Learning Cafe atau World Cafe, Metode Brainstorming Ampuh

Di salah satu kegiatan workshop yang saya ikuti saat berada di Tampere, Finlandia, kami harus melakukan evaluasi. Yang dievaluasi adalah pelaksanaan kegiatan proyek IN2FOOD yang sudah tiga tahun itu kami jalankan. Kami perlu menggali kelemahan, kelebihan, lesson learned, dan potensi keberlanjutan kegiatan kami. Untuk brainstorming itu, Elina sebagai pemandu kegiatan mengajak kami melakukan brainstorming dengan teknik “Learning Cafe” atau “World Cafe.”

Pasti dong kawan-kawan pengunjung blog ini bertanya-tanya apa itu Learning Cafe atau World Cafe ini.

Learning Cafe atau World Cafe sih?

Sebagai catatan, kawan-kawan, ketika saya mengikuti workshop itu, pemandu acara memberinya judul “Learning Cafe.” Tampaknya itu adalah judul yang dipilih oleh Elina karena kami bertujuan untuk mengambil “lessons learned” atau pelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan IN2FOOD.

Namun, secara global, dalam dunia pendidikan metode ini disebut sebagai World Cafe. Menurut situs Involve, metode ini digagas oleh Juanita Brown dan David Isaacs pada tahun 1995. Metode ini juga dibahas panjang lebar dengan konsep-konsep serta contoh-contoh pelaksanaannya di The World Cafe.

Singkatnya, metode World Cafe adalah cara menggali gagasan dari banyak orang tentang sesuatu dengan memecahnya ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab secara berkelompok. Kelompok-kelompok yang ada biasanya duduk melingkar dalam jumlah 5-10 dan dalam jangka waktu tertentu harus menjawab sebuah pertanyaan. Dalam praktiknya, setiap kelompok wajib mendengar dan mencatat gagasan dari setiap anggota kelompok.

Cara Melaksanakan World Cafe

Pasti sekarang sudah bertanya-tanya bagaimana cara menerapkan World Cafe ini. Mari kita mulai sambil mengikuti konsep yang diajarkan oleh website The World Cafe yang saya rujuk di atas.

Tentukan Setting Tempat

Kita perlu menentukan di sini seperti apa setting tempat yang kita pakai. Yang paling diperlukan adalah meja bundar yang disertai kursi sejumlah anggota kelompok (tergantung jumlah total peserta) dan sebuah papan atau kertas lebar untuk mencatat gagasan.

Tentu kita perlu mengingatkan peserta nanti bahwa setting ini seolah-olah kafe. Kafe adalah tempat nongkrong yang memungkinkan orang bisa berbicara santai. Kalau dalam konteks Indonesia kafe ini bisa dibilang seperti tempat ngopi. Saya mendapat kesan bahwa ngopi adalah dunia laki-laki, mohon dibetulkan kalau salah.

Setting ini perlu dibuat agar memudahkan peserta berpindah bangku bila diperlukan. Dan, dengan mengkondisikannya seperti kafe atau tempat ngopi, peserta cenderung merasa lebih rileks dan bisa menyampaikan gagasan

Beri Sambutan dan Pendahuluan

Untuk mengkondisikan peserta dengan lebih baik, pemandu acara harus memberikan sambutan yang hangat dan pendahuluan yang jelas. Tujuan dari bagian ini adalah untuk menciptakan atmosfer kafe yang hangat dan penjelasan tentang tujuan akhir yang ingin dicapai dari kegiatan ini.

Bila sambutan dan pendahuluan ini bisa diberikan dengan baik, maka kita bisa mengoptimalkan setting tempat untuk mencapai tujuan akhir. Tanpa pembuka ini, peserta bisa saja mengabaikan bahwa setting tempat ini dibuat untuk mendukung tujuan tertentu.

Membuat Pertanyaan

Setiap meja di dalam kafe ini harus memiliki pertanyaan spesifik yang harus dijawab. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa dibuat sebagai aspek-aspek yang ingin digali dari sebuah isu. Sebagai contoh, dalam workshop evaluasi IN2FOOD kemarin, ada 4 pertanyaan yang perlu kami jawab: 1) bagaimanakah pemilihan tema kita?, 2) bagaimanakah pelaksanaan proyek kita?, 3) bagaimana pencapaian hasil kita?, dan 4) bagaimana kita perlu melanjutkan proyek kita?

Tentu jumlah pertanyaan yang bisa kita buat bisa beragam tergantung tujuan dari World Cafe yang sudah kita buat. Prinsipnya, setiap pertanyaan perlu menyasar satu aspek dari isu yang ingin kita cari jawabannya.

Menunjuk Waiter untuk Setiap Pertanyaan

Setiap pertanyaan yang ada harus dijaga seorang waiter. Si waiter itu akan menunggu meja yang sudah disiapkan. (Mungkin, Anda akan terpancing untuk menggunakan istilah “bandar” Di sini. Tapi ya ges, masak urusan edukatif begini memakai metafora dari dunia kasino yang tidak selaras dengan spirit edukasi.)

Waiter ini bertugas untuk menggali dan meneruskan. Menggali di sini masudnya adalah memastikan bahwa para peserta di meja ini memahami pertanyaan yang diajukan dan kemudian memancing dengan berbagai cara agar mereka menyumbangkan gagasan untuk menjawabnya. Setelah menggali dan mencatat semua jawaban dari anggota, si waiter juga bertanggung jawab untuk meneruskan hasil jawaban yang diperoleh dari satu kelompok ke kelompok selanjutnya.

Eh, kok bisa ada satu kelompok menjawab dan kemudian ada kelompok selanjutnya? Itu karena elemen kelima.

Setiap Kelompok Berpindah Meja/Pertanyaan Setiap 15-20 Menit

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling aktif. Setelah satu kelompok berdiskusi untuk menjawab sebuah pertanyaan di satu meja bundar selama 20 menit, mereka harus berpindah ke meja selanjutnya. Di meja selanjutnya, dia akan disambut oleh Waiter yang akan menyampaikan pertanyaan dan merangkum jawaban dari kelompok sebelumnya.

Kelompok ini kemudian ikut menyumbangkan jawaban yang mungkin belum tersmpaikan dari kelompok sebelumnya. Waiter sementara itu juga terus menggali dan memancing anggota kelompok untuk mengeksplorasi aspek-aspek yang belum terjawab. Selanjutnya jawaban itu kemudian dicatat.

Proses pindah meja setiap 15-20 menit.

Para Waiter Menyajikan Semua Jawaban

Setelah jumlah putaran yang ditentukan sudah terpenuhi, diskusi dilanjutkan di tingkat seluruh peserta. Kali ini para waiter diberi kesempatan untuk menjelaskan hasil-hasil yang diperoleh dari diskusinya.

Inilah saatnya semua orang mengetahui isi dari seluruh perbincangan yang berlangsung. Di sini pula semua orang di dalam ruangan mengetahui gagasan-gagasan yang telah muncul dan mungkin belum dia ketahui.

Jadi begitulah yang terjadi dalam sebuah Learning Cafe atau World Cafe atau Kafe Dunia. Kegiatan ini sangat bagus dalam hal melakukan brainstorming dan mengkondisikan agar ada gagasan dari setiap orang yang terlibat dalam kegiatan ini.

Namun, karena sifatnya hanya brainstorming, World Cafe bisa berpotensi memberikan hasil yang sangat banyak dan perlu sebuah tim khusus untuk menyarikannya agar bisa menjadi sebuah saran praktis. Bagian inilah yang tidak boleh absen bila kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal dari World Cafe.

Jadi begitu dulu ya, kawan-kawan. Semoga bermanfaat.

Elina memimpin keseluruhan kegiatan World Cafe mulai menjelaskan sampai membuat rangkuman.

More From Author

Masjid Makbadul Muttaqin, Terang tapi Menyejukkan

Masjid di Mojosari ini dari luar tampak megah dengan kubah lancipnya yang berwarna hijau. Siapa…

Gelora Bung Karno (GBK), a Morning Oasis Amidst the Haze

If you're in Jakarta and have a two hours period of time to spend in…

Menengok Pantai Selatan di luar JLS

Tulisan ini tentang pantai selatan, tapi karena perihal perjalanannya asyik, saya tuliskan dulu perjalanannya. Baru…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *