Tips Elevator Speech atau Elevator Pitch

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti pelatihan bernama DIES NMT LEAP 2026, yang salah satu eventnya adalah kompetisi elevator speech. Saya tidak menang dalam kompetisi presentasi 3 menitan itu. Namun, banyak hal yang saya pelajari dari situ. Dan, karena inti dari elevator speech ini adalah pemanfaatannya dalam momen-momen tertentu, kalah lomba pun tak jadi soal. Yang penting kan nanti kita bisa lakukan pada saat momennya tiba untuk elevator speech itu.

Apa itu DIES NMT LEAP 2026

Tapi eh tapi, sebelum kita ngomong soal elevator speech atau elevator pitch, boleh dong saya ceritakan sedikit tentang program pelatihan itu sendiri. Ini sesuatu yang merupakan upgrade dalam perjalanan saya di dunia pendidikan tinggi. Pelatihan ini diperuntukkan bagi para pimpinan perguruan tinggi dari berbagai level. Panitianya sendiri adalah empat dosen dari Universitas Kristen Petra (Bu Sinta, Pak Josua, dan Pak Vido) dan Universitas Surabaya (Bu Maria) plus seorang tenaga kependidikan dari UK Petra (Pak Dimas) dengan pendanaan dari DAAD, dinas pertukaran akademik Jerman.

Nah, para dosen-dosen di kepanitiaan itu adalah alumni program IDC atau International Deans Course (program pelatihan bagi pimpinan perguruan tinggi) yang diadakan oleh DAAD. Program yang saya ikuti ini adalah versi NMT (National Multiplication Training) atau program penyebarluasan hasil training para alumni IDC buat dosen-dosen lain di Indonesia.

Pelatihan ini diadakan dalam dua fase, yaitu Fase Surabaya dan Fase Solo. Di Fase Surabaya, kami dibekali dengan beberapa hal, termasuk penyiapan Project Action Plan. Sementara itu, fase Solo adalah juga terdiri dari beberapa materi pembekalan plus pelaporan hasil pelaksanaan Project Action Plan itu.

Mestinya sudah jelas ya kenapa ini saya sebut upgrade buat saya? Sebagai info, sejak 2023 lalu, saya dapat tugas tambahan menjadi Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama di kampus saya ini. Namun, kita tahu, yang namanya jadi “pejabat” perguruan tinggi itu tidak ada pendidikannya. Kita belajar dengan mendengar dari senior, membaca sendiri dari buku-buku yang bisa kita jangkau, dan ikut pelatihan-pelatihan. Nah, kebetulan pelatihan yang pernah saya ikuti cukup minim–dan setelah menjadi wakil rektor itu saya belum pernah ikut pelatihan lagi.

Inilah pelatihan leadership pertama yang saya ikuti setelah mendapat tugas tambahan tersebut. Pelatihan leadership dari DIES NMT ini mencakup perihal manajemen perguruan tinggi, keuangan, akreditasi, integrasi AI dalam pendidikan tinggi manajemen konflik, hingga cara mendapatkan hibah internasional. Dan agar tidak berhenti pada pelatihan saja, kami pun harus menjalankan sebuah program yang dikelola dengan skema PAP atau Project Action Plan.

Inilah yang saya sebut upgrade: mendapatkan pelatihan mengenai kepemimpinan sambil juga mempraktikkan sebagian dari materi pelatihan itu ke dalam proyek yang saya jalankan bersama tim saya di Universitas Ma Chung.

Elevator Speech, barang apa itu?

Salah satu tugas yang menyertai Project Action Plan yang saya jalankan itu adalah “elevator speech”. Apa sih definisinya? Seperti namanya, “elevator speech” adalah pidato di “elevator” atau lift. Pidato ini gagasan awalnya adalah mempresentasikan gagasan secara cepat agar bisa dilakukan dalam perjalanan di dalam lift ketika naik dari lantai 1 hingga lantai sekian (mungkin lantai 20 tempatnya para CEO itu).

Dengan kata lain, “elevator speech” adalah pidato singkat yang bisa merangkum nilai utama dari gagasan atau program yang kita ajukan. Bila kita bisa menyajikan elevator speech ini dengan bagus dan meyakinkan, maka si CEO yang muncul dari dracin itu pun bisa menyetujui atau membeli gagasan kita.

Sebenarnya ada istilah-istlah lain untuk menyebut “elevator speech” ini. Di almamater saya, University of Arkansas, ada lomba yang rutin diadakan mulai sekitar tahun 2015-an (saya bisa salah detailnya) yang disebut 3MT atau 3-minutes research poster presentation. Lomba ini diadakan oleh Program Pasca Sarjana di kampus itu untuk menantang para mahasiswa S2 dan S3 untuk mengkomunikasikan riset mereka secara singkat dan meyakinkan. Di Rochester Institute of Technology di Dubai, lomba serupa disebut 3-Minutes Challenge.

Yang saya ikuti dalam pelatihan DIES NMT LEAP 2026 kemarin adalah semacam itu. Bedanya, kami tidak mempresentasikan riset. Yang kami presentasikan adalah hasil pelaksanaan Project Action Plan yang kami jalankan sejak bulan Maret di fase pertama pelatihan ini.

Persiapan melakukan “elevator speech” (dokumentasi Panitia DIES NMT LEAP 2026

Cara Melakukan Presentasi Kilat 3 Menit

Tibalah waktunya kita sampai ke cara melakukan presentasi 3 menit atau elevator speech yang berhasil. Sebagai disclaimer, ini bukan hasil dari pengalaman dan kebijaksanaan saya ya. Saya sendiri tidak menang di kompetisi itu. Namun, ini dari sumber-sumber di internet yang berhasil saya rangkum.

Menyiapkan struktur

Kita perlu membagi struktur elevator speech kita ke dalam 3 bagian tergantung pada presentasi kita. Kalau yang kita presentasikan adalah proyek, maka tiga bagian itu adalah berikut:

  1. Hook (30 detik) – Mengenalkan diri secara singkat dan menyampaikan permasalahan yang menuntut diselesaikan. Boleh dengan storytelling singkat yang intinya pada kenapa program atau penelitian ini perlu dilakukan
  2. Core (2 menit atau 120 detik) – Menyampaikan langkah-langkah yang kita lakukan dalam program tersebut. Sebutkan tolok ukur yang dipakai untuk menilai keberhasilan
  3. Close (30 detik) – Kita sebutkan hasil akhir dari program yang kita buat dan memberikan semacam simpulan final.

Struktur ini bisa kita ubah-ubah sesuai bentuk presentasi kita. Kalau kita presentasi tentang diri (saat melamar pekerjaan), kita bisa menyesuaikan apa yang akan kita masukkan ke dalam Hook, Core, atau Close-nya.

Menggunakan kata-kata keseharian

Saat melakukan elevator pitch atau presentasi kilat, kita perlu menggunakan kata-kata yang siapa saja bisa memahami. Kita perlu menerjemahkan jargon-jargon yang ada di dalam proyek kita ke dalam bahasa sehari-hari.

Ingat, kita perlu menghindari penggunaan jargon. Kenapa begitu? Karena jargon akan membuat orang bertanya-tanya–apabila mereka tidak memahami. Dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala lawan bicara itu akan mengganggu masuknya informasi yang ingin kita sajikan.

Latihan

Ini yang wajib dilakukan kalau struktur dan isi sudah siap. Ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan dari latihan:

  1. Latihan akan membangun muscle memory kita. Kasarannya, kita akan hafal.
  2. Latihan akan menunjukkan di bagian-bagian mana kita mungkin masih lemah
  3. Latihan akan membantu kita mengetahui bagian-bagian yang perlu kita berikan penekanan.

Itulah tiga hal yang wajib kita siapkan sebelum melakukan elevator speech atau presentasi kilat 3 menit. Selanjutnya, yang perlu kita lakukan adalah menentukan apa yang ingin kita presetasikan dalam waktu 3 menit itu: proposal program, proposal penelitian, presentasi kualitas diri untuk melamar pekerjaan, dan lain sebagainya.

Pada prinsipnya, skema elevator speech ini bisa dipakai untuk kebutuhan apa saja dan durasi berapa saja. Ada kalanya dalam melamar pekerjaan, kita diminta menceritakan tentang diri kita dalam waktu 1 menit. Itu juga sesuatu yang wajib dilatih oleh para fresh graduate. Tanpa kesiapan semacam itu, kita tidak tahu apa yang bisa kita sajikan dalam waktu singkat semacam itu.

Baiklah, tibalah saatnya kita akhiri postingan yang luar biasa ini. Selanjutnya, saya ingin dengar dari kalian, apa yang ingin kalian presentasikan dalam waktu hanya 3 menit. Kalau siap, silakan komen di blog ini atau kirim email ke saya.

Sebagai penutup postingan ini, perkenankan saya berikan sesuatu yang tidak nyambung langsung dengan elevator speech tapi menyenangkan buat saya. Berikut ini “foto” kelompok saya waktu mengikuti DIES NMT LEAP 2026 kemarin. Ini gambar paling lucu yang pernah saya lihat dari rangkaian program itu!

Buah karya Pak Roy dari Multimedia Nusantara Polytechnic untuk penampilan kami di Cultural Night

More From Author

Petualangan Belt: The Epic of Tape Deck Kenwood

Beberapa waktu belakangan ini aku memang beberapa kali menulis soal kembali memutar kaset. Rasanya yang…

Mengisahkan Perjalanan dalam Himpitan Itinerary: Tentang Lintas Albania, Swiss dan Negara Lain

Apakah Sigit Susanto berubah? Pertanyaan ini bisa dilontarkan ketika kita mulai membaca beberapa esai perjalanan…

Menyaksikan Militansi Para Guru Bahasa Inggris di MAVEC 2026

Selain memiliki passion yang besar dalam mengajar bahasa Ingris, ternyata para guru punya militansi yang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *