Categories
diari perjalanan serbasuka

Kembali Melihat Bima Sakti

Saya masih ingat, suatu saat waktu masih kecil pernah dikasih tahu bapak kalau sebaran bintang-bintang lembut yang sering tampak jelas di langit, yang seperti kabut abadi itu, disebut Bima Sakti. Saya lupa-lupa ingat apa makna dibalik nama Bima Sakti itu, tapi kalau tidak salah ada hubungannya dengan susu yang tumpah saat Bima masih balita. Lama kemudian, mungkin waktu saya SMP atau SMP saya mengetahui bahwa bahasa Inggrisnya Bima Sakti adalah “Milky Way.” Seingat saya lagi, “Milky Way” itu ada hubungannya dengan susu Hera yang tumpah saat menyusui Hercules. Saya menghubung-hubungkan dengan apa yang pernah saya dengar dari bapak waktu masih kecil. Ada kisah kasih bunda di langit sana, baik itu menurut orang Yunani maupun orang Jawa tradisional (yang mungkin berasal asal usul sumbernya berkembang sejak masa Mahabharata masih di India).

Saya mendengar kisah ini dari bapak kira-kira tahun 1986, ketika adik saya masih berumur kurang dari 1 satun, ketika Komet Halley menampakkan dirinya pada pagi hari sebelum subuh. Bapak saya suka membangunkan saya pagi-pagi untuk melihat komet itu. Saya sendiri lupa apakah waktu itu saya bangun atau itu. Saya ingat lagi melihat komet ketika masih SMA, sekitar tahun 1997-an. Orang-orang menghubungkan komet tahun 1997-an itu dengan      suatu goro-goro yang akan datang. Mungkin komet itulah yang menginspirasi mahasiswa melakukan Reformasi 1998, tentu saja bersama dengan “inspirasi” dari anjloknya rupiah dan melonjaknya harga barang. 😀

Tapi, setelah meninggalkan Krembung, Sidoarjo, lama sekali saya tidak pernah melihat sendiri sebaran bintang Bima Sakti, yang sebenarnya adalah bagian dari cakram galaksi Bima Sakti dilihat dari tengah (posisi tata surya kita kan kira-kira di tengah galaksi ini). Ketika saya tinggal di Malang, mustahil melihat Bima Sakti, begitu pula ketika saya tinggal di Kediri selama nyaris dua tahun.

Baru minggu lalu saya kembali melihat Bima Sakti, ketika kemping bersama keluarga di Roaring River State Park, salah satu hutan lindung yang berada di lokasi Mark Twain National Forest (ya, kawasan hutan nasional di seluruh negara bagian Missouri diberi nama Mark Twain National Forest demi menghormati putra daerah yang menjadi penulis tak lekang zaman itu). Di tengah hutan yang berjarak setengah jam dari kota terdekat, di kawasan yang bebas dari polusi cahaya, langit tampak semarak dengan bintang gemintang. Sesekali terlihat satelit melintas, mungkin International Space Station, mungkin satelit lain. Di situlah, di sebelah selatan dari tempat kami memacak tenda, tampak bima saktu seperti asap yang membumbung separuh langit dari balik pepohonan.

Entah, pengalaman spiritual mana lagi yang lebih dahsyat dari itu di malam itu…

Berikut ini saya pinjamkan foto Bima Sakti dari akun Flickr seorang kawan yang sehari-hari bekerja sebagai pustakawan di Colorado Springs tapi memiliki hobi fotografi angkasa. Beberapa karyanya dimuat di situs dan majalah angkasa cukup prestisius. Sebenarnya saya ingin memotret sendiri Bima Sakti untuk postingan ini, tapi karena belum adanya kesempatan dan kemampun, akhirnya ya saya ambil ini saja biar mantep.

Foto Bima Sakti karya Joel Tonyan yang bisa dilihat di sini: https://www.flickr.com/photos/tychosnose/20663875933/in/pool-universetoday/
Foto Bima Sakti karya Joel Tonyan yang bisa dilihat di sini: https://www.flickr.com/photos/tychosnose/20663875933/in/pool-universetoday/

One reply on “Kembali Melihat Bima Sakti”

[…] Saya pun bersiap menikmati malam kemping pertama bersama keluarga saya. Dan saya berharap ini bukan kemping yang terakhir kalinya. Malam harinya kebetulan bulan tak tampak dan langit sangat cerah. Saya buka tudung luar tenda sehingga kami bisa melihat langit dari atap tenda kasa (memang, tenda yang saya beli bekas dengan harga super murah ini menurut labelnya adalah tenda musim panas). Kami lihat bima sakti yang indah. Tak ada jaringan telpon, apalagi internet. Hanya ada aroma ikan dari tenda-tenda sebelah. Suara tetangga yang ngobrol tak henti-henti. Ada juga suara dengkuran dari tenda sebelah yang kecil dan cuma berisi satu orang. Memang jarak antara satu tenda dan tenda lainnya cukup jauh, tapi di tengah alam yang sunyi tanpa deru mobil dan klakson, dengkuran tetangga pun terdengar nyaring (meskipun fals). Sepertinya si bapak yang mendengkur itu datang cuma untuk memancing dan menggunakan tendanya cuma untuk tidur (dia bahkan tidak terlihat memanggang apa-apa). Untuk foto bima sakti yang terlihat cantik malam itu, saya persilakan Anda melihat foto teman saya seorang pustakawan yang juga tukang foto angkasa yang cukup terhormat di postingan ini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *