Catatan Aroma Karsa (Hari Pertama)

Hari pertama mau nulis tentang Aroma Karsa, ada beberapa hal yang harus dijelaskan sejak awal. Saya mulai merekap lagi apa-apa yang sempat saya pikirkan tentang Aroma Karsa. Anggap saja tulisan-tulisan ini adalah bagian “free writing”-nya.

Dari pembacaan dan perenungan awal itu, saya dapatkan bahwa, pertama-tama, Aroma karsa ini terasa berbeda dengan novel-novel Dee yang telah saya baca sebelumnya. Kalau biasanya novel-novel Dee (terutama dari seri Supernova) terasa kosmopolitan, dengan tokoh-tokoh dengan nama, keyakinan, filosofi, dan keseharian yang bau-bau global, novel Aroma Karsa ini benar-benar lain. Novel ini lebih terasa lokal. Dari namanya saja sudah tidak standar: “Karsa”. Kata “karsa” yang langsung mengingatkan pada “swadaya, swakarya, dan swakarsa,” yang terasa sangat lokal. Bandingkan coba dengan “supernova,” atau “bintang jatuh,” atau “partikel” atau “intelensia.” Novel ini terasa lebih lokal sejak awal. Saya merasakan ini sejak awal. Dan ternyata belakangan saya menemukan dari wawancara Dee dengan Desi Anwar di CNN Insight, ternyata memang Dee merencanakan begitu. Itu yang pertama, dan harus disebutkan pertama-tama dulu.

Untuk yang kedua, saya mau tidak mau harus menyoroti fakta tentang citarasa dari novel ini. Membaca novel Dee setelah sedikit mendalami perihal sastra populer, saya tanpa sadar mencoba mengidentifikasi novel macam apa ini. Identifikasi awal, tanpa sadar, adalah dikotomi “sastra populer” dan “sastra serius.” Dengan menunjukkan dikotomi ini, saya sebenarnya sama sekali tidak ingin mengimplikasikan derajat kualitas. Dua kategori ini saya gunakan sekadar untuk mengidentifikasi fitur-fitur yang ada di buku. Untuk urusan kualitas, masing-masing kategori punya standarnya sendiri-sendiri. Nah, untuk Aroma Karsa ini, prosesor identifikasi saya langsung bunyi bip-bip-bip beberapa kali. Di satu kesempatan, saya merasakan elemen “fulfillment” atau “pemenuhan pengharpan” yang merupakan ciri-ciri roman populer. Ada juga elemen ketegangan antara femininitas dan feminisme yang juga seringkali mencirikan roman populer. Di kesempatan lain, saya merasakan motor penggerak alur sangat kuat berupa “curiosity” atau penasaran dan juga “suspense” atau ketegangan. Dua elemen ini biasanya diidentifikasi sebagai fitur dari genre detektif. Masih ada fitur-fitur lain yang muncul di prosesor identifikasi saya, tapi secara umum yang muncul adalah keputusan singkat bahwa novel Dee ini banyak digerakkan oleh fitur-fitur sastra populer. Untuk lebih jelasnya, tentu tulisan saya akan membahasnya secara lebih mendetail.

Terakhir, untuk malam ini, saya menemukan satu hal yang cukup unik terkait apresiasi atas karya-karya Dee. Ternyata, karya-karya Dee ini cukup banyak dibahas dalam penelitian-penelitian atau artikel-artikel ilmiah di jurnal-jurnal akademik Indonesia (yang bisa dicari di garuda.ristekdikti.go.id). Menariknya, ternyata, bahkan pada tahun 2013-an pun masih ada yang membahas novel pertama seri Supernova, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Buku Perahu Kertas, Filosofi Kopi, dan cerpen “Madre” juga banyak dikaji. Para pengkaji ini adalah mahasiswa S1, S2, atau dosen-dosen jurusan sastra. Hal ini unik, karena sepengetahuan saya, tidak banyak esais sastra yang banyak menulis di media massa yang membahas Dee. Yang justru terasa adalah, orang-orang yang menikmati sastra serius cenderung kurang membahas karya-karya Dee dalam perbincangan. Nah, ada apa ini? Sepertinya ini satu wilayah yang bisa ditelusuri lebih jauh lagi.

Sementara begitu dulu. Lima belas menit menulis saya sudah habis. Tiba saatnya sekarang bagi saya untuk melanjutkan ke alam mimpi. Besok saya akan update lagi begitu ada hal-hal menarik lainnya dari penelusuran saya atas Aroma Karsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *