Categories
serbasuka

Hari Ayam Panggang Bassam

Ketika mengunjungi masjid Islamic Center of Northwest Arkansas, saya suka sekali memarkir sepeda saya di dumpster atau di grill, alat pemanggang daging. Gril ini berada di pojok Barat-Selatan halaman masjid. Tapi, ada hari-hari tertentu ketika grill itu tidak bisa saya pakai untuk mengikatkan sepeda saya itu. Di bulan Ramadhan, hari ketika grill itu tidak bisa dipakai adalah salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu.

Sebelumnya, perkenankan saya berikan gambaran yang memadai seperti apa gril tersebut. Grill atau alat pemanggang tersebut berbentuk tabung dengan empat kaki. Dua di antara empat kakinya berroda, sehingga kita bisa menyeret grill itu dengan cukup gampang. Bagian tabung grill itu bisa dibuka menjadi dua. Belahan yang atas memiliki cerobong. Ketika dibuka, bentuk tabung itu jadi seperti koper keras bandara yang dibuka petugas bandara untuk memeriksa isinya. Biasanya, saya mengikatkan kunci pengaman sepeda saya ke salah satu kaki grill itu.

Foto grill atau pemanggang di ICNWA. Sepeda balap itu punya saya.

Pada satu hari tertentu dalam bulan Ramadhan, lokasi grill itu akan ramai dan kita para kaum ini tidak bisa mendekat ke sana. Ketika itu asap mengepul dari sana, dan beberapa brother akan sibuk di tengah-tengah asap itu. Itulah yang kelak dalam sejarah dikenal sebagai hari ayam panggang. Ini adalah hari yang berbeda. Bila biasaya kami berbuka dengan ayam dimasak kuah oleh para brother dari Saudi dan Emirat, di hari istimewa ini kami makan panggang ayam. Di hari ini, semua makanan ditanggung oleh keluarga brother Bassam.

Brother Bassam dan keluarga ini adalah penggemar berat ayam panggang. Dan untuk itu, dia berbaik hati menyediakan buka bersama bagi seluruh masjid. Dengan medu ayam panggang. Yang memanggang potongan-potongan paha (baik paha atas maupun paha bawah—yang dalam bahasa Inggris disebut “drumstick” itu) biasaya brother Bassam sendiri (yang usianya sektar 55-an atau bahkan 60-an) atau anak-anaknya yang terlihat seperti bule tapi ada kesan Arab.

Brother Bassam ini adalah orang Palestina yang keluarganya mengungsi ke Yordania, mungkin sejak perang tahun 67 itu. Tapi dia sendiri hijrah ke Amerika dan memiliki pasangan orang Amerika. Posisinya di perusahaan cukup sukses dan di masjid dia juga termasuk yang disegani karena baik—dan karena lebih senior dalam usia.

Tapi, buat kita orang Indonesia, ada yang kurang greng dengan ayam panggang Bassam ini. Tidak ada bumbu cabe atau kunir atau bumbu-bumbu lainnya yang biasanya mencirikan ayam pangang ala Indonesia. Tapi, tentu saja ayamnya lebih empuk dan menjanjikan—berkat teknologi tepat guna pakan ayam dan mungkin modifikasi genetik ala Amerika.

Ayam ini pun bukan ayam sembarangan dari sudut pandang syariat. Pasalnya, ayam itu dibeli dari pabrik pengolahan daging Miramar. Daging dari pabrik Miramar ini adalah daging yang tidak sekadar “halal,” tapi “zabiha.” Istilah “zabiha” itu sendiri baru saya ketahui ketika tinggal di Arkansas. Bedanya adalah: halal dalam pengertian para brother dan sister Muslim di Amerika berarti dari bahan yang halal (yang bukan berasal dari karnivora dan babi); tapi zabiha adalah daging dari sumber halal yang disiapkan dengan “benar,” misalnya disembelih oleh Muslim dengan disertai bacaan basmalah. Sebagian Muslim pengikut mazhab yang sangat ketat memilih memakan daging zabiha, tapi sebagai besar lainnya menganggap asalkan bukan daging babi atau karnivora semua daging itu halal, meskipun tidak disembelih dengan membaca bismillah. Daging dari Tyson, pabrik pengolahan ayam terbesar di dunia yang berpusat di Arkansas, adalah daging halal yang boleh dimakan. Kebanyakan Muslim dari Indonesia memilih daging yang zabiha, yang dijual di masjid.

Meskipun ayam panggang dari Bassam ini tidak secanggih ayam panggang Indonesia, saya sema sekali tidak pernah mengeluh. Sudah untung kami mahasiswa ini dimudahkan, tidak perlu memasak buka, tinggal berangkat ke masjid waktu buka, kadang bahkan tidak perlu ikut menyumbang donasi untuk keperluan puasa. Apalagi, itu semua mungkin hanya karena selera lidah kami saja. Banyak anggota jamaah lainnya yang sepertinya oke-oke saja dengan ayam tersebut, malah lebih suka. Bagaimana saya tahu? Pada hari-hari biasa, pada hari-hari ayam kuah, saat pulang tarawih kami bisa membawa pulang nasi biryani plus sepotong drumstick ayam kuah. Tapi, pada hari ayam panggang Bassam, saya belum pernah membawa pulang nasi biryani dengan potongan ayam panggang. Paling-paling kami pulang dengan membawa nasi biryani dan salad sawi iceberg degan dressing yoghurt atau yoghurt dicampur mentimum. Kalau sudah begitu, alamat besoknya saya sahur dengan menggoreng telur untuk dimakan dengan nasi biryani dan yoghurt mentimun yang dipanaskan dengan microwave. Tidak ada yang perlu dikeluhkan.

Itulah kira-kira yang terjadi pada hari ketika saya tidak bisa menggunakan grill untuk mengikat sepeda saya. Ada ayam di antara sepeda saya dan panggangan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *