Timeline Perjalanan: Tidak ada COVID yang Ringan bagi Penderitanya

Saat ini, nyaris dua bulan sudah berlalu sejak saya merasakan gejala pilek, demam, pusing, hilang penciuman, dan hasil rapid Antigen positif. COVID 19 ada di tengah-tengah kita. Sebagian dari kita yang tertular tahu tertularnya dari mana. Tapi sebagian yang lain sama sekali tidak sadar bahwa kita baru saja tertular di tempat yang tidak kita duga sama sekali.

Karena saya kebetulan sudah tertular dan, alhamdulillah, telah melewatinya, saya akan coba menulis beberapa catatan yang semoga bisa dibaca seperti membaca catatan perjalanan. Semoga bisa memperluas wawasan atau bahkan menjadi bahan renungan. Atau, silakan saja ini dibaca sebagai “catatan perjalanan” melalui jalur COVID.

Untuk cicilan pertama ini, saya beri abstraknya saja biar tidak terlalu memberatkan saya sendiri.

Pada hari Sabtu tanggal 12 Desember 2020, saya membantu istri membawa ibu saya (ibu mertua) ke rumah sakit. Ibu waktu itu sudah seminggu mengalami gejala pilek hebat, batuk-batuk, dan belakangan sesak nafas. Pada hari itu, ibu akhirnya bisa ke IGD di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang.

Mulai hari Sabtu itu sampai Selasa subuh minggu depannya, ibu saya masih di IGD RSSA. Selama di IGD, saya dan istri bergantian berjaga untuk memastikan kebutuhan ibu terpenuhi. Tiap hari kami keluar masuk IGD untuk ini-itu–tentu dengan protokol ketat. Pada Selasa pagi, ibu saya baru masuk ruang isolasi. Dan sejak itu pula saya dan istri tidak perlu lagi masuk ke rumah sakit. Pada hari pertama setelah mengantar ibu ke RSSA (hari Sabtu), saya sudah mulai menerapkan protokol isolasi super ketat (tidak lagi melepas masker di rumah, lapor RT, dan lapor HRD di kampus tempat saya kerja dan mendapat izin kerja dari rumah).

Pada hari Minggu tanggal 20 Desember saya mulai pilek hebat dan demam dan sakit-sakit di persendian ketika bangun tidur. Mulai minggu sampai selasa saya hanya minum paracetamol (dari Demacolin) sebelum istirahat. Sejak hari minggu saya meminta istri untuk tidur di kamar lain. Saya juga banyak minum jeruk hangat dan madu. Saya pun mendaftar untuk ikut tes rapid Antigen di RKZ.

Pada Rabu pagi 23 Desember saya kehilangan penciuman. Saat itu justru saya tidak lagi pilek dan badan tidak lagi demam. Capeknya masih terasa. Untungnya hari itu saya memang sudah terjadwal ikut tes rapid Antigen di RKZ. Hasil tes menunjukkan saya positif dan dokter dari RKZ memberi saya protokol melakukan isolasi mandiri.

Isolasi mandiri saya lebih ketat lagi. Saya tinggal bertiga dengan anak dan istri saya, tapi saya memilih berada di kamar secara penuh sambil terus memakai masker dan rutin menggantinya sehari tiga kali. Dari kampus tempat kerja saya mendapat pinjaman termometer dan oxymeter (plus dikasih multivitamin). Setiap hari saya mengisi self-assessment isolasi mandiri. Saya juga terus berkomunikasi dengan adik saya yang seorang perawat di Sidoarjo. Aktivitas saya hari-hari itu cuma bersantai, baca buku, nonton film, tidur. Jam tidur di hari-hari pertama itu kira-kira lebih dari 15 jam sehari.

Pada hari Kamis tanggal 24 Desember saya meminta anak dan istri melakukan rapid tes juga. Ternyata hasilnya negatif. Ini cukup mengejutkan bagi saya, karena kontak antara istri dan ibu saya jauh lebih erat. Anak saya juga negatif.

Pada hari Minggu tanggal 27 Desember anak saya menunjukkan gejala serupa. Ada pilek hebat dan capek-capek. Dia pun mulai ketat menjalankan isolasi mandiri. Rumah jadi sepi dan mellow. Tiga hari kemudian anak saya sudah pulih kembali dan tidak menunjukkan gejala apa-apa.

Sejak pulih dari pilek dan demam, praktis saya tidak mengalami gejala apa-apa selain capek. Saturasi oksigen juga tetap bagus, selalu 98% atau 99%. Untuk itu alhamdulillah.

Sejak pulang dari mengantar ibu ke rumah sakit dan lapor RT kalau kami sekeluarga melakukan isolasi mandiri, saya rutin minum multivitamin, probiotik, dan Qusthul Hindi, bubuk kayu India. Qusthul Hindi ini awalnya diberi pak RT kami yang kebetulan dosen di bidang kesehatan dan biologi yang sejak beberapa tahun terakhir meneliti resep-resep pengobatan alternatif yang disebut di kitab-kitab pengobatan tradisi Islam.

Dua minggu setelah saya mendapatkan hasil positif, yaitu tanggal 6 Januari 2021, saya memberanikan diri memutuskan isolasi mandiri saya sudah selesai. Tapi saya belum berani lepas masker di dalam rumah–hati belum tenang. Kondisi fisik saya tetap seperti awalnya. Bedanya adalah, saya jadi mudah kehabisan nafas saat mencoba mengerjakan pekerjaan rutin keseharian. Dan menurut informasi yang saya dapatkan semua itu wajar setelah tubuh terkena virus corona. Kondisi ini berangsur-angsur membaik. Saat ini praktis saya sudah bisa berolahraga normal.

Tapi, ada satu yang baru saja muncul: Sejak hari Minggu 7 Februari 2021 (satu bulan setelah saya memutuskan isolasi mandiri saya selesai), saya terus mencium bau asap. Pada awalnya memang di belakang rumah saya ada orang membakar ranting-ranting dan daun kering. Tapi, sampai keesokan harinya, ketika istri saya sudah tidak lagi mencium bau asap, saya terus mencium bau asap itu.

Bau asap ini unik: Terkadang seperti asap bakaran sampah, terkadang seperti asap rokok, terkadang seperti asap (atau uap?) obat nyamuk elektrik. Terkadang rasanya selalu ada orang yang merokok di sebelah saya. Ada kalanya bau asap itu begitu kuat sampai saya terasa agak sesak.

Saya tanyakan ke adik saya yang perawat (dan beberapa bulan sebelum saya pernah terkonfirmasi positif). Ternyata dia mengalami gejala yang persis dengan saya pasca penyembuhan.

Menurut literatur, bau asap itu terjadi ketika sel-sel saraf olfaktori sedang mengalami pemulihan. Bisa dibilang, sedang terjadi kekacauan sensor di sana. Istilah medisnya, kondisi ini disebut “phantosmia” (mencium bau “hantu,” bau yang tidak ada). Saat ini masih tercium kuat asap itu. Semoga ini segera berakhir.

Begitulah, jamah blog sekalian. Sementara itu dulu yang bisa saya catatkan di sini. Semoga timeline singkat ini bisa memberi gambaran yang bisa dilihat tentang perjalanan menempuh jalur COVID 19. Menurut berbagai informasi, saya termasuk menderita COVID 19 dengan gejala ringan hingga sedang. Tapi ya, tentu saja ketika mengalaminya, saya sulit menerima kalau itu termasuk gejala ringan atau sedang. Tidak ada COVID yang ringan ketika kita mengalaminya sendiri. Ada banyak keresahan, kekhawatiran, bayangan kengerian, dan seterusnya. Dan ada banyak hal yang terpikir dan tercatat ketika saya mengalaminya. Untuk itu, semoga hari-hari ke depan ada kesempatan untuk menuliskan pikiran-pikiran atau detil-detil yang mungkin penting yang belum tertangkap dalam postingan singkat hari ini.

COVID is real my friends. Tidak ada COVID yang ringan bagi yang sedang menderitanya. Apalagi, ringan atau tidaknya COVID itu juga “relatif.” Maksud saya, bagi satu orang COVID bisa ringan, tapi bagi orang lain yang tertular, yang kebetulan memiliki kondisi kesehatan berbeda, COVID bisa sangat berat dan fatal. Tetap sehat, kawan. Atau setidaknya, tetap waspada dan ikuti protokol kesehatan yang bisa mengamankan kita dan orang-orang sekitar kita.

Sampai jumpa di catatan perjalanan menempuh COVID 19 berikutnya.

Written By

More From Author

(Terjemahan Cerpen) Mereka Terbuat dari Daging karya Terry Bisson

“Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Daging. Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Tak diragukan lagi. Kami…

Thank You, Dua Satu! Let’s Go Loro Loro!

Beberapa menit lagi 2021 sudah usai dan saya perlu menuliskan satu catatan kecil biar seperti…

(Resensi) Puser Bumi oleh Mas Gampang Prawoto

Berikut resensi terakhir dalam seri tujuh hari resensi. Kali ini kita ngobrol soal buku puisi…

4 comments

Saya positif COVID sewaktu awal bulan Januari 2021, dan waktu itu sempat butuh waktu juga untuk adaptasi. Gejala fisiknya memang ringan/sedang, tapi seperti yang mas katakan gejala psikisnya lebih mengganggu (khawatir/gelisah). Untungnya sekarang hasil tes PCR saya sudah negatif.

Semoga mas lekas pulih dan sehat selalu.

Alhamdulillah, Cak Tigis. Wis siap trabas maneh iki. Tapi yo ngono, trabas deadline. Wkwkwkw

makasih, mas. betul, gejala psikisnya sangat mengganggu. ada kawan di malang sini yang kemarin harus isolasi mandiri dan lebih resah karena jauh dari pasangan dan anaknya itu daripada krn covidnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *