Film terbaru dari seri Avatar (yaitu Avatar: Fire and Ash) hadir di luar radar saya. Kayaknya hari-hari ini terlalu banyak yang menyita perhatian sampai hadirnya film yang biasanya saya beri perhatian khusus pun tidak saya sadari. Saya tahunya dari perbincangan dengan kawan-kawan kampus di meja makan siang. Melihat ke belakang, selalu ada yang baru dari film-film Avatar (dan film-film James Cameron pada umumnya). Apa yang baru kali ini? Sedikit bocoran: yang baru kali ini tidak hanya teknologi, tapi perspektif dan empati.
Ketinggalan Beberapa Menit
Begitu ada kesempatan, saya pergi ke gedung bioskop sambil bertanya-tanya apa yang baru? Saya ketinggal beberapa menit pertama film ini. Saya tidak tahu apa yang muncul di layar pertama kali. Tapi saya ikhlas saja: toh film ini berdurasi tiga jam. Jadi ya … kehilangan 2-5 menit apalah artinya. Yang pertama kami lihat adalah krisis anak tengah: Lo’ak mematahkan busur ibunya, busur yang membawa memori para leluhurnya.
Lo’ak memang layak merasa menjadi masalah. Beberapa waktu terakhir dia mengalami permasalahan yang berdampak ke orang lain. Selain persoalan merusak busur tadi, di seri Avatar sebelumnya dia terlibat permasalahan yang berujung pada tewasnya abangnya. Bapaknya masih menganggap dialah penyebab kematian abangnya–yang notabene selama ini lebih biasa diandalkan. Terus dia juga “bersaudara” dengan “tulkun” (spesies sejenis paus versi Pandora) yang diasingkan karena dianggap menyalahi kode etik tulkun yang pasifis.
Saya memang kehilangan entah berapa menit pertama film ini. Namun, saya percaya otak kita punya kemampuan mengisi ruang-ruang kosong dan menghubungkan titik-titik kalau kita mau berusaha–meskipun hasilnya adalah pemahaman yang tidak bisa dipastikan akurasinya. Tapi tidak apa. Toh tidak sedikit orang yang menonton dari awal sampai akhir tapi tetap saja tidak mendapat pemahaman yang akurat. 🙂
Avatar Kali ini: Sedikit Gambaran (Awas Spoiler!)
Sebelum lanjut, saya persilakan kawan-kawan pembaca untuk melewati bagian ini karena mengandung spoiler. Sebelum sedikit meringkas, perlu disadari bahwa film ini punya banyak cabang plot. Ada beberapa jalur plot yang saling berkelindan:
- di satu sisi, ini adalah kisah Kolonel Quaritch 2.0 (versi Na’vi yang diisi kesadarannya yang sudah didownload–lihat Avatar: The Way of Water) yang ingin menangkap Jake Sully karena menjadi buron setelah kabur dan memimpin perlawanan Na’vi,
- ada juga kisah Kiri anak Dr. Grace yang bertanya-tanya tentang asal usulnya (siapa bapaknya?),
- ada juga kisah para pemburu “amrita” minyak tulkun yang ingin terus mendapatkan amrita dan sebelumnya pernah gagal dan kini dapat info bahwa ada pergerakan tulkun ke satu lokasi, dan
- ada juga Spider, anak Kolonel Quaritch, yang meninggalkan bapaknya dan memilih menjadi anggota keluarga Sully tapi tidak diterima Neytiri karena Neytiri masih memendam kebencian kepada kaum langit (alien dari bumi aka manusia).
Di Avatar: Fire and Ash, semua sub plot ini saling berkejaran seperti saling tidak mau didahului. Namun, seperti sebuah komedi romantik ala Love Actually, semua jelai-jelai plot ini terjalin menjadi satu dan membawa kebahagiaan. Tentu kebahagiaan ini sifatnay sesaat (kan memang begitu sifatnya film berseri?).

Barang Barunya: Desentralisasi Na’vi (Manusia?)
Klise rasanya kalau terus mengulangi bahwa dalam membuat film James Cameron biasanya juga mengembangkan teknologinya. Cobalah lihat bagaimana di setiap filmnya (antara lain Terminator 2, Titanic, Avatar, dll), James Cameron selalu mengoptimalkan teknologi sampai ke batas terjauhnya (bahkan terkadang harus mengembangkan teknologi tertentu).
Untuk seri Avatar, saya cenderung lebih tertarik pada aspek yang lain: aspek humanioranya. Kalau di film sebelumnya kebaruan itu ada pada kesadaran untuk mengurangi ableisme dan menyoroti komunikasi, kali ini agak beda lagi. Ada satu hal yang muncul hanya beberapa kali saja tapi benar-benar tampak kontras dan minta diberi perhatian khusus: dia mengajak kita melihat ke permasalahan yang lebih mendasar: sudut pandang.
Apa maksudnya sudut pandang menjadi sesuatu yang baru kali ini? Bukankah semua karya sastra pada prinsipnya membuat kita memasuki alam pikir orang lain dan mencoba memahami berbagai hal yang mempengaruhi keputusannya?
Dunia Monokrom + Low Angle dari Mata Tulkun
Di Avatar: Fire and Ash, memandang dari sudut pandang orang lain menjadi literal. Literally? Hal ini tidak terjadi di seluruh film, tapi di saat-saat kritis di mana kita perlu memandang dari sudut pandang tertentu. Salah satu momen paling awal adalah ketika kita melihat para tulkun datang dan berbicara kepada orang-orang Metkayina (melalui perantara Tonowari, kepala bangsa Metkayina, yang bertindak sebagai penerjemah). Selama beberapa detik, kita tidak melihat bagaimana paus berbicara dan Tonowari menerjemahkan. Sebaliknya: kita melihat dari sudut pandang Payakan, si tulkun kecil yang dikucilkan. Pandangan tampak hitam putih dan tidak ada suara selain gemuruh air.
Apa pentingnya momen beberapa detik ini? Kita para penonton manusia (khususnya yang bukan difabel) pastinya terbiasa berkomunikasi dengan gabungan suara dan gambar. Di satu momen yang beberapa detik itu, kita jadi harus melihat dengan cara yang berbeda. Yang terbiasa berkomunikasi dengan berbagai kenyamanan bunyi dan suara sekaligus jadi harus mengandalkan subtitle atau menebak-nebak dari konteks.
Momen yang beberapa detik itu meninggalkan kesan yang ganjil. Dia seperti terlihat out of place di tengah film yang suaranya menggelegar dan permainan warna-warninya selalu memukau (apalagi dalam versi 3D)! Namun, ketika yang out of place ini beberapa kali terjadi, dia menjadi semacam motif.
Dunia Low-Bat dari Mata Spider
Di kesempatan lain, kita juga bisa dunia dari sudut pandang Spider, si bocah manusia anak dari Kolonel Quaritch. Kalau di Avatar sebelumnya si Spider ini baru dimunculkan dan sempat menjadi masalah karena memilih untuk tidak tinggal bersama manusia melainkan memilih tinggal bersama Na’vi (meskipun itu artinya dia harus terus hidup dengan masker oksigen), di film ini dia punya peran lebih besar lagi dalam cerita. Ada cukup banyak momen penting ketika dia menjadi pusat cerita. Yang utama adalah ketika secara berulang-ulang dia digambarkan kehabisan oksigen. Ancaman kehabisan oksigen ini terus-menerus muncul dalam Avatar Fire and Ash dan ujungnya saya persilakan kawan-kawan pembicara melihatnya sendiri.
Pada momen-momen kritis kehabisan oksigen itulah kita melihat dunia Pandora dari sudut pandang yang lain. Kita melihat dari mata Spider, yang dunianya hampir selalu tertutup di balik masker yang juga merupakan layar dengan satu bagian berisi indikator sisa oksigen. Dan, seperti halnya kita yang merasa terancam ketika indikator baterei di smartphone kita sudah berwarna merah, begitu juga dengan Spider. Dia sempat sesak ketika tidur karena batereinya hampir habis dan suara peringatannya terus menjerit. Di satu titik, ketika dalam suasana habis kejar-kejaran, kita melihat bagaimana indikator itu terus menjerit dan akhirnya dari sudut pandang Spider dunia menjadi gelap.
Sama halnya dengan ketika dunia dipandang dari mata tulkun yang monkrom, gambar diambil dari sudut rendah (low angle). Kedua kondisi ini menunjukkan dunia dipandang dari mata yang sedang di bawah, dekat dengan permukaan air, atau ketika yang melihatnya sedang dalam keadaan terbaring karena pingsan.
Dunia yang dilihat dari Payakan dan Spider ini mewakili tepian. Yang dimaksud tepian atau periphery ini adalah bahwa dunia tidak dilihat dari tengah, yang dalam hal ini diwakili oleh bangsa Na’vi. Bangsa Na’vi, sebagai warga asli planet Pandora mirip dengan peran manusia di Bumi. Sekadar pengingat, secara teknis Pandora sebenarnya adalah bulan yang mengorbit planet gas Polyphemus. Dalam pandangan sekilas, kita merasa manusia adalah pusat alam, atau istilahnya antroposentris. Dengan menampilkan tulkun dan manusia bumi, kita jadi bisa melihat bagaimana dunia di Avatar Fire and Ash ini tidak hanya berpusat pada Na’vi. Dunia Pandora tidak lagi navosentris kalau diperkenankan.
Dunia Ruh lewat Tiga Mata
Selain melihat dari mata sosok-sosok non-Na’vi, kita juga melihat lagi alam lain yang juga perlu dipertimbangkan di planet Pandora, yaitu semacam alam roh. Dalam semesta Avatar, terdapat Eywa yang merupakan entitas spiritual yang menjaga alam dan disebut juga Great Mother (kalau tertarik membandingkan dengan Ruh Hutan/Deer God/Nightwalker di Princess Mononoke, silakan mampir ke sini). Namun, dalam kisah Avatar Fire and Ash ini, Eywa seperti menarik diri dari dunia. Tidak ada lagi menuju Eywa.
Salah satu subplot penting dari film ketiga ini adalah keresahan Kiri yang ingin mengakses Eywa kembali. Dia bertanya-tanya kenapa seolah-olah Eywa menolak untuk diakses. Dalam film kali ini, digambarkan bagaimana Kiri ini baru berhasil ketika Kiri dibantu saudara-saudara angkatnya untuk mengakses Eywa dan para leluhurnya. Eywa adalah penghubung antara bangsa Na’vi yang masih hidup dan para leluhur atau orang-orang yang telah mendahului mereka dan masuk ke alam roh (kita juga temukan motif semacam ini di Black Panther ketika mereka meminum air dari Tanaman Berbentuk Hati). Dalam film Avatar: The Way of Water, kita melihat bagaimana Kiri berulang kali mencoba menghubungkan “kuru” (organ tubuh mirip ekor yang dipakai para Na’vi menjalin koneksi dengan tanaman dan binatang) ke Pohon Ruh. Dalam film ketiga ini, Kiri berulang kali mencoba hal yang sama dengan harapan bisa mengakses Eywa di alam ruh.
Apa menariknya usaha Kiri menjangkau Eywa atau Bunda Agung di film ketiga ini? Kali ini, kita bertemu dengan kaum Manguan, sebuah kaum yang tidak lagi percaya kepada Eywa dan alam roh karena mereka merasa telah ditinggalkan Eywa. Sementara itu, Eywa juga semakin sulit diakses. Berulang kali Kiri hanya melihat cahaya (yang sepertinya merujuke ke Eywa) tanpa benar-benar bisa melihatnya. Padahal, Kiri sejak film Avatar kedua sudah digambarkan sebagai sosok istimewa yang berhasil membuat koneksi dengan alam ruh dan kehamilan Grace digambarkan terjadi secara magis karena kekuatan Eywa. Namun, ketika dia masuk ke alam ruh, kita mendapatkan gambarannya dari Spider dan Tuk Tuk. Padahal, kalau kawan-kawan ingat, Spider adalah anak manusia. Bahwa ada orang-orang lain yang sebenarnya tidak terlalu istimewa (manusia dan anak kecil separuh Na’vi separuh Avatar) tapi justru membantu kita penonton melihat alam ruh–hal ini benar-benar menunjeukkan sesuatu dari sudut pandang yang lain. Alam ruh tidak menjadi hak istimewa bagi Kiri atau para Tsahik saja.
Kembali ke pembahasan awal, hal-hal ini semua menunjukkan bahwa Avatar kali ini semakin kompleks. Dia tidak hanya mendekonstruksi peran manusia yang cenderung ingin memandang dunia berpusat kepada diri (antroposentris) seperti yang dilakukan pada Avatar pertama. Di Avatar kedua, kita melihat bagaimana tulkun atau ikan paus digambarkan memiliki cerita sendiri yang perlu dibela, meskipun semuanya masih diceritakan dari sudut pandang kamu Na’vi (atau “navisentris”). Di film ketiga ini, kita bahkan melihat dari mata “tulkun” yang posisinya digambarkan rentan tapi tidak sepenuhnya membutuhkan manusia sebagai tokoh penyelamat. Selain itu, situasi di film ketiga ini semakin kompleks ketika penonton diajak memandang dari sudut pandang manusia yang digambarkan kerentanannya.
Inilah bagian yang menurut saya berpotensi dilematis. Di satu sisi, kita melihat bagaimana film ini menunjukkan bagaimana dia inklusif terhadap siapa saja. Spider yang manusia kini diterima menjadi Na’vi meskipun terus dipertanyakan. Namun, di sisi lain, anak dari kaum kolonial yang melakukan invasi dan kini menjadi satu dengan penduduk pribumi akhirnya mendapat suara (padahal dia berpotensi dipakai oleh kaum kolonial untuk memudahkan jalan mereka menginvasi). Memang siapa pun berhak diterima dan tidak boleh dihakimi berdasarkan warna kulit, bentuk tubuh, dan dari mana mereka berasal. Namun, dalam konteks kolonial dan dalam wacana dekolonisasi yang berkembang dewasa ini, rasanya film Avatar kali ini mengandung kesan permisif kepada sesuatu yang berpotensi menguatkan kolonialisme.
Demikianlah kurang lebih Avatar Fire and Ash ini. Seorang kawan di kampus mengatakan bahwa film kali ini seperti bertempo cepat dan tiada henti. Setelah menonton, saya setuju. Temponya nyaris terus cepat dan tegang. Orang motor mungkin akan bilang film ini terus-terusan RPM tinggi, dengan bahan bakar oktan tinggi. Namun, dia juga memberikan momen-momen kecil yang tak urung membuat penonton bertanya-tanya dan merenung-renung untuk memikirkan dilema-dilema yang ditawarkannya.


