Resensi film Ave Maryam

Ada beberapa hal yang bisa kita bicarakan tentang film ini: Gambarnya bagus. Tone warnanya memang gaya lama dan pilihan-pilihan latar dan propertinya dipilih yg berkesan lama, kayak masa jengki. Tapi menurutku sih latar waktunya hari-hari ini kok itu. Di belakang mereka waktu ngobrol banyak mobil2 pick up dan van jaman sekarang. Stasiunnya jg dengan bangku2 jaman sekarang. Jadi ya jamnya Romo Joko Anwar sih nggak anakronistik. Menurutku lho ya. 😅 Dialognya oldies bombastik. Sepertinya diniatkan teatrikal dan siap dijadikan kutipan.

Kalau nonton jangan lupa siap-siap nyatet quote buat IG.

Menurutku filmnya memang bukan model-model yang bercerita dengan gamblang. Dia lebih sugestif, memberikan kesan-kesan. Dia menawarkan atmosfir hanya dengan cue-cue tertentu. Banyak bolong-bolong yang perlu kita isi sendiri sambil merenung-renung. Teknik begini kalau di novel-novel begitu istilahnya main elipsis.

Bandingan Hollywoodnya yg nggak terlalu lama mungkin ya film Moonlight yg menang Oscar tahun 2016/7 itu. Dia lebih banyak menampilkan fragmen-fragmen dari kehidupan tokoh-tokohnya. Tapi pengambilan gambar dan tone yang dipilih sangat mendukung menciptakan atmosfer. Kita hanya melihat karakternya dihajar, gusar, marah, push up, dll, tapi di pikiran kita sendiri badai berkecamuk saat mencoba berempati dengan si tokoh.

Yg juga unik, Romo Chicco Jericho orangnya hipster sekali. Mobilnya tahun 70-an setir kiri 🤭 dan sepedanya fixie torpedo tanpa rem yang di sini mulai populer era 2010-an itu (kalau mau Romo Chicco bisa saingan sama Joseph Gordon Levitt di film Premium Rush).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *