Categories
sastra terjemahan

Binatang Apa itu Transkreasi atau “transcreation”?

Postingan ini kira-kira versi singkat dari apa yang saya sampaikan di acara obrolan bertema penerjemahan yang diadakan di Polinema pada hari Sabtu 31 Oktober 2020 kemarin. Acaranya namanya WeTalk, sebuah acara pertemuan daring rutin yang visinya adalah membahas berbagai jenis dan aspek penerjemahan sehingga teori-teorinya bisa diterima dengan mudah.

Kebetulan saya diajak Pak Sugeng Hariyanto untuk ikut ngobrol tentang transkreasi. Pak Sugeng adalah pembicara rutin acara ini, yang mengadakan, sebagai pimpinannya perusahaan penerjemahan Transkomunika sekaligus Kepala Prodi Bahasa Inggris di Polinema. Selain itu, ada juga mas Ade Indarta, penerjemah pro yang pernah berkarir di Facebook Singapura dan punya pengalaman panjang di berbagai jenis penerjemahan, termasuk transkreasi ini. Saya diminta berbicara tentang transkreasi di bidang sastra.

Mas Ade Indarta, dengan pengalaman panjangnya, memberikan gambaran yang jernih tentang transkreasi dari sudut pandang umum dan praktiknya di dunia penerjemahan. Dalam presentasinya, Mas Ade menjelaskan perbedaan umum antara transkreasi dan penerjemahan, mulai dari definisinya, bentuk pekerjaannya, sampai cara penggajiannya. Saya sangat suka dengan penjelasannya yang langsung membidik apa yang perlu diketahui orang secara umum tentang transkreasi saat ini.

Untuk bagian saya sendiri, moderator, Mbak Maya Rizki Fauzia meminta saya menjelaskan tentang transkreasi di bidang sastra. Untuk menjawab itu, saya mengunjungi kembali artikel Viviana Gaballo dari tahun 2012 yang mencoba mencari kekhasan transkreasi di tengah berbagai jenis penerjemahan. Sebenarnya agak-agak malu juga saya menjelaskan pertanyaan dengan artikel ilmiah. Rasanya kayak dosen sekali. Tapi ya, artikel itu menurut saya bisa dengan jernih menunjukkan hubungan antara transkreasi dan bidang sastra.

Eh, hubungannya bagaimana sih?

Jadi begini: Istilah transkreasi (transcreation) itu pertama kali muncul dipakai oleh Purushottama Lal (penerjemah dan dosen dari India) untuk menyebut karya terjemahannya atas epik Mahabharatta ke dalam bahasa Inggris dari bahasa Sanskerta.

Tapi, lebih dari itu, yang penting saya soroti dari artikel Gaballo itu adalah bahwa transkreasi telah didefinisikan dengan agak berbeda-beda di antara tiga kelompok yang terkait: akademisi, penerjemah, dan penyedia jasa bahasa:

Akademisi

Di bidang akademik, transcreation awalnya diterjemahkan sebagai upaya penerjemahan (karya sastra) yang membutuhkan kebebasan dan kreativitas penerjemahnya. Itu di era 60-an dulu, dipantik oleh Pak Lal sendiri. Tapi, yang namanya akademisi itu cenderung mencari-cari definisi yang tegas, sementara kebebasan dan kreativitas itu bisa dibilang juga dipakai dalam bentuk penerjemahan sastra secara umum, akhirnya mandeklah diskusi transkreasi di bidang akademik. Para akademisi menganggap transkreasi itu tidak unik-unik amat. Penerjemahan sastra secara umum juga melakukan itu. Nah, kekosongan ini akhirnya disambit oleh para praktisi.

Penerjemah

Nah, bagi panerjemah, transkreasi ini memiliki makna yang semakin spesifik lagi. Transkreasi adalah praktik penerjemahan yang sangat erat kaitannya dengan penerjemahan bahan-bahan marketing dan periklanan, yang lazimnya disebut sales copy. Memang para penerjemah mengakui adanya kemiripan nada dengan panerjemahan di bidang sastra. Tapi, kalau melihat praktiknya transkreasi yang membutuhkan kemampuan berkreasi dengan bahasa, maka yang tampak adalah transkreasi ini seperti overlapping dengan copywriting, penulisan materi untuk pemasaran dan periklanan.

Penyedia Jasa Bahasa (agen penerjemahan)

Bagi para penyedia jasa ini, transcreation sudah benar- benar merujuk pada penerjemahan khusus materi untuk pemasaran dan periklanan. Jadi, hubungannya dengan sastra sama sekali tidak jadi bahasan. Selain itu, transkreasi ini juga dimaknai sebagai satu bentuk penerjemahan ketika teks yang dihadapi tidak bisa diterjemahkan ke bahasa sasaran dengan mudah. Dan, satu praktik yang juga lazim dalam transkreasi adalah bahwa hasil kerja transkreasi ini diedit oleh seorang copyeditor, atau editor yang memang tugasnya adalah mengedit hasil copywriting. Nah, hal ini senada dengan yang disampaikan mas Ade Indarta, yang mengatakan bahwa seringkali pekerjaan transkreasi ini dia dapatkan bukan dari agen penerjemahan, tapi dari agen periklanan.

Dalam artikel yang saya kunjungi lagi itu, Viviana Gaballo mencoba menyodorkan jawaban tentang apa yang membuat transkreasi itu khas (distinctive) di antara berbagai bentuk penerjemahan yang lain. Jawabannya adalah pada “(linguistic) productivity” atau kemampuannya untuk memberikan dampak yang sama terhadap pembacanya meskipun untuk melakukan itu transkreator menggunakan struktur kalimat dan kata-kata yang jauh berbeda dengan padanan dari bahasa sumbernya. Selain itu, transkreasi juga khas karena dia bisa menjadi solusi ketika penerjemahan secara umum tidak mudah dilakukan.

Transkreasi dan Sastra Hari Ini

Uniknya, pada saat ini, istilah transkreasi itu tidak menjadi perbincangan sama sekali di bidang sastra. Padahal, pada kenyataannya hal tersebut tetap dijalankan di bidang sastra. Penerjemahan sastra (terutama puisi) masih sangat diwarnai dengan kekhasan transkreasi seperti menurut Gaballo di atas. Penerjemah puisi menggunakan struktur kalimat dan pilihan kata yang terkadang bisa jauh dari terjemahan literal demi menciptakan dampak pada pembaca di bahasa sasaran apa yang dirasakan oleh pembaca di bahasa asal.

Dan hal ini juga didukung dengan fakta bahwa setidaknya ada dua jenis aliran dalam penerjemahan sastra. Di satu sisi, ada aliran yang lebih ingin mempertahankan sebanyak mungkin elemen dari bahasa aslinya, meskipun akhirnya menghasilkan terjemahan yang agak kurang lancar dibaca. Aliran ini dikenal sebagai aliran “sourcerer.” Sementara, di sisi lain, ada aliran penerjemahan yang lebih ingin menghasilkan karya yang lancar di baca di bahasa sasarannya, meskipun itu artinya si penerjemah perlu melakukan negosiasi dan kompromi dengan isi di bahasa aslinya. Aliran ini dikenal dengan istilah “targeteer.” Nah, pada targeteer inilah kita bisa menemukan praktik-praktik yang serupa dengan apa yang dianggap sebagai ciri khas transkreasi itu menurut Gaballo, yaitu praktik membuat karya terjemahan yang bisa memberikan dampak seperti karya aslinya meskipun dengan akrobat dalam berbahasa.

Di dalam dunia penerjemahan sastra saat ini, istilah transkreasi sama sekali tidak dibicarakan. Yang justru lebih lazim adalah istilah “adaptasi” yang tentu sampai saat ini didefinisikan secara longgar sebagai “penerjemahan yang lebih bebas.” Padahal, kalau kita telisik, banyak dari praktik-praktik yang disebut adaptasi itu bisa jadi hanya penerjemahan yang bebas atau juga bisa berupa transkreasi, di mana penerjemah mencoba mencarikan solusi untuk hal-hal yang sulit diterjemahkan dengan cara berpegang kepada dampak karya terhadap pembaca dan bermanuver dengan berbagai cara ungkap untuk mencapai hal tersebut.

Jadi, kalau ditanya bagaimana penerapannya di dunia sastra saat ini dan apa kaitannya dengan fenomena untranslatability, maka jawabannya bisa sedikit lebih gamblang. Transkreasi saat ini banyak dipakai dalam penerjemahan sastra baik itu puisi, novel, maupun karya drama atau film. Namun, lazimnya praktik transkreasi ini dipakai tidak di seluruh karya. Dia baru muncul pada saat-saat tertentu ketika ada batasan-batasan linguistik atau fisiologis yang 1) menuntut penerjemah melakukan lebih dari sekadar mengalihbahasakan, atau 2) membutuhkan penerjemah lebih berfokus pada mencapai dampak tertentu daripada mempertahankan cara menyampaikannya. Transkreasi juga merupakan alternatif solusi ketika penerjemah menemukan hal-hal yang tidak mudah diterjemahkan di dalam sebuah karya.

Sastra secara Luas

Kalau kita mendefinisikan sastra secara lebih luas, mencakup semua karya bahasa yang bersifat estetik, yang berarti sebagai dirinya sendiri (bukan sekadar sebagai pengantar pesan/makna, yang merupakan praktik umum dalam berbahasa, yang juga disebut bersifat pragmatis), maka kita bisa mencakup banyak hal di sana, mulai lirik lagu, film, sampai game komputer, khususnya RPG. Bagaimana dengan transkreasi di bidang sastra secara luas ini? Nah, di situlah kita akan menemukan praktik-praktik transkreasi yang sebenarnya dekat dengan keseharian kita.

Yang saya contohkan dalam acara kemarin adalah dalam penerjemahan lagu. Di sini, saya bisa mengambil lagunya Doraemon yang sebenarnya juga membutuhkan akrobat dari penerjemahnya. Bagaimana dengan lagu lain? Coba deh cari perbandingan antara lagunya Dragon Ball, Ninja Hatori, dan lain-lain. Dan, contoh lain yang sangat bisa menjadi contoh transkreasi adalah apa yang terjadi terhadap lagunya Johnny Cash “A Boy Named Sue” yang di bahasa Indonesia bisa kita temukan pada lagunya “Anak Laki Bernama Kartini” oleh Remy Sylado dan kemudian menjadi “Anak Lelaki Bernama Martini” oleh Doel Sumbang. Ini saya perlu matur suwun ke Bung Budi Warsito dari Kineruku. Coba deh diintip itu.

Jadi, begitulah kira-kira yang saya sampaikan. Untuk lebih jelasnya, saya persilakan kawan-kawan menonton sendiri rekaman acara diskusi tersebut di sini:

Kalau teman-teman tertarik bahan tayangannya, silakan lihat ini:

[slideshare id=239043891&doc=revisitingtranscreation-201101145357]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *