Categories
perjalanan

Berdamai dengan Dingin (2)

Setelah mendarat di bandara Finavia Helsinki, kami segera masuk ke dalam ruang utama. Tidak ada lagi pemeriksaan imigrasi lagi di sini. Perjalanan kami dari Belanda ke Finlandia dianggap “domestik” dalam konteks Uni Eropa. Dari pemandangan salju sebelumnya, kami bersiap merasakan sedingin apa Finlandia.

Bandara ibukota Finlandia ini tidak terlalu besar dan karusel yang membawa tas kami juga tidak terlalu jauh jaraknya. Kami bisa dengan mudah menemukan konveyor tersebut dan segera meninggalkan lokasi untuk menuju ke stasiun kereta api.

Hari masih sekitar pukul 5 sore tapi langit sudah gelap. Setelah diskusi sebentar, kami memutuskan bahwa kami akan jalan-jalan sedikit di Helsinki. Alasannya sederhana, nanti ketika pulang kami tidak lewat Helsinki lagi. Padahal, Helsinki ini kan kota penting di Finlandia, ibukotanya.

Maka, ketika siap kami segera ke stasiun yang ada di lantai bawah bandara. Di sini dingin mulai terasa dan orang-orang sudah pakai jaket puffer tebal dan sebagian pakai overcoat berbahan wool. Semuanya memakai sarung tangan. Saya langsung dibekap nostalgia masa-masa hidup di tempat dingin.

Tiket dari bandara ke Grand Central Station Helsinki

Setelah membeli tiket di mesin yang hanya menerima pembayaran dengan kartu dan menunggu sebentar, kami pun sudah di atas kereta menuju Helsinki. Kami berempat bisa duduk berhadap-hadapan. Selama perjalanan menuju Helsinki, kami berhenti di beberapa stasiun kecil yang lantainya tertutup salju. Kami melewati jalan-jalan yang juga tertutup salju. Inilah tempat yang tadi mungkin sempat saya lihat waktu akan mendarat.

Pemandangan salju dari dalam kereta

Begitu tiba di Grand Central Station, kami segera keluar dan menyeret koper melewati pelataran stasiun yang tertutup salju. Ada yang terasa aneh sejak menginjak salju: saljunya bercampur kerikil kecil. Ketika kami menyeret koper, terasa sekali kemretek. Awalnya saya curiga apa memang saya lewat bagian yang aspalnya gaya lama atau sejenisnya.

Hawa super dingin dan salju turun lembut. Saya ingat tempat-tempat dari masa lalu ketika mengalami badai salju: Minneapolis, Chicago, Fayetteville, Oklahoma, dan lainnya. Tapi Helsinki terasa lebih dingin lagi dan banyak sekali orang di kawasan yang ternyata memang pusat kota Helsinki itu.

Ketika memasuki gedung Grand Central Station, saya langsung disambut warung kopi take away dan restoran cepat saji. Tapi ada satu sambutan yang membuat saya merasa ganjil: ketika memasuki gedung, ternyata keset di depan dan keset itu penuh kerikil, persis yang saya lihat sebelumnya di jalan. Banyak sekali kerikil di keset raksasa itu. Tentu dari sepatu orang-orang yang masuk.

Tampak ada kerikil di sela-sela salju, seperti choco chip di antara serbuk gula.

Ada hubungan apa antar Helsinki dan kerikil?

Hal ini kemudian terjawab sedikit demi sedikit malam itu dan hari-hari berikutnya. Malam itu kami menitipkan koper di Grand Central Station. Hari masih pukul 6 dan kota Helsinki masih ramai. Kami sempatkan jalan-jalan dari kawasan Grand Central Station menuju Espalanade Park dan terus berjalan ke arah Gereja Orthodox Helsinki.

Dalam perjalanan, kami sempatkan sekali dua kali masuk ke dalam toko suvenir di kawasan itu. Masih banyak orang bersliweran keluar masuk. Tapi, di depan ada peringatan bahwa pada musim dingin toko tutup pada pukul 19.00 waktu setempat. Memang gelap yang datang lebih awal dan hawa dingin yang tidak wajar adalah alasan yang cukup kuat untuk sedikit mengurangi jam kerja. Kami masih punya waktu barang satu jam di kota ini.

Kawasan pertokoan di depan Grand Central Station Helsinski. Meriah.

Bangunan-bangunan di kawasan ini tampak tua dan terawat. Ada hotel dan restoran. Di restoran tampak orang-orang yang makan dengan busana berkelas, blazer, jas lengkap, atau pakaian bisnis sehari-hari pada umumnya. Di depan hotel terdapat seorang perempuan menunggu jemputan. Orang-orang yang keluar dari hotel dan restoran ini rata-rata memakai overcoat seperti di film-film Eropa. Dan orang-orang lain yang berjalan hilir mudik dari stasiun ke tempat-tempat lain tampak memakai jaket puffer yang menggelembung dan mengesankan kehangatan.

Kami terus berjalan-jalan menikmati suasana dingin yang sedikit demi sedikit mulai terasa di kaki. Ketika berjalan di sepanjang Esplanade Park, beberapa kali saya berpapasan dengan orang-orang yang mengendarai sepeda gunung. Jalanan tampak sebagian besar tertutup salju, tapi mobil-mobil ini tidak tampak terpeleset. Begitu juga sepeda-sepeda pancal.

Sepatu yang sehari-hari dipakai hiking akhirnya mendapatkan tugas sesuai fitrahnya.

Di sinilah saya mulai menghubungkan titik-titik dan mulai paham bahwa cara menangani salju di Finlandia ini berbeda dengan di Amerika Serikat. Setahu saya di Amerika Serikat, khususnya di tempat-tempat yang saljunya tidak banyak, salju ditangani dengan dikeruk dan disebari garam. Garam membuat salju meleleh dan membersihkan jalan. Pernah, setelah badai salju yang cukup serius di Minneapolis, pagi hari jalanan sudah bersih tetapi halaman rumah tertimbun salju sampai selutut. Ternyata pagi-pagi sekali sudah ada petugas dari kota yang datang untuk mengeruk salju dari jalan dan menepikannya.

Namun, belakangan saya juga banyak mendengar di radio bahwa penggunaan garam itu menimbulkan masalah lingkungan. Belum terlalu lama ini saya sempat baca artikel cukup komprehensif tentang betapa seriusnya dampak garam pencair es terhadap lingkungan Amerika Serikat. Kandungan klorin yang tinggi berbahaya bagi ikan dan binatang amfibi di perairan yang menjadi pembuangan garam itu ketike es sudah mencair. Begitu juga dengan tanam-tanaman. Pendeknya, garam punya dampak serius terhadap pengguna alam yang lain meskipun membuat nyaman pengguna alam jenis manusia seperti kita-kita ini.

Di Finlandia ini, setidaknya ketika salju tidak sampai selutut seperti waktu saya mendarat di Helsinki itu, tampaknya yang dilakukan hanyalah menyebarkan kerikil. Kerikil-kerikil ini membuat traksi di sepatu lebih baik dan orang tidak mudah terpeleset. Begitu juga dengan kendaraan. Mereka tidak mudah terpeleset juga karena itu. Plus, yang tak kalah pentingnya, ban salju adalah normal di musim dingin seperti ini baik untuk mobil maupun sepeda. Ban salju adalah ban yang memiliki keling besi di sekujur permukaan bawahnya. Ban semacam ini memungkinkan mobil tetap memiliki traksi ketika berjalan di atas salju atau es. Menurut Bloomberg, hal ini tampaknya cukup efektif untuk Finlandia. Buktinya, jumlah kecelakaan lalu lintas di Finlandia pada musim dingin hanya sepersekian kecelakaan di Amerika pada musim dingin.

Nah, uniknya adalah: di Amerika Serikat, ada cukup banyak negara bagian yang melarang penggunaan ban salju, alasannya adalah karena ban semacam ini juga meninggalkan jejak di aspal dan membuat aspal mudah rontoh ketika siklus salju berhenti.

Ban salju yang di foto dari salah satu toko ban di Tampere.

Tapi ya, seperti kata pepatah Jawa: desa mawa cara, negara mawa tata. Setiap memililiki adatnya sendiri, setiap negara memiliki hukumnya sendiri. Tampaknya, pendekatan Finlandia dan Amerika Serikat berbeda kepada salju. Lagipula, kedua negara ini bisa dibilang berbeda dalam hal posisi lintangnya di dunia. Amerika Serikat (selain Hawaii dan Alaska) punya cakupan cukup luas, mulai dari yang hangat di selatan seperti Florida atau California hingga yang dingin di utara seperti Michigan atau Minnesota. Sementara itu, Finlandia cenderung berada jauh di utara, bahkan sebagian daerah sudah masuk lingkaran kutub utara.

Ketika jalan-jalan kami sampai ke gereja Orthodox, kami memutuskan untuk balik dan bersantai di kawasan stasiun sambil menunggu kereta ke Tampere. Gereja Orthodox di helsinski ini adalah peninggalan dari era ketika Finlandia merupakan bagian dari Rusia. Betul, Finlandia pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia, sejak Perang Finn pada 1809 hingga 1917 ketika terjadi Revolusi Rusia. Sebelum Perang Finn, Finlandia adalah bagian dari Swedia. Karena itulah di Finlandia ini banyak orang “suku bangsa” Swedia tetapi warga negara Finlandia sejak lahir procot. Dan… bahasa nasional Finlandia adalah Bahasa Finn dan Bahasa Swedia.

Gereja Orthodox Helsinki. Ujung jalan kaki kami. Memang sedikit sekali kami kenal kota ini.

Setelah kaki sudah pada dingin dan tangan mulai kaku-kaku, kami balik ke Grand Central Station. Di Grand Central Station, kami ambil koper dan membayar 7 Euro untuk meminjam sebuah loker yang bisa dipakai untuk empat koper kami. Kami sempat menggunakan toilet stasiun yang untuk masuk saja perlu bayar. Di sini saya jadi ingat kuatir: Apakah jangan-jangan di Finlandia ini semua toilet harus bayar seperti di Jerman? Saya ingat cerita tentang toilet bayar dari mahasiswa saya Angela di Sastra Inggris Universitas ma Chung yang pernah mendapat IISMA di Jerman? Eh, di Indonesia banyak juga ya toilet yang bayar.

Setelah semua urusan beres di bangunan stasion, dan kami juga sudah mendapat tiket ke Tampere, kami pun segera ke perlintasan kereta. Di sana ternyata sudah menunggu kereta api yang akan membawa kami ke Tampere. Dari Helsinki, kami harus menempuh perjalanan kereta ke utara selama 2 jam. Ya, lebih ke utara lagi. Perjalanan kereta terasa santai dan kami melewati banyak stasiun kota-kota kecil yang semuanya tertutup salju.

Ketika membuka pintu kereta di Tampere, kami sudah disambut Mas Tholchah, seorang Indonesia yang selama perjalanan sudah saling berkabar dengan saya. Kami tiba jam 10 malam. Bagi kawan yang satu ini, jam 10 malam di musim dingin yang super dingin dan penuh salju hanyalah kenyataan yang harus dihadapi.

Di negeri seperti ini, tampaknya semua orang sudah berdamai dengan dingin dan alam. Bahkan orang yang lahir di Temanggung pun harus begitu. Maka, bagi kami para pengunjung yang akan berada di Tampere tidak kurang dari seminggu ini, berdamai dengan dingin adalah satu-satunya pilihan agar semua urusan selesai dengan lancar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *