Membaca Buku yang Sama dengan Warga Sekampung

Apa pentingnya membaca buku yang sama dengan semua orang? Kalau bukunya berbentuk novel dan novel itu kebetulan sedang booming, mungkin keuntungannya adalah kita akan menjadi orang yang tidak kudet, kurang update. Tapi kalau buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi yang penting, maka dampaknya adalah banyak hal, yang nyaris semuanya menguntungkan. Saya akan ceritakan satu kejadian semacam itu, yang digabungkan dengan sebuah mata kuliah sejenis MKU yang di kurikulum perguruan tinggi Amerika Serikat disebut mata kuliah English Composition (atau terkadang hanya Composition).

Pada tahun pertama ketika saya menjadi teaching assistant dan ditugasi mengajar untuk kelas Composition, program Composition & Rhetoric (program yang mengkoordinir dan menyelenggarakan pengajaran mata kuliah Composition untuk seluruh kampus) juga turut ambil bagian dari program One Book One Community (OBOC).

Apa itu One Book One Community? Program ini adalah program membaca sebuah buku bersama-sama di masyarakat yang disertai berbagai kegiatan dan ceramah terkait buku tersebut. Bagaimana cara mengadakan program membaca satu buku bersama (dalam waktu beberapa bulan)? Mudah saja: perpustakaan umum kota Fayetteville (Fayetteville Public Library) menyediakan banyak eksemplar buku ini untuk dipinjam anggota (dan anggota masyarakat secara umum).

Selain menyediakan buku untuk dipinjam dan dibaca dengan mudah, ada juga beberapa acara ceramah umum yang menghadirkan penulis buku tersebut dan orang-orang lain yang sekiranya relevan dengan topik bahasan buku tersebut. Ceramah ini diadakan di beberapa tempat. Sebagian di aula perpustakaan umum, dan sebagian lagi di salah satu auditorium kampus. Untuk melengkapi ceramah kampus ini, si penulis juga biasanya diundang untuk berbicara di radio lokal.

Tentu saja, selain acara yang menghadirkan penulis dan pembicara yang menguasai topik tersebut, ada juga kelompok-kelompok diskusi kecil yang pertemuannya diadakan di perpustakaan umum kota.

Pendeknya, selama beberapa bulan, masyarakat akan diakrabkan dengan sebuah buku, topik bahasannya, dan sekaligus penulisnya. Semoga sekarang jelas apa maksud dari namanya: One Book One Community. Kasarannya, Sekampung Satu Buku.

Buku macam apa yang kiranya bisa dipakai secara bersama-sama dan sampai menimbulkan perubahan atmosfer sosial seperti itu? Pada tahun pertama saya mengajar Composition itu, buku yang dipakai adalah The Working Poor karya David K. Shipler. Buku ini merupakan hasil observasi Shipler atas warga Amerika Serikat yang terjebak dalam kemiskinan bukan karena mereka malas bekerja, melainkan karena kondisi hidup mereka tidak memungkinkan bagi mereka untuk bangkit dari jeratan kemiskinan–mereka bekerja tapi gaji yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membuat mereka hidup makmur. Bisa dibilang, buku ini menentang slogan “American Dream” atau semboyan “di Amerika, rajin bekerja pangkal kaya.” Bertahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1987, David K. Shipler pernah meraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize untuk karya Non-Fiksi umum.

Bagaimana bentuk keikutsertaan masyarakat kampus dalam program One Book One Community ini? Di kampus, keikutsertaan dalam program OBOC ini dikelola oleh program Composition & Rhetoric, khususnya untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Composition 1. Mata Kuliah Composition 1 ini adalah mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa semester 1 (kecuali kalau mereka sudah mengambil mata kuliah ini ketika masih SMA–ya, yang seperti itu memungkinkan di Amerika, buat anak-anak pintar dan rajin di SMA). Dalam Composition 1, mahasiswa mempelajari keahlian menulis tingkat dasar, yang meliputi ketrampilan merangkum, mensintesis, menganalisis retorika, dan membuat tulisan argumentatif berbasis riset.

Dalam mata kuliah yang tujuannya dan tugas-tugasnya jelas inilah buku The Working Poor diselipkan. Beberapa instruktur (sebutan untuk mahasiswa S2 dan S3 yang kebagian tugas mengajar Composition 1, termasuk saya) memilih untuk menugaskan mahasiswa untuk membaca 1 bab setiap minggunya dan menggunakannya untuk diskusi kelas. Instruktur yang lain menugaskan mahasiswa membuat makalah sintesis atau analisis retorika berdasarkan bagian-bagian buku ini. Dan ada pula instruktur yang menugaskan mahasiswa membuat tugas akhir semester berupa tulisan argumentatif berbasis riset dengan topik warga miskin yang bekerja dan wajib menggunakan buku The Working Poor sebagai salah satu rujukan. Pada akhir semester, tulisan para mahasiswa tersebut dilombakan dan pemenangnya tentu akan mendapatkan hadiah menarik.

Selain itu, para instruktur juga memberi kesempatan para mahasiswa untuk mendapatkan poin tambahan kalau menghadiri salah satu acara yang menghadirkan si penulis atau acara-acara lain di kota Fayetteville (baik itu yg dilaksanakan di kampus maupun yang dilaksanakan di perpustakaan umum kota).

Dengan program ini, ada kesempatan bagi masyarakat sekota (tentunya yang suka membaca) untuk memfokuskan perhatian pada satu topik yang sama dan terlibat dalam diskusi-diskusi produktif dan berbagi gagasan hasil pembacaan mereka. Pada saat-saat seperti ini, kita merasakan bahwa tidak selalu melakukan hal yang sama dengan orang lain itu berkesan negatif. Meskipun kita melakukan hal yang sama, membaca hal yang sama, tetap saja yang terolah di pikiran kita (dan keluar dari mulut kita) tetap unik. Dan, bisa saja kita melewatkan hal-hal tertentu dari sebuah buku, yang akhirnya akan kita ketahui karena kita meluangkan waktu mendengar hasil pembacaan orang lain.

Saya membayangkan ini bisa menjadi satu kegiatan yang menarik untuk diadakan di kota-kota di Indonesia. Mungkin dengan begini kita bisa meluangkan waktu membaca buku yang sama dan berbagi pandangan. Sepertinya, diskusi yang berporos pada buku, sebuah teks yang jelas rujukannya, akan jauh lebih menarik dari diskusi-diskusi yang hadir hanya karena dipantik oleh ujaran kontroversial seorang tokoh publik yang selanjutnya viral dan berkembang menjadi obrolan-obrolan media sosial yang seringkali terjadi bukan dengan rujukan yang jelas, tapi sikap keberpihakan politis tertentu (yang seringkali mirip jingoisme).

Untuk proyek perdana kita, kira-kira buku apa yang tepat, Sodara?

 

2 Comments

  1. machungaiwo says:

    Nah ini ide menarik. Saya menerapkannya di kelas2 saya yang harus membaca bab tebal dan rumit. Kalau dibaca satu grup lalu masing2 anggota mensharingkan, dapatnya lebih banyak. Nah ini juga bisa diterapkan untuk membaca buku yg tebal dan padat, kayak “Brainwashing” yg sedang saya baca. Kalau dibaca bersama2, lalu dibagikan./dibahas, masing2 akan dapat wawasan yang lebih banyak.

  2. […] Membaca Buku yang Sama dengan Warga Sekampung […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *