Setelah beberapa waktu bicara tentang tape player atau pemutar kaset, sepertinya sekarang kita bisa mulai bicara tentang suara yang diproduksi. Alih-alih berbicara tentang kualitas suara–yang saya sendiri kurang paham kategori-kategori penilaiannya–mari kita bicara tentang produksi suaranya saja. Pendeknya: bagaimana saya mendengarkan hasil pemutaran kaset (dan piringan hitam)?
Untuk sampai ke sana, bagusnya saya bercerita tentang sebuah bagian dari masa kecil atau kilatan-kilatan ingatan tentang suara. Dalam hidup, saya punya beberapa periode kualitas suara.
Ruang Tamu Rumah Nenek
Ketika masih kecil, saya sering main ke rumah nenek (depan rumah) di mana ada dua Oom yang suka mendengarkan musik. Di antara lagu-lagu yang mereka dengar, saya ingat Iwan Fals. Di antra kaset-kaset yang ada di rak, saya ingat Black Brothers. Di situ saya mengingat produksi suara yang menurut saya rumit: ada tape dengan pemutar kaset tunggal, ada ampli, ada “salon” (begitu mereka menyebut speaker di masa itu).
Saya ingat di ruang tamu rumah ada dua speaker di taruh atas, di dinding. Seingat saya, itu setup yang cukup lazim pada masa itu. Saat saya bertamu ke rumah seseorang, ada kalanya saya melihat salon (dengan boks bermotif kayu) ditopang mounting siku. Untuk mengatur kualitas suara, kita perlu memainkan ampli.

Dari masa-masa ini, saya mendapatkan kesan bahwa memutar musik secara serius itu rumit. Butuh speaker, butuh ampli, dan … butuh keahlian.
Musik Menemani Nenek
Tidak terlalu jauh dari era ini, saya punya tugas menemani nenek kalau malam hari. Saya tidur di rumah nenek dan di situ biasanya kami mendengarkan ceramah Zainuddin MZ sebelum tidur. Terkadang saya mendengarkan lagu-lagu Malaysia sampai tidur. Saya menemani nenek sampai adik saya cukup besar untuk ganti menemani nenek, mungkin waktu itu saya sudah kelas 1-2 SMP. Itulah masa mendengarkan musik dengan simple dengan radio.
Kualitas suara yang bagus bagi saya waktu itu cukup simpel: asal bisa didengar dan dikenali penyanyinya. Tidak ada yang namanya “high-fidelity” atau “kualitas audio”. Musik hanyalah soal mendengarkan lagu-lagu Malaysia dengan jelas menjelang tidur. Dari sana saya hafal lagu-lagu Search, Iklim, dan … ini dia yang paling saya suka:
Waktu itu saya baru belajar bahasa Inggris di sekolah dan belakangan juga ikut les bahasa Inggris. Mengeja kata “cinta kita” dengan pelafalan Bahasa Inggris itu benar-benar mindblowing!
Baru puluhan tahun kemudian saya tahu bahwa Upin & Ipin mengeja “ayam” dengan pelafalan bahasa Inggris “e – A – wai – e – em – YAM: ayam”.
Sementara begitu dulu. Selanjutnya kita akan lanjutkan sampai ke tahap akhirnya nanti bisa memiliki speaker yang cukup proper sehingga mendukung saya mendengarkan piringan hitam dan kaset ini.


