Update Ubuntu (16.04) dan Libreoffice Terbaru (versi 5.1.x)

Tidak ada postingan sastra atau budaya atau terjemahan lagu untuk minggu ini, Saudara-saudara. Tapi, saya tetap ingin berbagi dengan Anda seperti biasa, kali ini tentang sistem operasi merdeka atau free software. Dalam kesempatan ini, saya ingin memberi beberapa update yang semoga tetap memberi Anda semangat untuk mencoba sistem operasi berbasis GNU/Linux.

Pertama, Ubuntu 16.04 (Xenial Xerus) sudah keluar. Banyak sekali update di sana sini dan Ubuntu terasa semakin nyaman dan mudah saja, dan kembali kepada komitmennya untuk menjaga kemerdekaan kliennya. Seminggu yang lalu saya menginstall PC saya di rumah dengan Ubuntu. PC yg saya maksud ini adalah PC yang pernah saya tulis riwayat pembelian dan ugrade processornya itu. Dengan Ubuntu, komputer ini tetap cepat dan indah. Instalasinya juga sangat gampang dan cepat. Tujuan saya menginstal Ubuntu baru adalah untuk mempersiapkan komputer itu sebelum menjualnya.

Keuntungan pakai Ubuntu di komputer tua (Inter Core2Duo) dengan hard drive 80GB adalah: Pemrosesan data cukup cepat, gambar terlihat indah, dan tidak ada masalah dengan kekurangan ruang penyimpanan. Untuk Windows 7, setelah beberapa bulan, hard drive 80GB itu nyaris penuh karena update-update-nya. Sekarang, dengan Ubuntu, 40GB untuk sistem operasi saja sudah lebih dari cukup, dan 40GB untuk penyimpanan data sudah lebih-lebih.

Ya, komputer ini sudah siap dijual, atau dihibahkan!

Oh ya, soal kemerdekaan Ubuntu: beberapa waktu lalu Stallman mengkritik Ubuntu karena secara otomatis sistem pencari aplikasinya juga mencarikan item di Amazon. Stallman menganggap Ubuntu mengkompromikan kemerdekaan pengguna. Kali ini, Ubuntu tidak secara otomatis menghidupkan fitur pencarian itu. Pengguna boleh mengaktifkannya kalau berkenan. Kritik diterima dan ditanggapi dengan baik.

Kedua, Libreoffice yang terbaru, yaitu LibreOffice 5.1 baru saja diluncurkan. Dan versi baru ini lebih asyik saja. Dia tetap stabil, tetap menggunakan standar kenyamanan mengetik (dengan menu klasik di atas–tidak seperti Microsoft Word yang memakai “ribbon” itu), dan ada beberapa tambahan penting. Satu tambahan penting yang layak disebut di sini adalah adanya pilihan “Hide Wide Space” atau “Sembunyikan bidang putih.” Fitur ini menjadikan Libreoffice mampu menyembunyikan batas antara halaman satu dengan halaman selanjutnya. Dalam MS Word, Anda biasanya tinggal nge-klik batas antar halaman sehingga kedua halaman itu seperti menyambung. Dalam Libreoffice, Anda perlu mengklik sebuah menu. Tapi hasilnya tetap sama.

"white space" atau "ruang putih"
“white space” atau “ruang putih”
"ruang putih" hilang
“ruang putih” hilang
Lewat menu
Lewat menu

Selain itu, Microsoft Word sekarang sudah memiliki fitur bawaan mampu membaca .odt (atau format file asli dari Libreoffice). Jadi, meskipun Anda mengetik di Libreoffice dan menyimpannya dalam format .odt, Anda tidak perlu kuatir tidak bisa membukanya di Ms. Word. Anda tetap bisa membukanya! Semakin tidak perlu saja menyimpan file dalam format .doc (1997/2003) di Libreoffice. Dan bagi saya ini juga berarti tidak perlu lagi mengetik di MS. Word.

Kalau Anda termasuk orang yang mengetik di MS Word yang Anda dapatkan dengan membeli laptop, mungkin sekarang waktunya mencoba Libreoffice dan merasakan berbagai kenyamanan dan kemudahan kustomisasi-nya. Kalau Anda orang yang memakai MS Word hasil pinjaman dari teman (ehem!), saya undang Anda untuk menggunakan Libreoffice yang tidak perlu meminjam, gratis dan merdeka, dan tidak melanggar hukum manapun.

Kalau sudah siap mengunduh Libreoffice, silakan mampir ke sini.

Written By

More From Author

(Terjemahan Cerpen) Mereka Terbuat dari Daging karya Terry Bisson

“Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Daging. Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Tak diragukan lagi. Kami…

Thank You, Dua Satu! Let’s Go Loro Loro!

Beberapa menit lagi 2021 sudah usai dan saya perlu menuliskan satu catatan kecil biar seperti…

(Resensi) Puser Bumi oleh Mas Gampang Prawoto

Berikut resensi terakhir dalam seri tujuh hari resensi. Kali ini kita ngobrol soal buku puisi…

4 comments

permisi mas , saya mau tanya ttg linux , masih sangat awam nih 🙂

saya punya komputer dengan OS windows 7 32 bit , prosesor intel core 2 duo 2.5ghz , ram 2gb, harddrive 100gb , vga nvidia GeForce 9300 , apakah spec ini sdh cocok untuk change OS ke distro linux (ubuntu , redhat , kali , backtrack) ?

kalau mau pakai notebook yg running smoth dgn OS linux , ada rekomendasinya mas ? kalau bisa yg harganya dibawah 4 juta 😀 , biar saya gag salah beli

kalau searching di google , ada beberapa notebok yg gag runnig smooth kalau pakai linux (prosesor gampang panas , sering low batt , lcd sering ngeblink kalau pakai vga nvidia optimus)

Halo, Mas Nur.

Pertama-tama, saya juga harus mengaku kalau pengetahuan saya tentang Linux cuma terbatas pada desktop (pengguna komputer biasa). Dan itu pun kayaknya tidak ahli-ahli banget. Kalau memang sampai ada masalah, biasanya saya bermodal googling. 🙂

Untuk komputer sampean, menurut saya itu spec-nya sudah sangat bagus untuk Linux. Meski begitu, kalau memang ingin yang smooth dan stabil, saya menyarankan Anda pakai Linux yg versi ringan, misalnya Linux Mint XFCE atau Mate. Kalau Ubuntu, coba pakai yang Xubuntu.

Terus terang, saya tidak pernah pakai Redhat (kayaknya Redhat sangat populer buat yg pengetahuan Linux-nya lebih dari sekadar pengguna akhir desktop/laptop seperti saya. Kalau programmer atau ahli jaringan, mungkin Redhat sangat bagus.

Saya sendiri, mohon maaf, tidak tahu spec seperti apa yg bisa sampean dapat dengan dana 4 juta. Beberapa tahun terakhir sy tinggal di Amerika. TAPI, menurut pengalaman saya, dengan laptop bekas yg prosesornya Core2Duo dengan memori 2 atau 3 GB saja, Linux Mint XFCE jalan dengan sangat mulus dan tidak ada masalah sama sekali dengan “smoothness” atau low bat.

LCD nge-blink biasanya terjadi kalau desktop environment Linux yg dipakai memang butuh kartu grafis tinggi. Kalau sampean pakai Linux Elementary OS (yg sangat mirip Mac itu), misalnya, mungkin komputer dengan specs sampean itu akan nge-blink sesekali kalau pindah dari satu window ke window yang lain.

Untuk lebih nikmatnya, silakan download ISO linux (sy anjurkan coba dulu yg XFCE, paling bawah) dan burn ke DVD atau ke jump drive. Coba jalankan secara live (tanpa perlu install). Sampean coba review dulu apakah nyaman. Kalau ada kesempatan lagi, coba yang lebih bagus grafisnya (Cinnamon). Silakan putuskan mau pakai yg mana sebelum sampean install ke komputer.

https://www.linuxmint.com/download.php

Semoga sukses dan selamat datang di dunia merdeka! 😀

Hello there I am so delighted I found your blog page, I really found you by error, while I was looking on Bing for something else, Anyways I am here now and would just like to say thank you for a tremendous post and a all round interesting blog (I also love the theme/design), I don’t have time to read through it all at the minute but I have bookmarked it and also added your RSS feeds, so when I have time I will be back to read more, Please do keep up the superb job.|

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *