Categories
serbasuka

Puasa dan Petualangan Pertama dengan Bahasa Inggris

Saya masih mencoba mengidentifikasi apa kira-kira yang membuat sebuah kenangan bertahan di pikiran sementara yang lainnya hilang begitu saja. Dugaan terkuat saya sejauh ini adalah karena mengandung kebahagiaan. Dan saya takut telah telat mengidentifikasinya. Saya bayangkan saya bisa lebih bijak jika sudah sejak dulu menyadari ini. Saya ingat sebuah momen dalam hidup ketika kebahagiaan melingkupi hari-hari saya dan akhirnya banyak hal yang terjadi saat itu tetap bertahan di ingatan. Tapi bisa jadi juga alasannya karena kengerian yang ada di dalamnya. Tapi, saya tidak yakin yang mana, jadi saya akan ceritakan saja kejadiannya di sini.

Soal baju, saya perlu ceritakan bahwa suatu saat, menjelang bulan Ramadhan, orang tua saya memesankan pakaian yang asyik bagi saya. Pakaian itu adalah T-shirt bergambar monokrom hitam putih di seluruhnya. Kalau diamati dengan jelas, ternyata gambarnya adalah orang-orang yang berangkat ibadah di Bali (ada perempuan menyuwun buah-buahan tertumpuk di atas kepalanya). Melengkapi itu, saya juga mendapat celana jins warna putih yang sebenarnya masih agak kepanjangan, jadi harus dilipat kalau pakai. Saya ingat memakai baju itu pertama kali untuk ke makam Mbah menjelang Ramadhan.

Satu hal lainnya adalah excitement saya karena mengikuti kursus bahasa Inggris. Dari sini, saya jadi ingat bahwa kejadiannya adalah ketika saya kelas 2 SMP. Jadi, sebelum cerita soal kursus, saya perlu cerita tentang minat saya ke bahasa Inggris dulu. Pada saat kelas 1 SMP, saya mulai belajar bahasa Inggris di sekolah. Saya suka dan sama sekali tidak kesulitan. Rasanya seperti pelajaran matematika yang menyenangkan. Ada rumus-rumusnya tapi sangat mudah dinalar. Ketika belajar simple present tense, saya juga tidak kerepotan karena hanya ada empat kata kerja (“want,” “need,” “have,” dan “like”). Saya suka rumus menjadikan kalimat itu negatif dan kemudian interogratif. Teman sebangku saya saat itu, (almarhum) Nanang Fatkhurrozi, mantan tetangga saya sekaligus anak dari guru Matematika saya Pak Paiman, sudah mulai kursus bahasa Inggris di PEF (Public English Facility). Tapi saya tahunya telat, sehingga saya hanya ikut senang ketika Nanang bercerita tentang pengalaman kursusnya.

Baru pada kelas 2 SMP, saya bisa ikut kursus. Teman seangkatan kursus saya waktu itu Aswin, Tanto, dan Luki. Kami mendaftar dengan berangkat sendiri ke tempat kursus, yang jadi satu dengan MINU (Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama). Kami berangkat naik sepeda. Gurunya adalah Pak Hari Subagyo, seorang karyawan Tata Usaha di Pabrik Gula Krembung yang tinggal di Perumahan Pabrik Gula bagian luar. Saya banyak mendengar cerita bagus tentang beliau (Om saya juga belajar bahasa Inggris dari Pak Hari dan kemudian Om saya itu juga jadi guru bahasa Inggris meskipun gelar formalnya Drs. untuk bidang ilmu ekonomi).

Hari pertama kursus bahasa Inggris jatuh pada bulan Ramadhan. Maka, kursus yang semestinya setelah maghrib itu pun dipindah ke sore hari. Karena satu atau lain hal, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja ke tempat kursus. Bersama Luki dan Tanto, saya ke rumah Aswin untuk menjemputnya. Ketika baru berangkat, hujan turun rintik-rintik. Tidak ingin kehujanan, kami berlari kecil. Ketika lewat di depan rumah Pak Wul, saya baru ingat bahwa mereka punya anjing herder. Ketika melihat saya dan teman-teman berlari-lari itu, anjingnya terbangun dari santai-santainya berdiri menyalak-nyalak dan kemudian seperti berlari ke arah kami. Kami pun lari tunggang-langgang. Tapi hanya begitu saja, si herder tidak melanjutkan mengejar kami, tapi saya sudah keburu takut. Kami berjalan lewat Gang Macan dan lanjut ke Kebonan dan akhirnya sampai ke MINU.

Hari pertama kursus itu menyenangkan. Saya mendapatkan informasi umum tentang kursus tersebut dan mulai mendapat pelajaran dari buku produksi PEF sendiri. Ada dua buku, merah dan biru. Satu buku (yang lebih tebal) berisi materi grammar dan lain-lain. Buku lainnya adalah untuk conversation. Ternyata, PEF Krembung menawarkan satu hal yang tak biasa. Selain satu-setengah jam untuk pelajaran, ada tambahan setengah jam untuk conversation. Yang dimaksud conversation di sini adalah menghafalkan pertanyaan-pertanyaan dan cara menjawabnya. Mungkin terasa sederhana dan hanya mengandalkan hafalan. Tapi, hal itu jugalah yang membuat saya (seorang pembelajar awal) merasa nyaman dengan bahasa Inggris sebelum akhirnya bisa membuat kalimat-kalimat saya sendiri. Saya juga punya beberapa teman baru di situ, sebagian adalah kawan-kawan sekolah saya, sebagian lagi kakak kelas dari SMP lain. Saya pulang dengan hati berbunga-bunga, membayangkan akan indahnya petualangan dengan bahasa Inggris.

Nah, masalahnya, ketika pulang, hujan baru saja selesai. Ketika berada di tempat kursus, hujan sangat deras tanpa kami sadari. Dalam perjalanan pulang, kami memutuskan mencari jalan lain. Kami berjalan menyusuri jalan utama Porong-Prambon sampai ke kawan kantor polisi. Selanjutnya lewat jalan ke arah PG Krembung. Dan kemudian memilih melewati celah-celah rumah dan menyeberang ke daerah kami melalui kebon basah yang dikenal sebagai “rawa.” Rawa ini sebenarnya adalah sebuah kebonan yang padat, mirip hutan, yang memang ada bagian-bagian tertentu selalu menggenang seperti rawa-rawa. Saya ingat selalu dilarang mendekati kawasan tersebut. Kata orang-orang, di situ ada pemakaman penderita kusta atau membuat orang bisa terkena kusta. Intinya, ada kengerian terkait penyakit kusta dikebonan yang satu ini. Kami memilih melewatinya karena ini merupakan jalan pintas yang bagus.

Segalanya baik-baik saja, hingga di suatu titik, sebuah parit. Saya tahu pasti di situ ada parit, tapi saya ingat ada batang pohon kelapa yang bisa dipakai untuk menyeberang. Saya dan teman-teman berjalan ke sana. Tanah basah dan ada genangan sehabis hujan di beberapa bagian. Saya memakai celana putih dan kaos putih yang baru pertama kali saya pakai beberapa hari sebelumnya untuk ke makam. Ketika mendekati parit itu, saya agak tenang karena batang kelapa itu ada di sana. Paritnya sendiri banjir dengan air meluber hingga ke bibirnya. Saya berlari paling depan. Begitu tiba di sana, saya langsung menapakkan kaki ke kayu untuk menyeberangi parit yang banjir itu. Yang tidak saya sadari adalah, ternyata batang kelapa itu sebenarnya agak mengambang karena air yang membanjiri parit itu.

Maka, saya saya injakkan kaki ke batang kelapa itu dengan percaya diri, saya terjadi adalah batang kelapa itu langsung melintir dan berputar. Saya pun tercebur ke dalam parit yang sedalam pinggang itu. Saya berjuang sekuat tenaga agar segera bisa keluar dari parit yang dasarnya berlumpur itu. Di detik itu juga, bayangan tentang kengerian seputar “rawa” ini muncul di kepala. Saya tidak ingat bagaimana reaksi teman-teman saya waktu itu. Bisa jadi mereka ngakak, tapi bisa jadi juga mereka ketakutan seperti saya.

Selanjutnya adalah saya membawa pulang kengerian itu bersama buku tulis dan buku teks yang sebagiannya basah itu. Di rumah saya langsung membersihkan diri dengan penuh harap agar segala kengerian dan penyakit yang dipakai orang-orang untuk mewanti-wanti kami agar tidak main-main ke rawa itu segera hilang. Di hari ketika saya begitu excited dan berbahagia dengan pelajaran pertama di kursus bahasa Inggris, ternyata saya juga harus menghadapi kengerian semacam itu. Mungkin inilah yang membuat hari itu akan tetap ada di kepala saya. Sekarang, sekitar 27 tahun sejak kejadian tersebut, ingatan itu masih segar di pikiran, seperti menunggu saya menuliskannya dengan sedetail mungkin. Malam itu, saya berbuka dengan kengerian yang khas, kengerian yang bercampur dengan kesenangan. Kini, saya menyadari bahwa itulah ternyata pengalaman pertama saya dengan bahasa Inggris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *