Categories
perjalanan

Masjid Baitul Muslimin, di mana Seni dan Fungsi Bertemu

Artikel ini berbicara tentang Masjid Baitul Muslimin, sebuah masjid baru di jalan tol Surabaya Malang, tepatnya di km 66 Pandaan-Malang. Arsitekturnya menarik dan tidak umum, seperti masjid-masjid lain di jalan tol Transjawa.

Akhir pekan lalu saya sempat jalan ke Sidoarjo untuk urusan yang mungkin akan saya bahas di postingan selanjutnya. Karena sebuah kebetulan yang luar biasa, akhirnya saya sampai ke masjid Baitul Muslimin, masjid baru yang lokasinya ada di KM 66 Pandaan-Malang, di rest area yang tepat ada di seberang Masjid Ar-Rahman yang arsitekturnya unik dan pernah saya bahas di Terakota ini. Meskipun belum sempat masuk, saya sempat melihat bagian luarnya dan sedikit mengintip ke bagian dalam. Berikut kira-kira kekhasan yang saya temukan.

Masjid Baitul Muslimin di KM 66 Pandaan-Malang

Bentuknya bangun petak dan desain sekilas terlihat fungsional. Kanan dan kiri tidak sepenuhnya simetris karena di bagian kanan harus mengakomodasi ramp buat kursi roda. Ini sangat bagus dalam hal accessibility-nya atau akomodasi bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Apakah di dalam ada braille agar accessible buat yang tuna netra? Saya tidak tahu, karena belum sempat masuk.

Ornamennya kaligrafi persegi yang pastinya terinspirasi gaya kufi. Sekilas kelihatan kalau nggak cuma garis-garis ya sangat rumit. Tapi kalau diisolasi pada tiap petak, akan kelihatan jelas bagi yg bisa baca aksara arab: syahadatain, Islamic testament of faith. Di sebelah kiri ada 10 dan kanan ada 8. Apakah jumlah ini ada maknanya? Saya tidak tahu… Who knows?

Uniknya lagi, kalau dilihat di bagian mihrab sana, tampak bahwa kaligrafi ini sebenarnya gril. Dengan kata lain, kaligrafi ini juga bisa berfungsi sebagai ventilasi dan sumber pencahayaan Jadi ya lumayan terang mestinya kalau di dalam dan pada siang hari. Plus juga semilir. Kalau melihat dari pengalaman di Masjid Ar-Rahman, ruang terbuka di luarnya memungkinkan angin berhembus nikmat dan cahaya cukup terang di daerah ini.

Kalau ada yang bilang seni itu tidak berhubungan dengan fungsi dan kehidupan sehari-hari, maka kaligrafi Masjid Baitul Muslimin ini adalah jawaban yang bisa diajukan: ternyata seni dan fungsi bisa ketemu.

Soal cahaya dan ventilasi, apakah benar begitu? Saya belum memastikannya karena–lagi-lagi–saya tadi cuma mampir di depan. Semoga dalam waktu dekat akan ada kesempatan lagi buat mampir sejenak di masjid ini, untuk menggunakan fungsi utama masjid ini (tentu saja untuk sholat) dan melihat dan merasakan arsitekturnya lebih dekat dan dari dalam.

Salam masjid jalan tol!

Leave a Reply

Your email address will not be published.