya, dia adalah mahasiswa kedokteran yang habis tidur di laboratorium sebagai bagian dari kuliah. Dia belum tidur dan belum mandi dan langsung beraktivitas di kampus. 

Tentu kemungkinan besar imajinasi saya tidak akurat: Kampus B adalah untuk Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Sastra, dan lain-lain yang bersifat sosial humaniora. Belakangan saya tahu bahwa anak-anak dari ilmu-ilmu itu tidak harus tidur di laboratorium untuk mengerjakan tugas. 

Pagi ini,  saya tidak bisa lagi temukan bangunan yang bisa diduga dulu jadi tempat membeli formulir pendaftaran UMPTN. Sebaliknya, yang ada justru sebuah masjid baru yang sangat megah, Masjid Nuruzzaman yang beberapa minggu lalu menjadi tempat saya sholat Jumat. Sepertinya bangunan itu memang sudah tidak ada. 

Meskipun bangunan yang saya cari pertama kali tidak ada, kami tetap berkeliling melihat gedung Fakultas Pasca Sarjana dengan tamannya yang memberikan kesan seperti di Mediterania. Bangunan besar dengan kolom-kolom besar dominan putih, di depannya ada taman-taman yang lapang dan minim ornamen. Bagian bawahnya paduan antara beton dan rumput yang rapi sekali—tentu rapi, karena pakai rumput sintetis. Ada banyak bonsai tanaman serut bagus dengan pot di atas pedestal. 

Tapi ketika masuk lebih dalam ke kampus itu dan melihat gedung-gedung lain di belakangnya, kesan Mediterania ini hilang. Memang di mana-mana konsisten pakai rumput organik, tapi kesannya sudah berbeda lagi. Taman di gedung perpustakaan juga cukup lapang dengan paduan beton dan rumput organik. Bangunannya memang  tidak seperti bangunan megah dominan putih. Arsitektur bangunannya terkesan modern. Tidak ada lagi Mediterania. Tapi setidaknya tamannya masih gabungan antara beton dan rumput sintetis. 

Dalam perjalanan menyusuri gedung demi gedung di bagian belakang kampus 2 Unair ini, terasa sekali banyak tanaman di sini. Ada pohon besar, tanaman hias, dan lain sebagainya. Di beberapa bagian yang sangat rimbun, saya sempat teplak-teplok tangan dan leher karena nyamuk. Mungkin di kawasan Surabaya bagian ini, kampus Unair ini seperti oase oksigen karena banyaknya tanaman. 

Menjelang perjalanan keluar, kami melewati sebuah gedung bergaya arsitektur fungsional yang unik. Gedungnya tidak sangat lebar tapi menjulang tinggi. Inilah gedung Abdoel Gaffar Pringgodigdo (AG Pringgodigdo) yang menjadi rumah bagi  Fakultas Hukum. Gedung ini tinggi dengan anak tangga yang cukup banyak. Di depannya terdapat taman luas dengan patung AG Pringgodigdo. Sekilas info, AG Pringgodigdo adalah tokoh hukum kelahiran Bojonegoro, Sarjana Hukum lulusan Universitas Leiden, pernah menjadi Menteri Kehakiman di era Bung Karno, dan pernah menjadi Rektor/Presiden Unair selama satu periode.  

Tapi, ada yang menarik dari bangunan ini, yaitu anak-anak tangganya yang cukup tinggi dan membutuhkan usaha (kalau mau memanjat sambil lari). Sekilas saya jadi ingat gedung Philadelphia Museum of Art (PMA) yang muncul di film Rocky yang pertama. Ingat, kan, ketika Sylvester Stallone sebagai Rocky Balboa lari pagi dan ujungnya adalah ketika mencapai pintu masuk Philadelphia Museum of Art itu? 

Saya yakin kalian pingin lari pagi setelah dengar musik dan nonton adegan Rocky lari pagi ini.

Kami melanjutkan perjalanan keluar kampus ini. Namun, di ujung perjalanan ini, saya dan anak saya mengambil simpulan singkat: selain tanaman yang rimbun dan rumput sintetis di mana-mana, ada satu hal lagi yang menonjol dari  kampus B ini: banyak sekali tempat duduk-duduk. Bayangkan saja, mulai dari bangku beton, bangku kayu, gazebo model balai, gazebo kayu kecil, sampai gazebo-gazebo yang tidak umum. Bahkan, ada bagian dekoratif di depan perpustakaan yang ternyata juga difungsikan sebagai tempat duduk. 

Kenapa banyak sekali tempat duduk-duduk? Mungkinkah ini tuntutan dari memiliki mahasiswa yang sangat banyak. Tahun akademik 2025-2026 ini mereka mendapatkan lebih dari 9.300 mahasiswa baru. Pastinya mahasiswa yang banyak ini butuh tempat untuk kongkow-kongkow berdiskusi ini dan itu.

Di bagian itu saya jadi ingat fakta bahwa Universitas Airlangga adalah salah satu PTN-BH awal. Sekadar info, PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) adalah bentuk perguruan tinggi negeri yang memiliki otonomi lebih dalam hal akademik dan pengelolaan keuangannya. Akhir-akhir ini, istilah PTN-BH buat saya dan kawan-kawan yang mengajar di perguruan tinggi swasta (PTS) menjadi sesuatu yang sensitif—terutama karena PTN-BH cenderung menyedot mahasiswa dalam jumlah luar biasa. Sampai-sampai, perolehan jumlah mahasiswa PTS terdampak. 

Kembali lagi ke status PTN-BH Universitas Airlangga—perguruan ini ini menjadi perguruan tinggi ke-7 yang menyandang status itu, yaitu pada tahun 2006. Waktu itu, istilah yang dipakai adalah Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT-BHMN). Ada banyak perubahan yang terjadi antara tahun 2000 hingga 2006 yang berhubungan dengan upaya Universitas Airlangga agar mendapatkan status PT-BHMN itu

Begitu mulai meninggalkan gerbang kampus 2 di Jl. Dharmawangsa, saya kembali bertanya-tanya: mana ya bangunan tempat saya membeli formulir UMPTN dulu? Kemana hilangnya bangunan yang kokoh berdiri di ingatan saya itu? Saya langsung ingat kembali Masjid Nuruzzaman yang pertama kali kami lihat tadi. Apakah renovasi masjid itu yang membuat bangunan pendaftaran UMPTN dulu itu hilang? 

Saya dapat info di Instagram bahwa renovasi Masjid Nuruzzaman itu merupakan salah satu respons terhadap semakin meningkatnya jumlah mahasiswa yang perlu diakomodasi kebutuhan ibadahnya.

Kami melanjutkan perjalanan meninggalkan kampus B. Saya ajak anak saya ke gedung yang dulu menjadi ruang saya mengikuti UMPTN. Dalam perjalanan, ketika menyusuri trotoar di sebelah barat RSUD Dr. Soetomo, saya mulai terpikir. Jangan-jangan, tidak ada bangunan yang hilang dari kampus Unair. Mungkin ingatan saya saja yang tidak bisa menangkap pasti gedung mana yang menjadi tempat pembelian formulir UMPTN itu. 

More From Author

Avatar Fire and Ash: Yang Baru ada di Mata dan Ruh

Film terbaru dari seri Avatar (yaitu Avatar: Fire and Ash) hadir di luar radar saya.…

Youth Quake: Membaca Fiksi sambil Secara Sadar Mengembangkan Diri

Semakin membaca buku Youth Quake: Anak Muda, Identitas, dan Segala Sesuatu di Antaranya karya Dyana…

(Resensi) Youthquake: Anak Muda, Identitas, dan Segala Sesuatu di Antaranya

It’s a one-of-a-kind book. You might begin reading it as if it were just a…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *