Categories
random

Kertas Krep, Buah Maja, dan Tujuh Belasan dari Masa Kecil

Ada beberapa hal dari tujuh belasan di masa kecil yang tetap teringat hingga hari ini, ketika tujuh belasan sudah benar-benar berbeda. Saya ingat kesederhanaan, kreativitas, dan kemeriahan yang saat ini tidak sebanyak dulu saya temukan.

Di antara berbagai hal yang berbeda dari tujuh belasan di masa kecil itu, ada kertas krep dan buah maja yang masih kuat tertancap di kepala. Dan di situ saya juga ingat betul teras rumah dan gapura depan kampung yang menjadi setting untuk ingatan-ingatan itu.

Biasanya, kami dulu berkumpul di akhir Juli atau hari-hari pertama bulan Agustus. Bapak saya waktu itu ketua RT. Kemungkinan, di salah satu pertemuan RT yang tidak saya hadiri (masih kecil, bund!) mereka memutuskan akan membuat kemeriahan yang tak tertandingi. Dan ide-ide mungkin berlesatan di sana. Dan akhirnya, diputuskanlah bahwa kami membuat hiasan DIY (selalu DIY, meskipun kami di Jatim) yang mengandung kertas krep, tempeh, dan bambu utuh dengan ranting-rantingnya.

Untuk hiasannya, kami membuat semacam pita-pita dan rantai kertas dengan pola merah putih. Pita-pita itu disambungkan dari satu rumah ke rumah lainnya, menghasilkan semacam kanopi warna-warni. Ada juga bendera-bendera segitiga selang-seling merah putih di bagian-bagian tertentu.

Nah, rantai-rantai kertasnya dibuat dari kertas krep yang dipotong-potong dan disambung-sambung menjadi lingkaran-lingkaran yang selanjutnya dirantaikan. Untuk menyambungkan kertas itu menjadi lingkaran-lingkaran, kami memakai lem DIY (tentu!) yang dibuat dari tepung tapioka yang dicampur air dengan kepekatan rendah dan dipanaskan sampai mengental.

Kami mengerjakan ini di teras rumah warga yang saling berdekatan itu. Di rumah teras rumah saya, rumah tetangga, dan rumah paklik dari ibu saya yang waktu itu dikontrakkan ke abang tukang bakso atau mungkin bang thithil.

Salah satu hiasan yang nyaris tidak pernah terlewatkan adalah tempeh anyaman bambu (yang biasanya dipakai untuk membersihkan beras) yang dihiasai warna merah dan putih. Tempeh ini selanjutnya dicat dengan tulisan 17, 8, 45, dan angka tahun itu. Tempeh itu nantinya akan dipasang di gapura.

Seringkali ada ketakutan kalau-kalau hujan datang. Kertas krep adalah kertas yang mudah luntur. Kita semua tahu. Kami bahkan menyebutnya “kertas sumbo” waktu itu, karena memang kalau dicampur air kertas ini berfungsi sebagai pewarna. Untungnya tidak pernah terjadi kertas krep pita-pita kami luntur.

Nah, di salah satu kesempatan tujuh belasan, kami pernah memakai bambu yang dipotong langsung tanpa membersihkan ranting-rantingnya. Istilahnya “carang-carangnya” masih ada. Daun-daun bambunya pun tidak dibersihkan. Kami menghiasi ranting-ranting dan daun-daun bambu itu dengan berbagai rumbai-rumbai merah putih, lampu berbagai warna, dan … buah maja.

entah siapa yang terpikir ini, tapi seseorang di antara warga RT menyarankan menggunakan buah maja. Ketika itu, seingat saya tidak sulit mencari buah maja. Ada satu tempat yang saya ingat pasti menjadi tujuan kami: lapangan bola desa Tanjangrono, kecamatan Ngoro (tepat di depan SDN Tanjangrono I, tempat ibu saya mengajar waktu itu). Di sekeliling lapangan itu, ada pohon-pohon maja.

Sekadar info, buah maja itu seukuran melon tapi mulus sekali. Pohonnya melebar dengan kayu yang meliuk-liuk seperti pohon oak. Nah, sayangnya, buah yang mulus dan indah itu hanya di permukaan. Isinya bagaimana? Aromanya pahit sekali dan sangat menyengat. Tapi isi tersebut mudah dikerok dan akhirnya menghasilkan cangkang yang mulus yang bisa dijadikan rumah untuk lampu. Kalau di Amerika utara begitu, padanannya ya seperti buah labu.

Nah, di satu kesempatan ketika seseorang menyarankan membuat lampion dari maja itu, terjadilah sesuatu yang tidak bisa saya lupakan. Ketika bagian atas maja dilobangi, maka isi maja pun bisa diakses. Isi maja pun mulai dikerok. Tapi, karena aroma yang menyengat dan pahit itu, ada seseorang yang tidak kuat dan akhirnya muntah-muntah di TKP.

Tapi akhirnya kami menggunakan buah maja itu untuk dipasang di bambu yang masih punya ranting tadi. Setelah hiasan merah putih, lampu-lampu, dan lampion maja siap, bambu pun didirikan dan pangkalnya ditanam di tanah agar kokoh. Akhirnya, di dekat gapura kampung itu, kami punya semacam pohon bambu tunggal dengan ranting-ranting yang indah dan lampu-lampu yang menyala warna-warni manis saat malam tiba.

Satu dua minggu kemudian, daun-daun bambu sudah menguning sepenuhnya, tapi keindahan hiasan itu tetap bisa dinikmati. Lampion maja masih indah dan ketika lewat di sana saya masih tersenyum-senyum mengingat perjuangan kami membuatnya.

Kampung kami selama bulan Agustus itu penuh keceriaan. Kadang ada umbul-umbul, kadang hanya pita-pita dan rantai merah putih, kadang ada juga lampu flip-flip warna warni. Nuansa kreativitas, DIY, dan kemeriahan itu masih bertahan hangat sampai hari ini. Tujuh belasan di masa kecil tak akan pernah hilang. Bahkan lebih kuat daripada tujuh belasan di negeri orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *