Mengingat “Imigran Pertama” yang Tersingkir di Museum Sejarah Hidup Shoal Creek

Apa terjadi setelah melewatkan monumen yang merayakan pembangunan Interstate sepulang dari simposium di Manhattan, Kansas, itu? Saya cukup kecewa. Sekadar mengingatkan saja, saya sudah lama sangat tertarik dengan konsep sistem interstate yang memudahkan banyak hal itu. Sayangnya, di satu-satunya rest area monumental yang memperingati proyek agung Amerika Serikat itu, saya melewatkannya karena saya tidak tahu. Bagaimana saya mengobati kekecewaan itu? Saya memutuskan untuk mencari sesuatu yang sama-sama monumentalnya yang ada di pinggir-pinggir jalan yang kami tempuh itu. Saat berhenti di pom bensin, saya menyempatkan searching asal cepat untuk mendapatkan tempat yang bisa diampiri.

Setelah menunggu sesaat, akhirnya saya menemukan sebuah tempat yang disebut Shoal Creek Living History Museum, sebuah museum yang konon berupa rekonstruksi desa seperti yang dihuni para pionir. Di internet saya lihat bahwa posisi desa museum itu di luar kota Kansas City, tepatnya di sebelah utaranya kota Kansas City. Saya lihat sekilas dan tampaklah bahwa kami nanti akan sampai di sana pas jam makan siang. Tak jauh dari sana juga ada restoran halal. Maka kami pun memutuskan untuk menuju tempat tersebut.

Kansas City adalah kota yang unik. Kota ini terbelah menjadi dua. Satu bagian masuk ke wilayah negara bagian Missouri dan satunya lagi di negara bagian Kansas. Uniknya, Kansas City yang lebih ramai justru yang ada di bagian Missouri. Aquarium, Lego Land, dan lain-lain ada di bagian Missouri itu. Fenomena kota dibagi berdua seperti ini juga ada di beberapa tempat lain di Amerika Serikat, salah satunya adalah St. Louis, yang dibagi menjadi St. Louis Barat dan St. Louis Timur.

Maka, karena sudah diputuskan akan ke desa historis pionir itu, saya harus mengambil Interstate ke arah kiri beberapa mil di luar Kansas City. Jalan yang kami tempuh awalnya mengarah ke utara, melewati hutan-hutan, tapi kemudian jalan menekuk sedikit demi sedikit dan kami pun akhirnya berjalan lurus ke timur. Tak begitu lama sejak mengambil belokan ke kiri tadi, kami harus keluar dari Interstate dan masuk ke jalan agak kecil. Dengan dibimbing oleh GPS, kami pun tiba di taman yang disebut desa historik pionir itu.

Hanya ada papan petunjuk di luar, yang juga menyediakan brosur-brosur yang memungkinkan kami menelusuri museum berbentuk desa itu sendiri. Selain kami sekeluarga, tidak ada lagi orang di kawasan tersebut. Siang sangat cerah tapi udara terasa dingin, dan di perbukitan itu rasanya semakin dingin lagi.

Setelah memastikan bahwa memang tidak ada orang yang menjaga tempat ini, saya dan istri serta anak saya pun akhirnya memasuki. Kawasan ini seperti sebuah taman yang luas. Kami melewati gerbang dan kemudian harus berjalan dulu beberapa saat di atas jalan berkerikil membelah lapangan rumput yang berbukit-bukit. Saat berjalan di atas jalan berkerikil itulah saya mulai melihat seperti apa desa historis pionir itu: bangunan-bangunan rumahnya terbut dari kayu dan rata-rata terdiri dari satu atau dua lantai. Ada cerobong asap perapian. Sebuah bangunan yang ada di tepi sungai tempak memiliki kincir air. Mungkinkah itu penggilingan bertenaga air? Sangat mungkin.

Ketika tiba di sana itulah saya melihat sendiri bangunan-bangunan rumah kecil itu seperti desa yang ditinggalkan. Tidak ada seorang pun di sana selain jalan-jalan tanah yang rapi dan bangunan-bangunan rumah yang tak berpenghuni. Kami adalah satu-satunya pengunjung, dan ganjil sekali rasanya berada di tempat seperti ini, seperti di sebuah desa yang seluruh penduduknya diculik alien dari angkasa luar.

Dua semester sebelumnya saya mengikuti sebuah mata kuliah berjudul Novel Barat Amerika Serikat. Novel-novel Barat ini adalah novel-novel yang berlatar di kawasan-kawasan yang ada di sebelah Barat sungai Mississippi, yang mengesankan kehidupan di tepi peradaban, baik pada masa lalu maupun pada masa kini. Novel-novel semacam ini memiliki tema membuka lahan atau mengawali hidup di tempat yang baru atau menempuh beratnya hidup. Salah satu novel yang saya baca untuk kelas tersebut adalah novel Ron Hansen yang berjudul The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford. Novel yang berlatar abad ke-19 ini berlatar di Kansas City. Saya bayangkan, setidaknya pada abad ke-19 itu, ketika Jesse James masih berkeliaran itu, rumah-rumah semacam yang kami kunjungi di museum historis itu sangat lazim.

Kansas City adalah termasuk kota Amerika Serikat yang pengembangannya masih baru. Pada pertengahan abad ke-19 itu, masih terjadi perang antara Angkatan Darat Amerika Serikat dengan suku-suku asli seperti Sioux dan lain-lain yang menghuni kawasan padang-padang Kansas. Pada masa itulah terjadi perburuan bison besar-besaran untuk diambil bulunya, yang merupakan bagian dari upaya sistematis memojokkan para penduduk asli yang hidupnya berpindah-pindah di padang-padang Kansas dan mendapatkan asupan protein terbesar dari daging bison yang sesekali mereka buru itu.

Di desa historis itu, sepulang dari sebuah simposium di mana saya mempresentasikan tentang sebuah novel detektif karya Diana Abu Jaber yang mempertanyakan identitas (dan mudah dihubungkan dengan persoalan identitas Amerika Serikat, khususnya di kalangan para imigran), saya berhadapan dengan tata ruang, arsitektur, dan kenangan akan masa-masa awal pendudukan orang Eropa di kawasan Barat Amerika, di kawasan perbukitan Dataran Agung (Great Plains), sebuah pendudukan yang diwarnai dengan pembantaian dan penyingkiran penduduk asli yang telah puluhan ribu tahun meninggali kawasan tersebut. Kalau di makalah itu saya berbicara tentang novel yang bisa dihubungkan dengan para imigran terakhir yang mendatangi tanah Amerika, di desa historis itu saya melihat sebuah perayaan akan masa-masa tersingkirnya para imigran pertama, yaitu para penduduk asli yang menurut ilmu antropologi merupakan kelompok yang berpindah dari kawasan Asia ketika dataran Amerika dan Asia masih terhubung, ketika Selat Bering belum jadi selat.

 

Written By

More From Author

(Terjemahan Cerpen) Mereka Terbuat dari Daging karya Terry Bisson

“Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Daging. Mereka terbuat dari daging.” “Daging?” “Tak diragukan lagi. Kami…

Thank You, Dua Satu! Let’s Go Loro Loro!

Beberapa menit lagi 2021 sudah usai dan saya perlu menuliskan satu catatan kecil biar seperti…

(Resensi) Puser Bumi oleh Mas Gampang Prawoto

Berikut resensi terakhir dalam seri tujuh hari resensi. Kali ini kita ngobrol soal buku puisi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *