Categories
serbasuka

Petis Kupang dan Milestone Petualangan di Ujung Ramadhan

Petualangan saya dengan bahasa Inggris ternyata akhirnya cukup banyak. Tetapi, tentu saja tidak sepantasnya kalau akhirnya saya bocorkan semuanya dalam satu tulisan. Mari kita urai semua itu sedikit demi sedikit, kita urai dengan sepantasnya. Untuk itu, perlu di sini saya ceritakan tentang apa yang dibuka oleh bahasa Inggris bagi saya. Dia membuka dunia saya lebih jauh.

Krembung harus saya tinggalkan karena bahasa Inggris. Krembung tidak lagi bisa menampung saya. Maksud saya bukan gagah-gagahan sih. Jadi begini, setelah kursus Elementary (mulai bulan Ramadhan kelas 2 SMP sampai kelas 3 SMP) dan level Intermediate (mulai kelas 3 SMP sampai 1 SMA), akhirnya saya harus meninggalkan Krembung. Alasannya simpel: tidak ada kawan kursus saya yang berniat melanjutkan ke level Advanced.

Saya pun harus berkelana. Dengan dukungan orang tua yang mengiyakan saja ketika saya lebih memilih untuk melanjutkan kursus bahasa Inggris daripada ikut bimbingan belajar, saya pun pergi ke Mekkahnya kursus bahasa Inggris PEF, yaitu ke Porong. Yang sebenarnya jaraknya hanya 10 kilometer dari Krembung. Porong, atau tepatnya Keluharan Gedang, adalah Mekkahnya PEF karena di situlah tempat tinggalnya pendiri PEF.

Di pusatnya PEF itu, saya bertemu dengan pak AREA. AREA adalah singkatan dari Abdul Rahman El Ali. Beliau adalah pendiri sekaligus guru pertama PEF. Banyak murid beliau yang akhirnya juga menjadi guru. Om saya (yang sebelumnya saya ceritakan juga kursus bahasa Inggris pertama kali di PEF) juga harus melanjutkan kursus ke Porong setelah selesai di Krembung.

Tapi, pertama kali saya ikut kelas Advanced di Porong, gurunya bukan Pak AREA sendiri. Nama gurunya Pak Faisol. Pertemuannya malam hari setelah maghrib. Nah, di kelas Pak Faisol inilah akhirnya saya kenal banyak teman dari daerah lain, dari Gempol, Porong, dan lain-lain. Dua yang paling saya ingat adalah Basuki dan Sudarmaji. Basuki adalah pelajar SMK dan Sudarmaji adalah pegawai PT KAI. Selanjutnya, karena satu dan lain hal, akhirnya kelas Pak Faisol ini pun dilebur dengan kelas yang diajar Pak AREA sendiri. Saya, Basuki, dan Sudarmaji masih tetap ikut.

Nah, satu kejadian yang tidak bisa saya lupakan adalah pertemuan terakhir kami pada bulan Ramadhan ketika saya kelas 1 SMA itu. Salah satu murid adalah seorang perempuan yang belum lama lulus sekolah tapi masih bekerja membantu industri rumah tangga keluarganya. Usaha keluarganya (yang tinggal di kawasan Jabon Porong) adalah membuat petis, tepatnya petis kupang, salah satu unsur paling lezat di muka bumi ini. Pada pertemuan terakhir di bulan Ramadhan itu—sebelum liburan Idul Fitri—dia membawa surprise-surprise buat kami. Di akhir pelajaran, kawan kami itu (yang sayangnya saya lupa namanya) mengumumkan bahwa dia membawa oleh-oleh buat kami semua. Kami semua excited.

Ternyata dia membawa satu kantong petis kupang kelas A buat kami semua. Masing-masing dalam kantong plastik seperempat kilogram. Kami semua langsung tertawa dan berterima kasih. Pak AREA yang sangat jenaka dan baik hati itu mengucapkan terima kasih yang tak terkira dan becanda—saya tentu lupa apa pastinya. Hari itu, kami mengakhiri hari dengan haha-hihi dan tertawa-tawa bahagia. Saya harus memastikan bahwa emas cair hitam itu tidak rusak selama dalam perjalanan pulang.

Setelah kelas, saya, Basuki, dan Sudarmaji berjalan kaki ke terminal angkot. Saya dan Basuki harus naik angkot ke arah Krembung. Dari PEF ke terminal angkot, kami harus berjalan sekitar 500 meter. Ketika berjalan itu, tampak sebuah angkot Isuzu lewat. Dari dalam Isuzu itu seorang penumpang berteriak-teriak kepada saya dan Basuki. Ah, ternyata kawan kami yang baru membagikan petis kupang kelas A itu. Spontan saya dan Basuki langsung melambai-lambaikan petis kupang kami ke arahnya.

Semua itu terjadi di Porong, 10 kilometer dari tempat tinggal saya, tempat terjauh saya belajar, berangkat sendiri, mencari dan mendapatkan teman-teman sendiri, dan menikmati hasil pertemanan saya sendiri. Itu benar-benar petualangan yang tak terkira—buat saya waktu itu. Dan itu karena bahasa Inggris. Sejak dari situ, petualangan saya dengan dan untuk bahasa Inggris akan meningkat secara eksponensial. Saya tidak akan menceritakannya dulu. Segala hal punya waktunya sendiri-sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *