“Post-Apocalyptic Scenes,” Penonton, Kepedulian Politik, dan Gaza

Akhirnya datanglah kesempatan itu: bales komen dari Octanh. Terima kasih atas tanggapannya yang serius dan komprehensif, meskipun yang ditanggapi hanya pertanyaan-pertanyaan tercecer, yg saya kopi dari berondongan tweet saya hari itu.

Memang benar ada kategorisasi futuristis, post-apokaliptis, utopia, distopia, dan—yang lebih tua—fantasi. Kehati-hatian Anda untuk tidak mencampur-campurkan antara berbagai kategori ini—terutama antara film bencana dan post-apokaliptik—juga saya anggap akan banyak manfaatnya dalam menelaah film-film atau novel-novel semacam ini. Saya percaya, kalau kita ingin bikin tulisan yang komprehensif, menegaskan kembali posisi kategorisasi-kategorisasi itu penting dan diperlukan.

Dalam memberondongkan letupan-letupan pikiran saya itu, mungkin satu-satunya kategorisasi yang saya patuhi adalah post-apokaliptik. Itu pun saya bawa dengan asumsi bahwa kategorisasi tersebut dibuat oleh kritik/ilmuwan, yang seiring dengan semangat ilmu pengetahuan, cara kerjanya adalah mengelompok-kelompokkan sebelum akhirnya meneliti di bawah mikroskop. Artinya, para pembuat seringkali tidak mau terkungkung dalam kategorisasi-kategorisasi itu. Istilah “post-apocalypse” pun sebenarnya digunakan secara reduktif, menggunakan terminologi agama “apocalypse” atau “kiamat” atau “yaumul akhir,” meskipun pada kenyataannya bumi tidak benar-benar berakhir pada masa “post-apocalypse” itu. Yang berakhir hanya “peradaban manusia yang kita pahami selama ini.” Banyak pembuat film yang meracik film berdasarkan berakhirnya peradaban manusia yang kita pahami saat ini dengan berbagai cara. Ada yang menggambarkan kehidupan yang semakin habis (The Walking Dead termasuk di sini), tapi banyak juga yang menggambarkan bahwa pada titik tertentu, kehidupan akan “bertunas kembali” (seperti pada film Wall-E dan, yang baru, Snowpiercer). Bahkan, ada juga serial yang dimasukkan ke dalam “post-apocalypse” padahal yang rusak hanya Amerika—seperti dalam Jericho. Karena saya lebih tertarik kepada “pemandangan berakhirnya peradaban manusia yang kita pahami saat ini,” maka saya lebih menggunakan istilah “post-apocalyptic scenes.” Menurut saya, dengan begitu, kita bisa memasukkan banyak hal lain yang memenuhi syarat menjadi “pemandangan pasca-kiamat” ke dalam diskusi saya.

Terkait wilayah yang saya kritisi, saya lebih tertarik menyoroti hubungan antara film ini dengan khalayak penikmat. Dalam teori komunikasi ada satu setigita penting yang hubungan antara ketiga titiknya menjadi wilayah kritik. Ketiga titik itu adalah Pengirim Pesan, Pesan, dan Penerima Pesan. Kalau saya lihat, Mbak menyoroti antara Penyampai dan Pesan, sementara saya lebih tertarik melihat hubungan antara Penerima Pesan dan Pesan. Dari hubungan antara Pesan dan Penerima Pesan inilah tercipta makna. Saya setuju sekali dengan pendapat Mbak bahwa Pengirim Pesan (industri film) tidak ambil pusing dengan makna yang tercipta di pihak Penerima Pesan berdasarkan Pesan yang dikirim. Tapi, seperti sampean kritisi, ada kalanya, saking frustasinya saya dengan “kegagalan” fiksi ilmiah ini, saya menuntut Hollywood untuk tobat dan bikin film yg lebih bagus. Sebentar lagi kita ngomong soal kenapa saya menyebutkan “kegagalan.”

commtriangle

Menghubungkan dengan istilah “post-apocalyptic scenes,” karena yg menjadi sorotan adalah hubungan antara Pesan dan Penerima Pesan, maka yang lebih saya anggap penting adalah apa yang tampak di depan mata (“scenes”), bukan lagi kategorisasi yang ketat. Apa yang tampak di depan mata itu? Kerusakan, frustasi, putus asa, kesulitan hidup, atau berakhirnya makna kemanusiaan yang selama ini kita pahami. Itulah yang sama-sama tampak setelah terjadi tsunami, setelah serangan IDF ke Gaza, setelah penyebaran wabah zombie yg menyerang otak (The Walking Dead), setelah pengeboman 23 kota besar Amerika (Jericho), setelah pendinginan suhu bumi secara ekstrim (Snowpiercer), setelah penumpukan sampah di bumi (Wall-E), dsb.

Film-film yang saya sebutkan memiliki “post-apocalyptic scenes” ini memiliki rating cukup tinggi. Secara gampang-gampangan, saya bisa bilang bahwa banyak orang Amerika yang menikmati dan tersedot perhatiannya ke acara-acara ini. Tapi, yang  menjadi pangkal pertanyaan-pertanyaan saya, kenapa saat terjadi secara IDF ke Gaza—yang gambar-gambarnya di internet tak jauh dari gambar dalam film The Book of Eli atau The Road atau Wall-E—jumlah orang yang tersedot perhatiannya dan turut ke jalan tidak sebanyak penonton film-film itu?

Dengan asumsi itu, dan melihat kebijakan luar negeri Amerika terkait Palestina, saya merasa film-film post-apocalyptic Hollywood yang seperti ini gagal menjalankan fungsinya. Oh ya, kalau Anda beranggapan bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa karena studio2 di Hollywood itu pabrik film (=hiburan dan cari untung murni), di situlah menurut saya kita bisa menilik asal muasal teks-teks fantasi dan fiksi ilmiah. Dalam sejarahnya, fantasi dan fiksi ilmiah itu adalah genre yang politis. Fantasi paling sederhana dijadikan sarana untuk mengajarkan moral (kisah-kisah fantasi Grimms Brothers dan lain-lain bekerja seperti itu). Dan karya-karya fiksi ilmiah yang awal, seperti misalnya Frankenstein (yg masuk fiksi ilmiah karena adanya satu “barang baru”–yang diistilahkan Darko Suvin sebagai “novum”*–yang menjadikan kisah khayalan ini bisa dan absah mengaku diri ilmiah, dalam hal ini pengetahuan baru bahwa tenaga listrk bisa menghidupkan “daging” yg sudah mati) atau fiks-fiksi ilmiah dari Sovyet adalah karya-karya yang sarat kritik sosial dan politik. Karena itulah, saya berhipotesa bahwa ada kegagalan sistem ketika setelah melihat kemiripan antara gambaran kerusakan dan keputusasaan di Jericho dan Atlanta pasca wabah Zombie dengan Gaza pasca bombardir IDF, tidak banyak tampak gelora masyarakat Amerika untuk lebih bersimpati dengan turun ke jalan.

Saya jadi mempertanyakan kanan kiri: Apakah Hollywood-nya yang hanya terlalu ingin memanjakan imajinasi dan jualan film? Apakah para kritikus filmnya yang kurang menyoroti hubungan yang gamblang ini? Apakah media Amerika yang kurang memperhatikan sisi manusia dari segala konflik ini?**

Dari situlah sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini muncul. Tentu akan sangat salah menuntut produsen film-film post-apokaliptik sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Pasti banyak variabel yang menyebabkan kurangnya empati masyarakat dan para pimpinan Amerika terhadap kejadian nyata seperti ini. Tapi, tentu sangat tidak salah kalau kita mengharap masing-masing orang yang berpotensi punya andil untuk menjalankan sebaik-baiknya peran ini. Meskipun, memang, saya terlalu berlebihan dalam menyampaikan kritik, sampai meminta mereka berubah. Siapa juga saya? 🙂

Mungkin ini tidak terpisah dengan apa yang dikritisi Fredric Jameson dari era pascamodern ini (yang dia artikan sebagai era kapitalis tingkat lanjut). Karya-karya seni kehilangan kemampuannya menggugah perasaan dan secara umum kita tercerabut dari sejarah. Tidak tampak jelas lagi, kan, kenapa fiksi ilmiah itu begitu berbeda dari kehidupan sekarang tapi begitu banyak elemennya yang diambil dari kehidupan masa kini (dari mana lagi, toh kita belum tahu seperti apa masa depan itu)? Tidak lagi kita peduli bahwa pada masa Stalin, itu adalah cara aman mengkritik pemerintah. Film-film kehancuran hanya memberikan kita gairah singkat, tapi tidak menggetarkan dan mengajak terus merenungkannya. Karena itulah, kritikus bertugas menyoroti hubungan-hubungan yang tak tampak ini, mengingatkan penonton agar tidak terlalu nikmat berendam dan larut di dalam kolam kisah fiksi, mengajak penonton naik ke tepi kolam, dan menunjukkan kepada penonton bahwa kolam fiksi itu bisa dibandingkan dengan lautan yang ada di seberang lapangan sana. Pendeknya, tugas kritikus ini seperti tugas bidang “cultural studies” menurut Steven J. Venturino dalam buku The Complete Idiot’s Guide to Literary Theory and Criticism: “Cultural studies tries to ruin a good time.” 🙂

Bagi penikmat teks fiksi ilmiah di Indonseia (baik itu yang menikmati novel, komik, maupun filmnya), ini jadi kegiatan yang menarik. Penikmat yang ada di luar Amerika (yang tidak memiliki afiliasi politik dengan Partai Republikan maupun Demokrat, yang tidak dijejali CNN dan Fox News, yang tidak memiliki keterkaitan sejarah dengan membanjirnya imigran Yahudi pada akhir abad ke-19 dan masa Perang Dunia ke-2***) semestinya lebih bisa melihat hubungan ini dan terus bersikap kritis dan selalu curiga dengan daya tarik dan daya bujuk teks-teks fiksi ilmiah, khususnya yang berupa film Hollywood. Saya pribadi percaya ada–dan banyak–yang masih bisa diselamatkan dari film-film pasca-kiamat ini. Jelas-jelas, film-film ini dibuat oleh orang-orang yang mencurahkan pikirannya sedemikian rupa untuk mendapatkan cerita-cerita yang luar biasa dan mampu menjaga minat penonton. Dan terbukti The Walking Dead merupakan salah satu acara TV yang paling populer saat ini. Setiap pemutarannya di TV biasanya disertai diskusi tema-tema penting dalam episode yang bersangkutan, menghadirkan fans, kritikus, sekaligus bintang filmnya. Dari kemampuanya menarik penonton saja kita bisa meraba adanya keunggulan para penulis kisah dan pembuat film dalam mengetahui apa yang menarik penonton. Dan ini bukan kemampuan yang sepele. Jadi, selalu ada yg bisa diselamatkan—atau dipulung?—dari film-film ini. Kalau bukan moral cerita yang jelas, setidaknya ada hal-hal yang kalau kita kritisi bisa memberikan pemahaman yang lebih baik bagi kita dalam hidup, tidak hanya sekadar menghabiskan waktu di depan TV.

Maka dari itu, ketika banyak orang terpikat sebuah serial hebat dengan gambaran dunia yang rusak, ngeri, penuh darah dan mayat sementara tidak banyak orang yang tergerak saat melihat pemberitaan fakta tentang dunia yang rusak, ngeri, penuh darah, saya pun jadi bertanya-tanya. Apakah selama ini orang hanya tergerak dan tertarik kengerian yang cuma mimpi? Apakah kengerian yang nyata tidak lagi menarik?

Biarkan saya akhiri dengan kutipan dari novel The Road, karya Cormac McCarthy, ketika si bapak berpetuah kepada puteranya, di tengah dunia yang rusak:

Saat mimpi-mimpimu dipenuhi dunia yang tak pernah ada atau tak akan pernah ada tapi (ketika bangun) kamu bahagia lagi, itu artinya kamu telah menyerah. Tahu, kan, yang kumaksud? Kamu tidak boleh menyerah. Tak kan kubiarkan kamu menyerah.

Catatan:

* Darko Suvin adalah kritikus sastra asal Kroasia yang salah satu sumbangan terbesarnya adalah memetakan dan menelusuri struktur pembentuk karya-karya fiksi ilmiah. Pendeknya, Darko Suvin adalah bapak studi fiksi ilmiah.

** Mungkin Anda tahu, selama invasi IDF ke Gaza kemarin, media Amerika banyak dikritik karena tidak berimbang: saat menyoroti pemakaman beberapa korban anak-anak di pihak Israel mereka sangat serius, sementara pemberitaan terhadap korban di pihak Palestina sangat minim.

*** Agama maupun etnis dari para imigran Yahudi sendiri sebenarnya tidak menjadi soal buat diskusi kita. Yang menjadi soal adalah adanya–dan ini tidak sedikit!–orang-orang Yahudi yang mendukung secara mutlak pembentukan Negara Israel hingga mengarah kepada sesat pikir-sesat pikir tertentu, misalnya bahwa menentang kebijakan Negara Israel sama dengan mendukung penumpasan orang Yahudi, seperti halnya yang dilakukan oleh NAZI. Buntutnya, Amerika Serikat memberikan dukungan yang nyaris tanpa syarat kepada pemerintah Israel, termasuk yg baru tiga hari yang lalu, mendukung ketegasan Israel untuk tidak mengakui bahwa mereka memiliki atau tidak memiliki senjata nuklir padahal puluhan negara lainnya tidak mendukung Israel.

Written By

More From Author

(Terjemahan Cerpen) Mereka Terbuat dari Daging karya Terry Bisson

“Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Daging. Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Tak diragukan lagi. Kami…

Thank You, Dua Satu! Let’s Go Loro Loro!

Beberapa menit lagi 2021 sudah usai dan saya perlu menuliskan satu catatan kecil biar seperti…

(Resensi) Puser Bumi oleh Mas Gampang Prawoto

Berikut resensi terakhir dalam seri tujuh hari resensi. Kali ini kita ngobrol soal buku puisi…

1 comment

Mas Wawaaan~

Aku baru ngeh ada linkback-nya ini hari di dashboard. Padahal udah di-publish beberapa hari yang lalu. ._____________.

Ntar dulu aku baca baek-baek dan aku kunyah, ya.

Tapi betewe, aku udah lamaaa … banget gak nulis kritik. Belakangan ini aku lebih banyak belajar nulis dan berusaha nyari tahu sebenernya aku mau nulis apa. 😀 Jadi mungkin aku bakalan lebih lama buat ngunyah ini semua. ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *