Sendang Biru Farewell Outing

Akhirnya, terwujudlah apa yang sudah direncanakan. Pak Sugeng dan Transbahasa Translation Agency mengadakan incentive trip buat para penerjemahnya ke Sendang Biru. Bagi saya, yang secara khusus mengharukan dari incentive trip ini adalah karena Transbahasa juga meniatkannya sebagai sarana memperpisahani saya. Wah, what a benar-benar kehormatan yang membikin terharu. Bagaimana tidak, saya yang terbilang junior, baru 2 tahun di Transbahasa ini sudah mendapatkan perpisahan penghormatan sebegitu rupa.

Begini acaranya. Kami semua kumpul di gerbang politeknik negeri malang yang jalan veteran pada pukul 6. Saya datang jam 6.15, belum sarapan :D. Inilah yang patut disayangkan: saya sudah berencana mengajak Istri dan Xeno, tapi karena pagi itu kami kerepotan mempersiapkan ma”emnya Xeno dan lain-lain, akhirnya Xeno dan ibunya gak jadi berangkat. Setelah menunggu para peserta yang datang belakangan dan penjemputan dan lain-lain, akhirnya sekitar jam 7 bis berangkat (oh ya, kami pake bisnya Politeknik Negeri Malang, wapik bisnya).

Di perjalanan pak Sugeng langsung bertindak seperti seorang kepala pramugari dengan memperkenalkan Kapten dan co-Kapten “penerbangan” itu. Setelah itu menjelaskan perihal outing itu. Saya mendapat kesempatan ngomong. Setelah itu pak Sukono juga ikut ngomong sambil ngasih semacam nasihat dari seorang mantan pelaku (pelaku itu tuh!).

Perjalanan sangat lancar, setidaknya sampai Turen (bukan Turin!). Di Turen pak Sugeng turun ke ATM BCA di sebuah Indomaret. Mas Arif agak pusing dan akhirnya turun juga beli Antimo (awalnya bilang cuman mau cari udara segar!).

Nah, setelah Turen, begitu kami mulai memasuki kawasan yang berlika-liku, noak-naik, (padahal pemandangan mulai bagus!) mulailah para peserta perjalanan “bermabukan”. Terdengar suara:

“Tas kreseke maeng ndik endi?”

“Sopo mabuk?”

“Kok gak ngombe antimo sih maeng?”

“Wah, mas iki, ketokane gagah yo isok mabuk!”

Begitulah. Keadaan mulai sebentar-sebentar menegang saat ada anggota keluarga yang muntah-muntah al mabuk daratu. Tapi untungnya pak Sopir (Kapten Hendro) mengendalikan bis dengan nyamannya, sehingga goncangan gak terlalu dahsyat terasanya (cobak kalo tidak, bisa-bisa tambah banyak yang bermabukan!).

Nah, akhirnya sampailah kami ke pantai Sendang Biru. Bayangan saya, waktu dulu pertama kali dengar tentang pantai sendang biru, pantai itu pastilah pantai yang yah… kotor, berbau jemuran ikan, banyak perahu nelayan bersandar, dst, dsb, dllajr.

Ternyata, begitu sampai, Sendang Biru adalah sebuah pantai yang cukup indah. Pasirnya putih bersih berkilau :D. Di depannya tidak ada laut luas, karena di depannya langsung bisa kita lihat Pulau Sempu. Tidak ada bau amis ikan jemuran. Tidak ada kapal2 nelayan yang menurunkan ikan. Baru saya tahu kalau sebenarnya kegiatan pernelayanan tidak berlangsung di pantai sendang biru yang dipakai untuk rekreasi itu. Kegiatan pernelayanan ada di sebelah barat, di dekat Tempat Pelelangan Ikan.

Sementara begitu dulu, nanti kita lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *