Surat buat Bapak-ibu Rektor Universitas di Indonesia

Bapak-ibu Rektor Universitas di Indonesia yang terhormat,

Senang sekali bahwasanya pada kesempatan ini saya bisa menulis surat kepada bapak-bapak sekalian. Memang, selama ini saya hanya pernah bergaul (erat) dengan kalangan akademisi di dua universitas di Indonesia. Betul. Dan saya yakin, hanya satu dari dua universitas itu saja yang benar-benar saya resapi kultur akademisnya. Namun, perkenankan saya menyampaikan sesuatu yang penting buat Anda sekalian, dan tentunya buat diri saya sendiri. Well (aduh… keceplosan deh gaya pemimpinya), ini hanyalah semacam studi banding, dan saya harap setelah membaca hasil studi banding ini bapak-ibu sekalian tidak usah studi banding sendiri ke luar negeri–uangnya bisa dihemat untuk studi banding yang lain :D. Oke, hasil studi banding saya itu adalah: Bagaimana universitas di luar negeri menyikapi arti penting penulisan dalam dunia akademis.

Yah, semua orang tahu, tulis-menulis bisa dibilang merupakan SALAH SATU kolom utama dunia pendidikan. Sejauh ini, cara paling efektif untuk menghantarkan ilmu adalah melalui tulisan. Memang ada kalanya ceramah langsung, semacam kuliah tamu, sangat penting. Tapi, tidak selalu begitu kan? Tidak mungkin kan kita yang di Indonesia ini terus-menerus mengundang Stephen Hawkins untuk berbicara soal teori Bing Bang? Lha wong mengundang Ir. Saputra untuk berbicara tentang ”ramuannya” di seluruh jurusan pertanian di Indonesia saja nggak mungkin kok. Ah, ada yang bilang soal pendidikan berbasis multimedia untuk transfer informasi? Ya ya ya… pada banyak kasus, pendidikan macam itu memang bisa dilaksanakan. Tapi tidak semua universitas di negeri pertiwi bisa menjalankannya kan? Dan tidak semua hal bisa diajarkan lewat multimedia kan? Jadi, inti paragraf ini adalah, bagaimanapun tulisan tetap menjadi sarana paling efektif dalam transfer pengetahuan.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu Rektor yang terhormat,

Di University of Arkansas, dan juga banyak universitas lain di Amerika Serikat, urusan tulis-menulis sangat diperhatikan. Tapi, ternyata mereka juga sadar bahwa tidak semua orang bisa menulis dengan gampang. Dan mereka pun sadar, banyak mahasiswa S1 menemui banyak kendala saat mulai menulis. Memang,tidak semua orang memiliki kemampuan menstruktur isi pikiran dengan baik. Jangankan yang kesulitan menstruktur pengungkapan ide, lha wong yang pinter ngomong di depan publik saja kadang-kadang kesulitan kok kalau harus menyampaikan pikirannya lewat tulisan. Tapi, apa lantas mereka tinggal diam dan hanya membakar semangat para mahasiswanya untuk (belajar) menulis? Tidak.

University of Arkansas–maaf saya terus-menerus menyebut universitas ini, karena di sinilah saya mengalami sesuatu yang ingin saya ceritakan kepada bapak-ibu sekalian itu–menyediakan sebuah unit pendukung belajar menulis. Di sini unit tersebut bernama Quality Writing Center–tentu saja universitas-universitas lain punya unit serupa yang namanya berbeda-beda sesuai selera. Unit ini dijalankan oleh tenaga yang terdiri dari pekerja profesional dan juga mahasiswa pasca sarjana jurusan bahasa Inggris sebagai tutor.

Layanan yang diberikan Quality Writing Center ini antara lain: 1. memberikan tutorial mengenai cara-cara penulisan makalah dengan berbagai gaya (well, di sini ada sejumlah gaya dalam menuliskan makalah, sesuai dengan bidang ilmu masing-masing), 2. membantu mahasiswa mengembangkan gagasan sebelum mulai mengetik, 3. membantu mengoreksi struktur tulisan maupun elemen-elemen kebahasaan, 4. membantu mahasiswa (mahasiswa internasional, khususnya) mengatasi kendala bahasa dalam menulis makalah, 5. dll…

Kalau pengalaman saya sendiri beberapa jam yang lalu, saya ditutori seorang mahasiswa pascasarjana bernama James. Tutor saya ini memperkenalkan kepada saya gaya penulisan makalah MLA style yang lazim dipakai untuk bidang-bidang ilmu humaniora. Selain itu, dia juga membantu saya dalam hal memahami konsep-konsep vocabulary yang rumit, yang bahkan buat native speaker bahasa Inggris sendiri seringkali menjadi masalah, dan juga memberikan masukan mengenai penggunaan phrasal verb atau idiom babhasa Inggris yang banyak digunakan dalam perbincangan (karena saya sedang butuh untuk salah satu mata kuliah saya).

Bapak Ibu Rektor yang terhormat,

Perlu saya beritahukan bahwa servis yang ditawarkan di QWC ini buka mulai jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Oh ya lagi, tenaga yang menutori itu adalah (lagi-lagi) mahasiswa bahasa Inggris yang melakukan pekerjaan itu sebagai sebuah pekerjaan (mereka menjadi teaching assistant). Biasanya, karena teaching assistanship itu mereka mendapat pembebasan SPP (nah, kesempatan seperti inilah salah satunya yang membuat kuliah S2 di Amerika itu bisa terjangkau bagi banyak orang).

Karena itulah, menurut saya pribadi, tidak ada salahnya dicoba bikin unit yang membantu penulisan di universitas-universitas tercinta di alam nuswantara. Contoh saya di atas memang sih bahasa Inggris, karena latarnya mereka Amrikiyyah. Jadi ya, kalau di Indonesia bisa disesuaikan dengan konteks lah :D. Tutornya mahasiswa bahasa Indonesia atau siapa saja yang pandai dan menguasai keterampilan menulis dsb, dst, dll, dllajr.

Sementara begitu dulu, Bapak-ibu, surat dari saya ini. Semoga meskipun agak ngawur dan (semoga tidak terlalu) kurang sopan, surat ini bisa memberikan sedikit banyak masukan demi peningkatan kualitas pendidikan di tanah air. Well, lagi-lagi, marilah kita ambil yang asyik-asyik, yang mungkin akan berguna buat kita sekalian.

Dengan asyik,

Si Pemimpi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *