Categories
perjalanan sastra

Ke Yogya, Kehujanan, Buku

Kunjungan ke Yogya selalu bisa saya romantisasi. Apalagi kalau perjalanannya mengandung elemen buku dan hujan.

Yogya tidak terlalu jauh dari Malang, tempat saya tinggal. Dibandingkan pergi Jakarta, pergi ke kota gudeg itu hanya butuh separuh perjalanan. Tiketnya pun relatif lebih ramah kantong. Namun, entah kenapa saya jauh lebih jarang ke Yogya. Karena itulah kunjungan ke Yogya selalu bisa saya romantisasi. Apalagi kalau perjalanannya mengandung elemen buku dan hujan, seperti yang saya lakukan minggu lalu.

Komunitas Apsas

Alasan pertama saya ke Yogya kali ini adalah kegiatan komunitas Apresiasi Sastra (APSAS). Komunitas ini berdiri sejak awal atau pertengahan 2000-an. Waktu itu komunitasnya terbentuk di mailing list yahoogroups dan anggotanya blogging di Blogger atau Multiply. Belakangan, seiring bergulirnya tren di budaya virtual, komunitas ini berevolusi menjadi sebuah group di Facebook.

Saya pribadi baru bergabung sekitar tahun 2005. Ketika itu saya masih panas-panasnya belajar nulis cerpen dan esai. Diskusi di milis APSAS adalah sumber energi yang saya butuhkan. Ada informasi, ada debat, ada geger gedhen, dan lain sebagainya. Tapi, secara umum, atmosfer di group ini terasa positif. Dampaknya adalah, saya jadi punya kawan-kawan baik yang jauh sekali, yang sampai sekarang, nyaris 20 tahun kemudian, masih berkontak. Sebagian bahkan belum pernah sekali pun kopi darat.

Nah, komunitas ini punya acara kopi darat rutin setahun sekali dalam bentuk kegiatan diskusi buku. Saya sendiri baru tahun 2011 ikut pertama kali. Waktu itu acaranya di Yogyakarta. Saya ikut untuk membedah buku terjemahan dari penulis Hongaria Ferenc Barnas. Di situ saya jadi bertemu dengan banyak orang yang sebelumnya hanya pernah saya temui di yahoogroups dan Facebook.

Parade Obrolan 10 Buku

Membawa Buku Sendiri

Tahun ini, 13 tahun sejak kopdar pertama dengan para punggawa Apresiasi Sastra, saya kembali berkesempatan bertemu mereka. Acaranya masih tetap sama, Parade Obrolan 10 Buku. Sedikit berbeda dengan yang saya ikuti sebelumnya, kalau dulu saya bertugas membedah buku, kali ini tugas saya ganda: membedah buku dan mendengar buku saya dibedah.

Saya kebagian tugas membedah novel karya Boubacar Boris Diob berjudul Murambi: Buku tentang Tulang Belulang. Novel ini diterjemahkan dari bahasa Prancis oleh Ari Bagus Panuntun. Buku ini sangat mudah menyedot kita ke semestanya dan membuka satu ruang baru dalam pemahaman saya tentang dunia. Saya sendiri dapat bukunya sejak dua bulan sebelum acaranya. Namun, karena lain dan lain dan lain hal, saya baru berkesempatan baca buku ini seminggu menjelang diadakannya bedah buku. Bahkan, 40% buku ini saya selesaikan di kereta api dalam perjalanan ke Yogyakarta.

Selain membedah buku, saya juga menyuguhkan buku saya sendiri untuk dibedah. Seperti para pembaca dari segala penjuru dunia sudah paham betul, belum lama ini buku saya Di Luar Sampul: Buku, Fenomena, dan Budaya Pop diterbitkan oleh penerbit Inteligensia Media, salah satu imprint Intrans Publishing. Nah, kali ini buku itu saya sampaikan ke grup Apsas untuk dibahas dalam Parade Obrolan 10 Buku. Dan lucunya, pembahas buku saya ini adalah Ari Bagus Panuntun yang terjemahannya saya baca. Begitulah kawan-kawan.

Buku Di Luar Sampul karya blogger Anda ini.

Dari acara ini, saya jadi tahu bagaimana rasanya buku kita dikomentari orang di depan hidung sendiri. Saya punya dua buku yang sudah terbit sebelumnya, yaitu buku Ekskavasi (kumpulan terjemahan lagu-lagu) dan buku Penelitian Kualitatif itu Menyenangkan (pengantar penelitian kualitatif). Tapi ya, selama ini belum pernah ada yang membahas buku-buku itu dalam konteks bedah buku. Makanya mohon dimaklumi kalau saya agak wagu ketika buku saya sedang dibahas orang di sebuah forum yang saya juga hadiri.

All in all, menyenangkan lah. Saya menunggu khalayak untuk membedah buku ini. Haha.

Membawa Hujan Buat Yogya

Satu hal yang istimewa di kunjungan saya ke daerah istimewa kita ini adalah oleh-oleh yang saya bawa. Begitu menginjakkan kaki di Yogya, saya disambut kawan baik saya mas Arie Saptaji dan dijamu di rumahnya. Arie ini juga orang yang saya kenal lewat milis Apsas. Waktu di rumahnya itulah saya tahu bahwa saya membawa oleh-oleh yang tidak saya sadari: oleh-oleh hujan.

Arie bilang bahwa sudah beberapa minggu Yogyakarta panas dan tidak lagi hujan. Padahal, di Malang nyaris setiap sore hujan deras. Tapi, siang ketika saya baru datang itu, hujan cukup deras sampai membatalkan satu rencana yang baru kami sepakati.

“Sepertinya sampean ke sini bawa hujan,” kata Mas Arie.

Besoknya, pagi hari setelah acara bedah buku, saya jalan-jalan dengan Sidik Nugroho, kawan yang dulu pernah tinggal di Malang tapi sekarang ada di Yogya. Dia mengajak saya ke Taman Kearifan di Universitas Gadjah Mada. Dia bilang tempat ini asyik dan ada danaunya. Namun, sekitar 3-5 menit sebelum kami tiba di lokasi, hujan mulai turun. Dan, ketika kami touch down di Taman Kearifan, hujan sudah deras dan kami mau tidak mau langsung masuk ke kafe (namanya Kafe Lembah).

Setelah nunggu dua jam sampai hujan reda, kami mulai jalan-jalan keliling Taman Kearifan ini. Di akhir perjalanan mengelilingi taman ini, kami kehujanan lagi dan harus masuk ke musholla buat berteduh dan tidur-tiduran. Setelah hujan agak reda, baru kami meninggalkan Taman Kearifan. Pada saat itulah saya sadar bahwa yang namanya Taman Kearifan itu adalah yang biasanya disebut-sebut orang sebagai “Lembah UGM” itu. Sering dengar namanya, baru lihat bentuknya, tak ubahnya hubungan dengan kawan-kawan anggota komunitas online.

Dek kayu di Danau Kebijaksanaan, UGM

Jadi ya, seistimewa itulah jalan-jalan ke Yogya kemarin. Tidak perlu diromantisasi pun kunjungan kali ini memang “kadit asaib”,” kata orang Malang. Semoga segera ada kesempatan lain ke Yogya yang sama-sama berartinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *