Petualangan Belt: The Epic of Tape Deck Kenwood

Beberapa waktu belakangan ini aku memang beberapa kali menulis soal kembali memutar kaset. Rasanya yang berbeda ketika mendengarkan musik dari kaset. Sebelumnya pakai compo Polytron, dan sekarang pakai tape deck Kenwood. Orang bilang suara dari kaset itu “hangat,” tapi kataku “suaranya membutuhkan usaha dan tidak super jernih.”

Dan seperti biasa, urusan barang lawas itu tidak pernah benar-benar mulus. Ada dramanya yang—seperti layaknya drama kehidupan—semakin mendewasakan kita.

Ceritaku kali ini tentang tape deck Kenwood yang sempat mengajak main drama. Awalnya semua baik-baik saja. Aku senang karena akhirnya punya tape deck yang bentuknya cocok, suaranya juga lumayan, dan secara umum terasa menyenangkan untuk dipakai memutar kaset. Tapi namanya juga barang tua, ada saja yang minta perhatian.

Suatu hari, karet pemutar dinamonya putus. Mestinya tape deck ini sudah lebih dari 20 tahun usianya. Jadi ya wajar saja.

Belt Salah Ketebalan

Nah, di titik ini mulai terasa petualangannya. Kalau barang baru rusak, kita tinggal klaim garansi atau bawa ke service center. Tapi kalau tape deck tua begini, urusannya lebih banyak kira-kira dan coba-coba. Apalagi kalau kita tidak punya data pasti ukuran belt yang dipakai. Aku sempat tanya kawan yang suka main musik analog. Sayangnya dia tidak punya stok belt.

Dari kawan itu, aku dapat saran beli belt dari sebuah seller di toko oren. Di link yang dia kasih itu, ukuran ketebalan beltnya adalah 0,7 mm, dengan diameter 15, 16, dan 17. Pikirku, ya sudahlah, beli beberapa ukuran sekalian. Nanti tinggal dicoba mana yang paling pas.

Ternyata karet 0,7 mm itu terlalu kecil. Putarannya tidak maksimal. Rasanya seperti ada yang kurang tenaga. Akhirnya, karena penasaran dan mungkin juga karena agak nekat, aku sempat mencoba pakai karet gelang.

Tape-nya muter, kaset pun bunyi. Tapi tentu saja hasilnya tidak ideal.

Memang bisa muter, tapi jadinya mleyot-mleyot. Tegangannya beda. Karet gelang itu kelihatannya sepele, tapi ternyata ketika dipakai untuk urusan putaran tape deck, beda karakter sedikit saja langsung terasa efeknya. Suara dan putarannya jadi tidak stabil. Ya bagaimana, memang bukan peruntukannya.

Siapa yang rela suara Ebiet G. Ade yang bijaksana itu jadi labil? Siapa yang mau Chrisye yang jernih dan lurus itu jadi terasa tidak percaya diri?

Akhirnya aku beli lagi karet dari seller lain. Kali ini aku cari yang lebih tebal karetnya, yaitu 2 mm. Ukurannya tetap sama: 15, 16, dan 17. Harapannya, dengan karet yang lebih tebal, putarannya bisa lebih mantap dan tidak selip.

Setelah barang datang, aku pasang. Kali itu aku pakai karet nomor 16. Karet terpasang rapi. Secara visual juga kelihatan baik-baik saja. Tidak ada yang aneh. Ukuran 2 mm ternyata mirip dengan belt yang bertahun-tahun lalu pernah aku beli untuk walkman Aiwa yang aku beli seharga Rp50 ribu. Tape deck aku rakit lagi, lalu aku coba putar.

Tapi kok rasanya masih kurang maksimal. Di titik-titik tertentu terasa ada yang tidak beres. Tentu jauh lebih baik daripada pakai belt karet gelang, tapi tetap saja ada yang gimanaa gitu.

Nomor yang Tertukar

Ini bagian yang kadang bikin malas. Secara teknis sudah diganti. Karetnya baru. Pemasangannya juga sudah rapi. Tapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Mau bongkar lagi rasanya kok capek. Mau diteruskan juga tidak puas. Akhirnya, seperti biasa, solusi paling manusiawi adalah: didiamkan dulu.

Dan benar saja, tape deck itu aku diamkan beberapa bulan.

Bukan karena menyerah sepenuhnya, tapi karena kadang memang perlu jarak dulu dengan barang seperti ini. Kalau dipaksa terus, yang ada malah emosi. Apalagi kalau setiap dibuka rasanya ada saja yang kurang pas. Jadi tape deck Kenwood itu duduk manis dulu, menunggu aku punya mood dan tenaga untuk membukanya lagi.

Aku masih sesekali pakai untuk kaset-kasetku: Santana, Sadao Watanabe, Chrisye, dan lain-lain. Tapi memang ada rasa tidak puas dan tidak beres.

Aku ingat seorang kawan yang bilang bahwa biasanya tape deck-nya pakai karet berdiameter 15 cm. Tapi ya, yang namanya sedang males dan terlalu capek, akhirnya aku tidak ganti juga.

Usaha Coba-coba demi Tape Deck Kenwood

Sampai akhirnya sore ini aku buka lagi. Mumpung ada long weekend yang lebih long dari biasanya.

Tidak ada rencana besar sebenarnya. Cuma tiba-tiba ingin mencoba lagi. Aku bongkar pelan-pelan, lalu aku lihat lagi bagian karetnya. Di dalam hati aku ingin mencoba saran dari kawan yang bilang biasanya dia pakai 15 mm.

Selisih nomor 15 dan nomor 16 sebenarnya sangat kecil.

Waktu aku buka dan lepas mekaniknya, aku tekan-tekan sedikit pakai obeng. Dari situ mulai terasa, sepertinya karet nomor 16 ini memang terlalu besar. Karena terlalu besar, tegangannya tidak pas. Putarannya jadi tidak maksimal. Mungkin selama ini masalahnya bukan di ketebalan karet, tapi di diameter yang kurang tepat.

Akhirnya aku coba ganti dengan karet diameter 15 cm.

Dan ternyata, itu yang pas.

Begitu dipasang, rasanya langsung berbeda. Putarannya lebih enak. Tidak lagi mbliyut-mbliyut seperti sebelumnya. Tape deck kembali aku rakit, kaset aku masukkan, lalu tombol play aku tekan.

Akhirnya Kenwood ini kembali menghantarkan Chrisye Badai Pasti Berlalu versi Edwin Gutawa dengan maksimal.

Sekarang aku sedang mendengarkan lagi tape deck Kenwood itu. Rasanya menyenangkan sekali. Bukan cuma karena bisa mendengarkan kaset, tapi karena ada rasa puas setelah beberapa kali salah coba. Dari belt yang terlalu kecil, karet gelang yang mleyot-mleyot, karet nomor 16 yang ternyata kebesaran, sampai akhirnya menemukan bahwa karet nomor 15 adalah yang paling pas.

Barang tua memang begitu. Kadang menyebalkan, kadang bikin malas, tapi ketika akhirnya berhasil, yang kita dapatkan adalah kedewasaan yang meningkat.

Mungkin justru di situ letak asyiknya memutar kaset lagi. Bukan hanya mendengar musiknya, tapi juga berurusan dengan alatnya. Ada bagian yang harus dibuka, ada karet yang harus dicari, ada ukuran yang harus dicoba, ada sore yang habis untuk menekan-nekan belt pakai obeng.

Dan ketika semuanya kembali berjalan, suara kaset yang keluar terasa seperti hadiah kecil. Sore ini, sambil mengerjakan tugas menulis layaknya dosen, aku menghabiskan Badai Pasti Berlalu versi Edwin Gutawa, The Dance dari Dave Koz, Best of Hiroshima dari band jazz AS berisi orang-orang keturunan Jepang Hiroshima. Semuanya terdengar wajar.

Andai semua hal dalam hidup ini bisa dibereskan dengan semudah ganti karet belt!

More From Author

Mengisahkan Perjalanan dalam Himpitan Itinerary: Tentang Lintas Albania, Swiss dan Negara Lain

Apakah Sigit Susanto berubah? Pertanyaan ini bisa dilontarkan ketika kita mulai membaca beberapa esai perjalanan…

Menyaksikan Militansi Para Guru Bahasa Inggris di MAVEC 2026

Selain memiliki passion yang besar dalam mengajar bahasa Ingris, ternyata para guru punya militansi yang…

Alumni Dirayakan di Gedung Heritage Kampus Unair

Hubungan saya dengan kampus Universitas Airlangga hanya dua: UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tingi Negeri–legacy version-nya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *