Manggung “Restoe Boemi” di Acara Bukber 90-an

(Saya harus mengawali dengan sebuah disklaimer: Mestinya hari ini waktunya saya menulis tentang Ramadhan di Arkansas, tapi demi mendengar kabar wafatnya Erwin dua hari yang lalu dan melihat banyaknya respons tentang perang Erwin di Dewa19, saya jadi tergerak juga pingin menceritakan persentuhan saya dengan lagunya Dewa19.)

Ketika SMA, hidup saya mengalami semacam pergeseran yang lumayan serius. Ada hal baru yang semakin lama semakin menguat, yaitu minat saya kepada musik. Kalau sejak SMP saya sudah banyak mendengar musik berbahasa Inggris (lewat acara Klip bareng Tamara Geraldine dan Dicky Chandranegara), saat SMA saya mengupgrade kedekatannya saya dengan musik. Saya mulai belajar main gitar, kibord, bikin-bikin lagu lugu, dan akhirnya ikut band. Salah satu milestone penting dalam hubungan saya dengan musik adalah—tolong bapak petugas keamanan agar mengondisikan para pembaca ini biar tidak brutal—saya menyanyikan lagu “Restoe Boemi” dengan iringan satu gitar saja. Untungnya ini saya menyanyi hanya di acara buka bersama. Oh iya, saya juga menyanyikan satu lagu legendaris lainnya. Lagu apa?

Tunggu dulu. Mari kita ikuti dulu ceritanya. Buat apa buru-buru. Toh maghrib sudah lewat.

Saya punya kawan dekat SMA yang sangat berpengaruh bagi saya. Namanya Nasim. Dia punya kakak yang gemar main musik. Dia punya gitar. Dia sudah ke mana-mana bawa motor. Dukungan keluarga, fasilitas, dan mobilitas itu akhirnya memungkinkan dia main band di Sidoarjo. Karena dia sobat karib saya sejak kelas 1 SMA, akhirnya saya jadi banyak tahu juga tentang band. Kalau dulu sejak SMP saya suka dengar band-band dan lagu-lagu cinta dengan fokus ke liriknya saja, dengan Nasim saya jadi tahu kalau di sebuah band itu yang ada bukan hanya gitar, drum, dan kibord. Di sana juga ada bass. Dengan Nasim, yang waktu itu punya band di kota Sidoarjo dan di sekolah sering cerita ke saya “petualangan”nya di studio yang dia sewa, wawasan saya ke musik (terutama yang berbasis band) jadi lebih terbuka.

Satu “latihan” yang saya alami selama bersama Nasim adalah mengenali suara bass. Nasim tidak pernah kesulitan menemukan suara bass karena dia drummer di bandnya. Saya berjuang mati-matian menemukan suara bass di antara genjrengan gitar akustik, sayatan gitar listrik, gebukan snar drum, dan tonjokan bass drum. Sampai akhirnya hidayah itu pun akhirnya datang: saya bisa menemukan suara bass gitar yang ternyata selalu beriringan dengan bass drum. Menemukan suara bass drum adalah sebuah kejutan yang tak tepermanai. Maka, ketika menemukan lagu-lagu, saya selalu mencoba mengenali suara bass yang ternyata tidak otomatis disadari oleh semua orang itu.

Nah, Nasim dan abangnya, Mas Mamad, adalah penggemar Dewa19 sejak album pertama. Memang sih, saya sudah suka mendengarkan Dewa19 sejak album kedua. Saya ingat waktu video klip “Aku Milikmu” muncul. Saya juga suka “Cinta Kan Membawamu Kembali” waktu video klipnya muncul (saya selalu tahu video klip mereka dari acara Video Musik Indonesia yang diampu mbak Dian Nitami). Saya lihat Dewa19 di Akustik Plus ANTeve (saya ingat betul Andra menunjukkan petikan “Kangen” yang bagi Ahmad Dhani berbeda kalau band lain yang menciptakan lagu itu). Dari dulu saya kenal Dewa19. Tapi, bersama Nasim, saya jadi tahu Dewa19 lebih mendalam. Saya jadi tahu arti penting masing-masing personil.

Karena itulah, ketika album Terbaik-terbaik muncul, saya menyambutnya dengan gegap gempita. Saya sekarang sudah tahu mereka (seolah-olah luar dalam). Saya terkaget-kaget ketika “Cukup Siti Nurbaya” begitu berbeda dengan Dewa19 yang saya ingat dari masa SMP. Tapi, kali ini lebih keren. Ngerock. Ada Bianca Adinegoro yang mengesankan kosmopolitanisme bagi saya. Ada “agitasi murahan yang ada lagi”! Kurang apa. Dan, ini dia yang paling agung, saya menemukan suara bass yang tidak standar seperti menemani drummer berlari sepanjang lagu ini. Itu dia! Erwin! Terus, masih belum, di bagian akhir menjelang habisnya lagu, ternyata ada bass yang bermain melodi (tentu tidak bisa saya gambarkan di sini, tapi kalau Anda dengar lagunya, sebelum akhir pasti terasa melodi bass itu).

Nah, sehebat-hebatnya lagu “Cukup Siti Nurbaya,” yang sangat digemari Nasim kawan saya itu ternyata lagu “Restoe Boemi.” Saya yang tidak punya kasetnya Dewa19 mana pernah mendengar lagu itu. Hingga akhirnya di radio beberapa kali saya dengar dan saya sempat pinjam kaset dari kawan. Akhirnya, saya tahulah, memang lagu yang misterius itu layak dicintai. Dia terkesan klasik, melodius, anggun, vokalnya rendah, low profile in all grandeur!Maka, ketika tiba bulan puasa saat kelas 2 SMA, ketika buka bersama mulai trending, ketika kawan-kawan menyiapkan pengisi acaranya, saya dan Nasim mengajukan diri menyanyikan lagu “Restoe Boemi.”

Maka, di sore Ramadhan yang basah itu, terjadilah acara tersebut. Saya diantarkan bapak saya ke rumah Nasim di pinggiran Kecamatan Toelangan. Ya, saya tidak punya motor sendiri dan lebih sering diantarkan orang tua ke mana-mana. Saya bisa nyetir motor dan hanya sesekali saja jalan jauh pakai motor (ke Porong satu dua kali, ke kota Sidoarjo satu dua kali, lainnya diantar bapak atau sama Nasim dan teman-teman lain). Dari tempat Nasim, kami pergi ke lokasi buka bersama, sebuah rumah megah di kawasan perumahan baru di Toelangan. Seingat saya sekarang, rumah megah itu mirip rumah-rumah bergaya Mediterania di sinetron jaman 90-an itu. Mungkin tidak semegah rumah sinetron, tapi megah lah buat ukuran saya. Pemiliknya adalah kawan sekela kami, Maya, anak pemilik toko yang sangat sukses.

Di tempat itulah kami haha-hihi dan berbuka. Hingga akhirnya, pasca berbuka, saya pun berkesempatan menyanyikan lagu “Restoe Boemi” itu diiringi permainan gitar Nasim. Kami duduk bersila. Saya pegang mike, tapi gitar tanpa mike. Menurut saya menyanyi saya payah, tapi menyenangkan. Suara saya bukan suara penyanyi, tapi saya bahagia. Dan, setelahnya, kami juga menyanyikan satu lagi yang sidang pembaca mungkin tidak akan menduga. Saya menyanyikan “Cinta” dari Anang dan Krisdayanti. Mungkin seorang kawan perempuan yang menyanyikan bagian Krisdayanti-nya, tapi saya tidak ingat sama sekali. Yang pasti tidak ada adegan peluk-pelukan seperti video klip yang dibuat di Bali itu.

Setelah acara usai, saya dan Nasim meninggalkan perumahan. Di depan perumahan, saya menunggu bapak saya menjemput. Tidak ada SMS waktu itu. Ada telepon, tapi saya tidak kepikiran menelpon. Saya hanya minta dijemput bapak jam 8 malam. Setelah agak lama menunggu di kegelapan, akhirnya muncul bapak saya dari arah rumah Maya. Ternyata bapak saya tadi menjemput ke sana dan diberi tahu Maya bahwa saya sudah pamit duluan. Begitulah kisah penyanyi event yang diantarkan bapaknya waktu mau manggung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *