Categories
pentigraf sastra

Kardus Minuman (Pentigraf)

Sejak tinggal di mess pabrik dulu bertahun lalu, sepertinya ini pertama kalinya Heru mandi sambil ditunggu-tunggu banyak orang di luar. Dia sedang di kamar mandi masjid. Di beranda masjid, beberapa orang dari satgas Kampung Tangguh menyemprotkan desinfektan dan mengepel lantai. Di halaman masjid, masih ada satu dua orang yang berbincang-bincang sambil menunggu Heru selesai mandi. Mereka ini sebenarnya juga penyebab kenapa Heru jadi harus mandi di masjid malam-malam begini. Kalau saja Heru tidak membiarkan dirinya disuruh-suruh orang, atau memberikan dirinya untuk membantu jamaah masjid mengerjakan ini-itu yang orang lain tak mau mengerjakan. Mungkin dia tidak akan menjadi orang berisiko COVID yang sebentar lagi harus mulai berkarantina. Setidaknya sekarang dia sudah jauh lebih tenang dibanding satu jam yang lalu, ketika dia menemukan bayi di kardus Club itu. 

Seperti biasa, setelah jamaah isya’ Heru ikut duduk di teras maghrib jagongan dengan beberapa jamaah. Begitu bersiap pulang, Heru melihat satu kardus Club di satu sudut teras. Sebelum orang-orang menyuruhnya membereskan, Heru mengambil kardus itu untuk dimasukkan ke masjid. Mungkin donasi warga, pikirnya, karena memang tidak jarang warga menyumbangkan makanan atau minuman di masjid. Tapi, ketika dia ambil kardus yang sudah sebagian terbuka itu, dia temukan bayi merah di situ. Dia teriak-teriak memanggil para tetangganya yang sudah mulai beranjak meninggalkan masjid. Mereka langsung berbalik dan menyuruh Heru memeriksa apakah bayinya masih hidup. Heru merasa bayi itu dan memegang mulut dan dadanya. Ternyata sudah tidak bernafas. Para tetangga bingung, takut jangan-jangan bayi itu meninggal karena COVID. Mereka selangkah menjauh. Sementara itu, Heru meminta mereka untuk menghubungi petugas Kampung Tangguh. Petugas Kampung Tangguh menghubungi puskesmas, dan datanglah petugas COVID dengan baju hazmat untuk mengevakuasi mayat bayi itu. Para petugas Kampung Tangguh yang datang segera meminta Heru mandi di masjid. Mereka sudah mempersiapkan sarung dan baju koko bersih buat Heru berjalan pulang. Polisi datang dan meminta keterangan dari warga untuk mengetahui siapa kiranya yang membuang bayi di situ.

Begitu selesai mandi, Heru segera bersiap-siap pulang. Habis ini jelas-jelas dia harus mengubur diri di kamar. Tidak ada lagi kerja sebagai tukang kayu dua minggu ke depan. Semoga petugas Kampung Tangguh bisa rutin membawakan makanan setiap hari. Tapi dia juga perlu data buat anaknya belajar. Dan pastinya orang-orang akan menghindari dia sekarang. Kalau kemarin mereka minta dia membersihkan ini itu, mulai sekarang sepertinya mereka tidak akan lagi mengajak dia ngomong. Heru sadar, bukan pertama kalinya hidupnya setengik ini. Perjalanan pulang dari masjid terasa seperti perjalanan menaiki tangga ke makam sunan Muria. Di dekat rumahnya, beberapa pemuda terlihat nongkrong jaga poskamling sambil berbicara seru. Mereka segera diam begitu Heru mendekat. Dia sudah bersiap membungkukkan badannya seperti biasanya. Anak-anak muda itu malah diam dan tersenyum. “Mbois, Sam. Monggo ngopi sik, Sam.”

Ket: gambar didapatkan gratis dari Pixabay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *