(Resensi) Warrior karya Arie Saptaji: Paket dari Era 80-an

Saya tidak butuh film mulai hari Minggu ini sampai Minggu depan. Yang barusan saya baca pagi ini sudah cukup memberikan apa yang bisa diberikan film buat saya, dan bahkan lebih lagi. Novel Warrior dari Arie Saptaji ini memberikan hiburan dan bahan renungan. Plus, ada juga pancingan buat yg lain-lain (tunggu!).

Cerita Warrior simpel tapi solid ala film Hollywood. Sri, anak penjual lupis yang hidup serba mepet, terpilih menjadi anggota tim gerak jalan yang mewakili sekolah (dan kecamatan) untuk berlaga di ibukota kabupaten Temanggung. Dia senang tapi juga ngeri: dia tidak punya sepatu yang memadai untuk perhelatan itu. Maka dia pun mencari cara untuk mencapai tujuan ini. Untunglah, ada satu kesempatan yang tidak jauh-jauh amat. Tapi, ketika matahari tengah di atas kepalanya, terjadilah gerhana. Apa yang kemudian terjadi kepada dunia Sri? Silakan baca dan temukan kisahnya. Yang pasti, semua tali berjuntai akan terikat di akhir film, ringkes dan singset seperti film Hollywood.

Yang kedua, ada penghadiran era 80-an secara cukup komprehensif dalam novel juga bikin kita merenung sendiri. Era 80-an diwakili kue vla (lengkap dengan resepnya), sepatu Warrior, dan rumah kontrakan bersahaja menempel rumah induk. Ini sandang-pangan-papan bukan mainstream tapi bisa mewakili era itu. Nah, sedikit komentar soal rumah kontrakan berbagi tembok dengan rumah gedong itu, tentu ini arsitektur rural khas masa 80-an, sebuah masa transisi antara zamannya rumah-rumah gedong priyayi dan rumah-rumah kecil zaman sekarang yang merupakan hasil pemecahan rumah gedong warisan.

Selain aspek sandang-pangan-papan itu, kita juga mendapatkan atmosfer era 80-an yang cukup. Pangkal konflik juga sangat 80-an: gerak jalan (yang merupakan musim keempat, setelah penghujan, kemarau, dan musim mangga). Pasti para Om-Tante generasi X masih ingat kalau sudah mendekati bulan Agustus: banyak lomba-lomba dan mulai ada latihan gerak jalan. Yang agak unik adalah dalam novel ini gerak jalan itu untuk memperingati Sumpah Pemuda (yang seingat saya kurang lazim). Selain itu, ada juga taburan potongan² lagu yang dihadirkan mulai dari “September Ceria” sampai “Bangun Pemudi-pemuda” di seluruh novel. Asyiknya, semua potongan lagu itu lengkap dengan nama penciptanya (respect buat penulisnya yg tidak melupakan pencipta lagu!). Dan, jangan bicara era 80-an dalam novel kalau tidak ada pembunuhan misterius dan Gerhana Matahari Total. Jelas kurang lengkap (dan novel ini punya bagian-bagian itu).

Terakhir, ada juga hal-hal yang menjadi motif yang bisa kita temukan di sini. Mereka serupa sampiran-sampiran kecil yang memancing, ngawe-awe, seperti bulan purnama. Pancingan-pancingan ini, antara lain, berupa peran dongeng, narasi lokal, dan kisah-kisah buku yang muncul di seluruh novel. Yang unik, ada keseimbangan antara perayaan baca-tulis dan kenikmatan dongeng lisan. Para tokoh menikmati novel-novel terjemahan karya Enid Blyton dan Laura Ingalls Wilder dan mencoba menggali Sitti Nurbaya. Tapi, di sisi lain, kita juga ketemu tokoh ibu yang jago mendongeng dan tontonan wayang orang yang menampilkan, misalnya, kisah Tirta Pawitra, sebuah sub-plot dari Baratayudha. Di akhir cerita, kita rasakan bahwa penyelesaian masalah bukan hanya milik budaya tulis. Sri, tokoh utama kita, yang bergerak di antara kedua tradisi literer ini tampak tumbuh menjadi jiwa yang dewasa dan bisa memaknai hidup. Nah, ini bisa dikejar lebih jauh…

Saya yakin, generasi Z bisa mengambil manfaat dari buku Warrior karya Arie Saptaji ini. Saya yakin, para anggota generasi Z yg saat ini sudah mulai sering dituturi Om-Tantenya yang generasi X atau milenial awal itu mungkin bertanya-tanya: seperti apa sih era 80-an yang katanya beda dengan zaman kita-kita ini? Nah, kalau kalian bertanya-tanya, gaes, coba deh baca dan ikutlah bernostalgia. Sebenarnya sih bukan bernostalgia ya kalau kalian tidak mengalaminya sendiri. Tapi, coba lah, saya kok merasa kalian bisa mengidentifikasi diri dengan persoalan (perjuangan dan kecemburuan toh lintas zaman) dan akhirnya bisa ikut larut ke zaman Om-Tante kalian itu. Nikmati deh paket free ongkir dari era 80-an ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *