Antara Adzan Maghrib dan Isya’ di ICNWA

Terus, apa yang biasanya terjadi ketika adzan maghrib berkumandang pada bulan puasa di masjid Islamic Center of Northwest Arkansas (ICNWA)? Biasanya kami langsung buru-buru mengambil posisi di hadapan salah satu plastik alas makan yang sudah tergelar di lantai karpet. Sebelumnya sudah saya sebutkan bukan kalau sudah ada mangkuk-mangkuk styrofoam kecil berisi korma dan gelas plastik dan botol-botol plastik berisi soda dan jus buah itu? Nah, bisa ditebak yang terjadi selanjutnya. Kami makan kurma dan minum-minum soda. Beberapa orang yang ingin takjil hangat segera ke meja dan mengambil bubur kacang ala Arab yang sudah disiapkan di sana.

Tidak berapa lama kemudian, ada salah satu brother yang mengumandangkan iqamah. Kami segera sholat. Pada hari-hari biasa, setidaknya ada dua atau tiga baris jamaah di ruang utama masjid. Jamaah putri ada di lantai atas. Mereka berada di bagian atas dan bisa melongok ke ruang utama yang seperti atrium. Jamaah laki-laki tidak pernah bisa melihat ke atas. Ada kaca cermin satu sisi yang menghalangi pandangan jamaah laki-laki. Biasanya sholat maghrib cukup singkat. Tolong disadari, pada tahun 2008 itu, puasa jatuh pada akhir musim panas dan maghribnya sekitar pukul 19.30 atau 20.00-an. Saya lupa detailnya.

Pasca sholat, kami langsung berbaris mengular di depan deretan meja persegi warna putih sambil memegang piring styrofoam dan sendok plastik. Para brother dari Arab dan Yordania biasanya memasak sekaligus melayani para “pembuka.” Kami ambil makanan sesuai selera. Yang suka nasi mengambil nasi (nasi biryani dengan kismis dan daging ayam atau kambing). Yang suka roti mengambil pita bread. Ada ayam bumbu kuah. Ada salad. Ada lain-lain. Selanjutnya, kami kembali ke baris-baris plastik alas makan untuk meningkati hidangan pembuka puasa kami.   

Para jamaah bukber mengantri sepiring nasi biryani atau pita bread

Yang paling awal saya ingat adalah soda begitu melimpah. Ini Amerika, Bung. Kalau dulu saya selalu beranggapan bahwa soda itu bisa bikin sakit maag dan sejenisnya, entah kenapa di Amerika kekhawatiran semacam itu hilang. Dan, seperti bisa disarikan dari cerita, banyak sekali alat makan sekali pakai dari plastik dan styrofoam di sana, kan? Ini Amerika, Zus. Tapi saya tidak terlalu terganggu oleh pemandangan itu. Baru sekarang, ketika sudah jauh dari Amerika, saya merasa risih sendiri mengingat momen-momen yang membutuhkan begitu banyak alat sekali pakai itu. Mungkin ini dampaknya baca buku Kiai Faizi Merusak Bumi dari Meja Makan itu ya?

Sambil makan, biasanya kami bercakap-cakap tentang berbagai hal. Kami sangat beragam dalam hal bidang minat. Ada yang mahasiswa teknik, ada yang mahasiswa sastra, ada yang di Arkansas hanya untuk belajar bahasa Inggris untuk memenuhi persyaratan TOEFL. Ada yang kerja di pabrik. Ada yang kerja kantoran. Ada yang menemani istrinya kuliah. Ada yang mengunjungi anaknya kuliah. Ada yang menghabiskan masa tuanya di Amerika setelah menjalani kehidupan yang berat di Eropa. Dan lain-lain. Pendeknya, tidak akan habis cerita. Yang menyatukan kami hanya alas makan itu.

Setelah usai sesi makan itu, kami biasanya buang piringnya ke tempat sampah (plastik bag besar yang dibawa masuk ke dalam masjid). Gelas-gelas minum terkadang dibiarkan di sana. Ada beberapa brother yang kemudian bervolunteer untuk membersihkan. Biasanya, brother-brother dari Indonesia yang tidak ikut masak suka membantu membereskan sisa makan. Alas plastik putih itu langsung saja kami lipat dan gulung dengan gelas-gelas styrofoam di dalamnya. Kami jadikan buntelan plastik yang tinggal dibuang ke dumpster tempat saya memarkir sepeda.

Ketika keluar untuk membuang sisa-sisa makan itu, di luar biasanya sudah ada beberapa brother yang berbincang-bincang sambil merokok. Anak-kanak berlarian ke sana ke mari. Entah kenapa mereka begitu suka main “Tag.” Di dekat dumpster itu ada beberapa spot parkir yang dipakai untuk yang sangat membutuhkan: brother-sister yang sudah usia lanjut atau mobil para brother yang membawa makanan. Terkadang ada juga moge milik seorang brother yang kami sebut “Brother Vroom-vroom” karena suara motornya. Salah satu mobil yang rutin ada di sana adalah van putih besar milik brother Ryszard, seorang imigran asal Polandia yang sudah lanjut usia dan tinggal sendiri di Arkansas.

Sementara begitu saja cukup gambarannya. Kita lanjutkan gambaran ini lain waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *