Airbnb, Linux, dan Obat Ganteng

Pada tahun 2016 itu, tahun terakhir saya di negara Aa’ Syam, saya berkesempatan kembali mengikuti konferensi American Comparative Literature Association (ACLA). Kali ini cukup spesial, karena ada beberapa hal yang baru pertama kalinya saya alami dalam pengalaman ber-ACLA saya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya berencana menginap dengan sahabat saya Asaad, yang kali itu karirnya sudah melambung dan tidak lagi mengajar di Utah, melainkan di sebuah universitas di Washington DC. Namun, karena satu dan lain hal membuatnya baru bisa datang pada hari kedua konferensi, saya harus menyewa kamar seorang diri pada malam pertamanya. Di situ saya menemukan hal baru.

Oh iya, perlu saya tegaskan di sini bahwa konferensi ACLA tahun itu diadakan di kota Cambridge, Massachussetts, dengan tuan rumah Harvard University. Bagi saya, kampus ini sangat istimewa karena berbagai hal: karena kampus ini merupakan latar dari salah satu film favorit saya (With Honors, 1994), karena kampus ini juga latar dari kisah novel roman populer Love Story (Erich Segal), dan karena kampus ini juga tempat belajarnya orang yang sangat saya hormati, yaitu Richard Stallman, penggagas GNU (yang sekarang terkenal sebagai GNU/Linux) dan orang kuat Free Software Foundation.

Bahwasanya ini adalah tempat Richard Stallman belajar perlu saya sebutkan karena sejak beberapa tahun sebelumnya saya menggunakan Linux dan mengagumi filosofi yang melandasi pengembangan dan persebaran sistem operasi merdeka dan gratis ini.

Tapi, karena di awal tadi saya menjanjikan akan menceritakan hal-hal yang baru saya alami pertama kalinya di sini, maka marilah kita mulai bicara serius.

Hal baru pertama yang saya coba di kota ini adalah airbnb. “Airbnb” adalah kepanjangan dari “airbed and breakfast,” yang maknanya adalah menginap di sebuah tempat yang tidak lazimnya menyediakan penginapan (sehingga bisa saja kita tidur di atas kasur angin). Biasanya, dari airbnb kita bisa mendapatkan kamar di sebuah rumah yang salah satu anggota keluarganya sudah mentas sehingga salah satu kamarnya bisa diisi orang menginap. Kali itu, karena pada malam pertama saya tidak bisa bersama Asaad, saya memesan airbnb. Tempatnya khas Cambridge, sedikit masuk dari jalan raya (tidak jauh dari fakultas hukum Harvard University–tempat kuliahnya Oliver Bennett III, tokoh cerita novel Love Story), di lingkungan yang cukup padat tapi rapi, dengan rumah-rumah bergaya Amerika urban, rumahnya mungil dengan ruangan-ruangan mungil, warnanya putih atau krem, banyak jendela kaca, dan kebanyakan konstruksinya dari kayu.

Tuan rumah saya adalah seorang perempuan yang berasal dari Inggris dengan dua anak, laki-laki dan perempuan. Kamar yang saya tempati ada di sebelah ruang tamunya yang kecil. Ada gambar Marilyn Monroe dengan warna pop art di atas bagian kepala kasur. Ada rak di sana dengan beberapa buku dan satu kantong plastik berisi sumpal telinga, buat mereka yang butuh uasana sangat sepi untuk bisa tidur. Tidak ada kamar mandi di sana, sehingga si tuan rumah mempersilakan saya menggunakan kamar mandinya di lantai atas, di dalam kamarnya. Begitu datang, saya meminta izin untuk mandi dan sholat, dan kemudian saya bablas ke kampus dan baru balik pada malam harinya, setelah acara tuan rumah usai. Ternyata, tuan rumah saya punya bisnis unik, menjamu makan malam sekelompok orang dengan hidangan rumahan khas. Saya pernah baca review atas layanannya di internet.

Pengalaman airbnb pertama saya itu kebetulan menyenangkan.

Hal baru kedua yang saya alami adalah komputer Linux. Kali itu, untuk pertama kalinya, komputer kecil yang saya pakai itu (yang sekarang juga saya pakai mengetik postingan ini) hanya memiliki sistem operasi berbasis GNU/Linux. Saya menginstall Ubuntu rilis terbaru tapi menggunakan desktop environment “Openbox.” Waktu itu saya masih maruk-maruknya dengan Openbox, yang membuat komputer saya terasa super ringan dan cepat, meskipun tampilan grafisnya saat itu sangat mentah. Saya menikmati tampilan mentah dan s`ederhana komputer saya waktu itu. Bahkan, saking sederhananya, untuk mematikan atau menghidupkan touchpad saja saya perlu mengetikkan perintah di terminal.

Terkait sistem operasi Linux dengan tampilan mentah ini, ada satu cerita yang membuat saya merasa seperti orang hebat. Di salah satu sesi yang saya hadiri (bukan sesi saya sendiri), komputer yang dipakai penyaji agak bermasalah, sehingga mereka membutuhkan komputer lain. Karena tidak ada yang menawarkan komputernya, akhirnya saya pun (yang waktu itu hanya menjadi penonton) menawarkan memakai komputer saya untuk presentasi. Masalahnya, touchpad komputer saya waktu itu sedang default off (linux membuat saya yakin bahwa kita bisa menjalankan komputer tanpa mouse atau touchpad, seperti yang dilakukan oleh Richard Stallman dengan aplikasi Emacs-nya, hahaha). Tapi, karena orang yang saya pinjami perlu menggunakan touchpad, akhirnya saya pun atur komputer agar Touchpad aktif. Saya pun membuka terminal dan mengetikkan “synclient TouchpadOff=0” untuk mengaktifkan Touchpad. Masalahnya, ketika itu komputer saya sudah dalam keadaan terhubung ke proyektor dan semua orang di ruangan kecil itu bisa melihat yang saya ketikkan di terminal. Salah seorang peserta panel mengira saya ahli IT dan bahkan menganggap saya hacker. Padahal, kebetulan saja itu satu dari sedikit kode yang saya hafal.

Penggunaan komputer bersistem operasi Linux untuk presentasi formal itu membuat saya percaya bahwa sistem operasi Linux bisa melakukan tugas-tugas profesional secara penuh. Maka, sejak saat itu, setiap kali saya harus melakukan presentasi ke luar kota tapi tidak ingin membawa komputer kerja saya yang berat, saya tinggal membawa komputer kecil yang hanya punya Linux itu.

Satu hal yang belakangan saya ketahui tak kalah menariknya. Ternyata, tempat saya mendapatkan keyakinan tentang kemampuan sistem operasi GNU/Linux itu sebenarnya dekat saja dengan gedung kuliah jurusan fisika Harvard University, tempat Richard Stallman belajar ketika masih S1, dan Richard Stallman bukanlah orang sembarangan.

Sebenarnya ada satu lagi hal baru yang saya dapatkan di Cambridge, yaitu sebuah sisir plastik warna gading yang saya beli dari toserba kecil CVS yang ada tepat kawasan Harvard Square, tempat tokoh yang diperankan Joe Pesci dalam film With Honors mengambil koran dari kotak penjualan koran dan menjualnya kepada orang-orang yang lewat. Eh, selain sisir plastik yang saya butuhkan sebagai obat ganteng itu, saya juga beli kaos kaki sepaket isi tiga pasang yang salah satunya bermotif argyle, yang membuat saya tampak seperti profesor standar Amrik. Sebagian dari kaos kaki itu masih ada, dan sisir warna gading itu saat ini masih menjadi obat ganteng, meskipun efektivitasnya sudah jauh berkurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *