Categories
literasi

Buku: Saksi & Pendamping Adaptasi

#BersamaBeradaptasi #GPU47

Ketika dalam The Avengers Tony Stark tiba-tiba masuk rapat dan menjelaskan cara kerja portal antar galaksi, Maria Hill bertanya: “Sejak kapan kamu jadi ahli Thermonuclear Astrophysics?” Tony Stark menjawab, “Tadi malam!” Memang, Tony Stark digambarkan sebagai seorang yang literat dalam hal sains dan bisa belajar mandiri untuk menyelesaikan masalahnya. Seperti itulah idealnya kita, terutama di masa-masa ini, ketika kita dipaksa melakukan adaptasi besar-besaran.

Tapi, sebanyak apa adaptasi yang kita perlukan untuk menghadapi pandemi ini? Kita punya jawaban berbeda-beda pastinya. Memang, semua orang sama-sama menghadapi pandemi ini, tapi pukulan dan adaptasi yang harus kita lakukan berbeda-beda. Saya mungkin termasuk yang tidak perlu melakukan adaptasi secara fundamental, tapi tidak sedikit juga persoalan yang harus diselesaikan. Di tengah semua itu, saya bersyukur buku-buku adalah teman yang selalu menyertai saya. Setidaknya, ada dua momen penting di mana buku menemani momen adaptasi itu, di awal dan di puncak pandemi. Di kedua momen itu, buku memainkan peran yang khas, menjadi saksi dan menjadi pendamping.

Malang-Pontianak Bertemu di Cerita Detektif

Sejak awal tahun 2020, saya dan rekan-rekan di kampus merencanakan banyak hal besar demi mahasiswa. Ada beberapa lomba yang rencananya akan diselenggarakan oleh mahasiswa dan kami para dosen mendampingi. Ada juga satu acara penting, sebuah kuliah tamu yang menghadirkan seorang tokoh nasional di bidang wisata berbasis kemasyarakatan.

Kami rencanakan acara ini sebagai primadona pada separuh awal tahun 2020. Kami berharap mahasiswa di kampus kecil kami bisa mengaktualisasikan dirinya dengan pelaksanaan lomba yang sudah direncanakan dengan apik itu. Dari acara kuliah tamunya, kami berharap mahasiswa bisa belajar langsung dari praktisi yang tahu seluk beluk berbagai persoalan wisata yang sekaligus juga pemberdayaan masyarakat dan pelestarian alam.

Sayangnya terbit pandemi membawa keresahan dan memupus semua acara yang direncanakan untuk di kampus. Terdengar ada dua kasus di kota Malang, dan desas-desus pun terdengar bahwa ada lebih banyak lagi yang belum terdeteksi. Akhirnya, pada minggu pertengahan Maret 2020, tepat pada minggu akan diacarakan kuliah tamu yang kami rencanakan itu, kamus mengalami lockdown. Belum lama sejak diputuskan lockdown, kampus sudah mengindikasikan bahwa segala kegiatan kemahasiswaan dalam beberapa bulan ke depan harus dijadwalkan ulang. Maka pupuslah semua rencana memberikan pembelajaran bagi mahasiswa di luar kelas. Maret pun berlalu dengan sepi.

Tapi, kemudian terbitlah harapan: kita perlu cara lain untuk membangkitkan semangat, baik semangat mahasiswa maupun para dosennya. Di semester itu saya kebetulan mendapat jatah mengajar mata kuliah Popular Literature, yang di dalamnya mahasiswa mempelajari genre-genre paling populer di antara sastra populer, seperti roman populer, cerita detektif, fiksi horor, dan fiksi ilmiah. Setelah memutar otak ke sana-ke mari, akhirnya saya teringat seorang kawan baik yang pernah menulis trilogi cerita detektif. Kawan ini bernama Sidik Nugroho dan buku-bukunya berjudul Tewasnya Gagak Hitam, Neraka di Warung Kopi, dan Ninja dan Utusan Setan. Ini dia, pikir saya, yang kami semua butuhkan. Kalau sebelum-sebelumnya saya kesulitan mengajak kawan ini berbagi pengalaman dengan mahasiswa karena posisinya di Pontianak, maka kali ini, dengan konferensi video saya akan mengundangnya untuk berbagi pengalaman.

Maka, di pertengahan April, dengan cara cukup mendadak, kami pun menggagas acara ini. Kami undang Sidik Nugroho untuk berkisah pengalamannya mencari gagasan untuk novelnya, proses kreatif penulisannya, dan keluh-kesahnya setelah buku itu terbit dan terjual. Acara itu berjuluk “An Afternoon Talk with Crime Writer Sidik Nugroho.” Kami berharap, dari sini mahasiswa bisa mendapatkan banyak pelajaran yang bisa diambil, satu pelajaran yang asli dari pelaku di lapangan. Kami mengharapkannya menjadi pengganti untuk pembicara yang kami rencanakan yang di awal pandemi itu masih belum dapat bergabung dalam acara virtual bersama mahasiswa kami.

Di akhir bulan April 2020 itu pun acara berhasil dilaksanakan, tapi masih jauh dari maksimal. Baru satu bulan lebih kami bergelut dengan pandemi dan aplikasi-aplikasi konferensi video. Pada saat yang bersamaan, terjadi mati lampu beberapa saat di tempat Sidik Nugroho di Pontianak. Maka, dengan beberapa kali tersendat, kami pun akhirnya berhasil mengadakan obrolan sore dengan Sidik Nugroho. Mahasiswa kami mendapatkan pengalaman otentik dari seorang penulis profesional.

Terlepas dari sejumlah persoalan yang kami hadapi, kami mendapatkan pelajaran penting dari acara tersebut. Yang paling menonjol adalah bahwa hidup telah memberikan satu kesempatan yang berbeda di zaman ini. Dan kesempatan itu terus bergulir. Mustahilnya mengadakan acara tatap muka di awal-awal masa pandemi itu ternyata membuka satu kesempatan yang tak terkira sebelumnya: keterhubungan berbagai wilayah yang berjauhan di Indonesia. Malang dan Pontianak sore itu bertemu. Selama ini kita merasa kami dipisahkan oleh jarak, dan pandemi justru akhirnya mempertemukan kami.

Selain itu, yang sebenarnya lebih penting adalah kesadaran untuk mengikhlaskan. Kami awalnya yakin bisa memberikan yang terbaik bagi mahasiswa kami dengan menghadirkan seorang penggerak wisata berbasis kemasyarakatan tingkat nasional. Tokoh yang bersangkutan juga telah mengosongkan jadwalnya. Namun, pandemi memaksa kami melepaskan itu. Untungnya di sini, kami menyadari bahwa mungkin ada cara lain yang bisa membantu menyiasati kondisi, cara lain yang sebenarnya tak kalah unggulnya dengan yang kami rencanakan, yang sayangnya baru tampak di depan mata ketika pandemi memberi kita kacamata yang berbeda untuk melihat sekeliling.

Saya senang ada buku trilogi cerita detektif Sidik Nugroho pada saat itu. Ketiga buku itu (beserta penulisnya) siap ketika kami membutuhkan kehadirannya. Maka, ketiga buku ini pun menjadi saksi satu pelajaran besar bagi kami, yaitu pelajaran untuk menyadari adanya kondisi yang berbeda yang menuntut kita melihatnya dengan kacamata yang berbeda itu. Yang semacam ini selanjutnya saya alami dengan intensitas yang lebih besar di puncak pandemi.

Di Puncak Pandemi Bersama Fiksi

Akhirnya saya harus mengalami sendiri persentuhan dengan buku secara substansial di tengah adaptasi ini. Dan kali ini, adaptasinya bukan main-main: beradaptasi dengan kenyataan bahwa COVID-19 bisa ada di sekitar kita, dan bahkan di dalam tubuh kita. Di sini, saya menyadari bahwa yang saya butuhkan tidak hanya sebuah adaptasi, tapi langsung sebuah perubahan mindset. Dan itu terjadi di tengah-tengah kondisi ketika tidak semestinya saya berpikir terlalu keras dan hanya perlu bersikap optimis.

Pada pertengahan Desember 2020, ibu saya menunjukkan gejala COVID 19. Kami tidak lagi tinggal serumah, tapi waktu itu saya dan istri perlu mengantarkan beliau ke rumah sakit. Minggu itu di Malang terjadi lonjakan kasus yang membuat semua rumah sakit kehabisan ruang isolasi. Akhirnya, ibu harus menunggu di UGD selama beberapa hari. Saya dan istri keluar masuk rumah sakit beberapa hari itu hingga akhirnya ibu bisa masuk ruang isolasi. Saya yang sudah terlanjur satu mobil dengan ibu dan keluar masuk UGD langsung lapor ke Satgas COVID 19 di kampus dan dianjurkan melakukan isolasi mandiri. Mulai saat itu saya bekerja dari rumah dan mengurangi kontak, bahkan dengan anak sendiri yang serumah. Hingga akhirnya saya menunjukkan gejala COVID 19.

Saya pun membutuhkan sebuah pengalihan yang tidak lazim. Setelah mempersiapkan diri dengan membaca artikel-artikel kesehatan dan memantau kesehatan, saya pun mencari bacaan yang bisa mengalihkan perhatian saya dari COVID 19. Saya merasa COVID 19 tidak bisa lagi dihindari, sehingga satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah bersiap menghadapinya dan tidak terlalu tersedot ke dalamnya. Ketika itu saya melihat sebuah buku pinjaman di rak buku: Entrok karya Okky Madasari. Beberapa bulan sebelumnya, saya meminjam buku ini dari kawan-kawan di Griya Buku Pelangi Sastra Malang, sebuah toko buku online yang juga punya perpustakaan. Itulah, pikir saya, pengalihan yang saya butuh.

Entrok karya Okky Madasari

Karya sastra tidak lazimnya dianggap sebagai pengalihan. Sebuah pengalihan biasanya adalah sesuatu yang ringan, yang bisa langsung menyedot perhatian kita dan membawa kita tenggelam di dalamnya. Sebuah karya fiksi yang serius tidak lazimnya dipandang begitu. Karya fiksi sastrawi selain bisa dinikmati juga perlu dipikirkan dan direnung-renungkan, misalnya dalam hal kaitannya dengan kehidupan sosial. Orang yang ingin bacaan ringan-ringan untuk hiburan biasanya hanya ingin membaca cerita yang tidak menuntut berpikir sampai meninggalkan dunia di luar cerita. Cerita fantasi atau horor atau roman populer biasanya dipandang sebagai sastra yang bisa membantu mengalihkan perhatian itu.

Tapi, dengan memandang bahwa mungkin ini saat yang tepat untuk menyelesaikan buku pinjaman, saya pun memilih membaca Entrok, buku yang dipandang sebagai fiksi sastra yang serius. Di bagian awal, memang dibutuhkan usaha sadar menjadikan buku ini pengalihan. Benar saja, saya perlu mencoba mengenali dunianya di bagian-bagian awal cerita, dan itu membutuhkan usaha. Cerita dibuka dengan Indonesia pada era tak lama setelah kemerdekaan, ketika hidup buat tokoh utama tak keruan sulitnya. Tapi, begitu kita menemukan tujuan hidup si tokoh dan tujuan cerita, kita bisa dengan mudah tenggelam dan terseret ke dalam cerita.

Saya terseret ke dalam cerita berbarengan dengan mulai terasanya gejala COVID 19. Hidung saya meler sepanjang hari dan badan terasa demam. Saya bangun pagi dengan rasa kaku-kaku di sekujur tubuh, terutama punggung. Malas sekali beranjak dari tempat tidur. Atas anjuran adik yang bekerja sebagai perawat, saya minum obat pilek sekaligus penurun panas. Yang saya lakukan selama dua hari itu adalah duduk-duduk sendiri di kamar sambil secara rutin minum vitamin dan memeriksa saturasi darah dalam oksigen dan suhu tubuh. Bila memungkinkan saya tetap melanjutkan membaca Entrok meskipun kecepatannya relatif lambat. Setiap habis bersin atau membersihkan hidung, saya selalu menggunakan hand sanitizer sebelum memegang buku.

Dampak psikologis virus corona terjadi berbarengan dengan dampak yang ditinggalkan Entrok. Pada dua hari saya merasakan flu hebat itu, saya merasakan keresahan tentang berbagai hal. Saya sudah mempersiapkan diri dengan membaca banyak artikel, tapi tetap saja ada kengerian bawah sadar yang mungkin terpengaruh oleh banyaknya korban COVID dan melihat jenasah meninggalkan ruang perawatan yang saya lihat beberapa hari sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, pembacaan saya atas Entrok memasuki bagian-bagian akhir di mana cerita semakin berat dan ada banyak teror dan kengerian dialami tokoh utamanya. Tokoh Marni kehilangan sedikit demi sedikit harta yang dia kumpulkan hasil menjadi rentenir. Tak hanya kekayaan, anaknya pun akhirnya terenggut darinya. Teror yang dialami Marni ini tanpa sadar ikut masuk ke dalam kegelisahan COVID 19. Saya terbangun tengah malam, sekitar jam 2 setelah mimpi-mimpi aneh yang melibatkan Marni dan kejadian-kejadian yang dialami putrinya. Begitu cukup sadar, saya lanjutkan lagi baca novel itu pelan-pelan.

Di dalam keresahan tiga hari itu, beberapa kali saya merasionalisasi keadaan dengan Entrok. Inilah adaptasi saya dengan kondisi saat itu. Saya memang resah dan mulai menunjukkan gejala COVID 19, tapi setidaknya saya sudah mengantisipasi diri dan memiliki alat untuk memeriksa suhu tubuh dan saturasi oksigen dalam darah. Di samping itu, saya juga tetap bisa minum multivitamin untuk menjaga kondisi fisik. Saya sempat terpikir bahwa saya termasuk orang yang sempat mempersiapkan diri, memiliki sarana untuk berjaga bila tiba-tiba membutuhkan bantuan medis. Saya bukan Marni, yang masa kecilnya ditandai dengan serba kekurangan dan di masa awal dewasanya harus berjuang dari nol untuk membangun usaha yang kemudian hasilnya sedikit demi sedikit terenggut darinya. Mungkin kurang etis, tapi mengidentifikasi diri dengan tokoh utama Entrok membantu saya menyadari bahwa masih ada yang dari kondisi saya yang masih bisa disyukuri dan tidak perlu terlalu membuat resah. Tentu ini serendah-rendahnya apresiasi terhadap sebuah karya sastra. Namun, yang utama bagi saya saat itu adalah menghilangkan keresahan dan membiarkan kembali tumbuh semangat yang baik dampaknya bagi kesehatan fisik saya.

Pada hari keempat setelah gejala flu hebat itu, saya terbangun merasa berbeda. Pegal-pegal di punggung masih terasa, tapi hidung tidak lagi meler dan badan tidak terasa demam. Hanya ada satu yang paling menonjol: saya tidak bisa mencium bau apa pun, bahkan hand sanitizer. Untungnya pagi itu saya sudah terjadwal untuk tes usap, yang hasilnya sudah bisa ditebak: positif. Untungnya, sejak hari itu gejala sisa dari flu hebat beberapa hari sebelumnya sudah menghilang. Saya termasuk penderita COVID 19 ringan-sedang. Saya hanya perlu memulihkan kondisi dan karantina sampai dua minggu ke depan.

Di hari-hari itu juga saya mencoba menyelami Entrok lebih dalam lagi. Saya mencoba berempati dengan Marni yang hidupnya menjadi sapi perah bagi banyak laki-laki di sekelilingnya, mulai dari suami sampai aparat lokal. Saya mencoba merasakan seperti apa sakitnya hati Marni ketika anak yang dikandung dan dibesarkannya memandangnya sebagai seorang yang hina karena melakukan ritual animisme dan menjadi rentenir. Saya mencoba memahami seperti apa daya hidup yang dimiliki Rahayu yang telah mengalami trauma bertahun-tahun tapi akhirnya berhasil mencapai satu masa di mana stigma negatif yang pernah diberikan aparat kepada dirinya akhirnya bisa hilang. Entrok punya banyak bagian kelam, mendung, dan bahkan badai. Tapi, cerita ini berakhir dengan adanya denyut harapan. Menceburkan diri ke dalam dunia imajinasi Entrok ini di satu membuat pengalaman batin saya lebih kaya karena seolah telah mengalami kehidupan orang lain. Namun, yang secara praktis juga saya rasakan waktu itu adalah kenyataan bahwa saya tidak terlalu tenggelam ke dalam kegelisahan dan kengerian diri sendiri.

Seperti halnya sifatnya yang membuka kemungkinan tafsir nyaris tanpa batas, karya fiksi juga membuka kemungkinan penggunaan yang nyaris tanpa batas. Pengalaman saya menyintas COVID 19 dengan fiksi menunjukkan bagaimana fiksi tidak hanya bisa memberikan kekayaan dan pengalaman batin. Dia juga bisa membuat kita memosisikan diri sebagai bagian dari semesta yang beragam. Dengan ini, hal berat yang kita alami itu hanya salah satu dari berbagai hal yang terjadi. Maka, tidak semestinya kita tenggelam dalam apa yang kita alami saja. Dengan kesadaran semacam itu, sikap mental positif niscaya akan kembali terbit. Dan itulah yang bisa kita lakukan di tengah penyembuhan dari COVID 19.

Di sini, saya jadi teringat fakta tentang meroketnya penjualan buku di Amerika Serikat. Ternyata, di Amerika Serikat sana, penjualan buku tidak terganggu oleh pandemi. Menurut Jim Milliot dalam artikel berjudul “The Pandemic is Changing Book-Buying Patterns,” penjualan buku meningkat pesat, mulai dari buku tentang kegiatan outdoors, sejarah penyakit, hingga fiksi sastra.

Banyak orang yang ingin melalui pandemi ini dengan membaca, entah itu untuk memahami kondisi maupun mengalihkan perhatian. Sebagian orang seperti Tony Stark yang menghadapi serangan Loki dan kekuatan Tesseract dengan cara membangun literasi, memahami “Thermonuclear Astrophysics” dalam semalam. Atau, seperti yang saya alami di awal pandemi, buku membawa kita menyadari perlunya adaptasi-adaptasi. Tapi, sepertinya tidak sedikit juga yang mencoba melalui kondisi ini dengan sekadar mengalihkan perhatian dengan merenungkan persoalan yang lebih besar, seperti yang saya lakukan dengan buku Entrok dari Okky Madasari tadi.

Apa pun yang terjadi, kedua hal ini telah membantu menjadikan bisnis perbukuan tetap bertahan di tengah pandemi. Tapi, satu hal yang mungkin belum banyak kita sadari adalah penjualan buku yang sangat ramai di tengah pandemi ini adalah buku elektronik, buku yang bisa dipindah-pindahkan tanpa menularkan COVID 19. Buku fisik saat ini sepertinya bukan untuk dipinjam-pinjamkan dengan mudah.

Saya harus mengakui bahwa saya telah melakukan kesalahan fatal. Ketika mulai membaca Entrok, saya belum tahu akan positif tertular COVID. Tapi, saat saya mulai merasakan gejalanya, saya sudah terlanjur enggan meninggalkan buku itu. Saya selalu menggunakan hand sanitizer sebelum menggunakan buku. Tapi, toh saya akhirnya tetap takut bahwa di buku itu saat ini masih ada virus COVID 19 yang belum mati. Sampai hari ini, empat bulan setelah selesai saya baca, buku Entrok masih tersimpan di salah satu sudut lemari buku saya. Mungkin, nanti pada akhirnya saya harus beli buku yang sama untuk diberikan ke kawan saya itu. Biarlah dia jadi memento saya menjalani masa adaptasi yang penuh kekagetan-kekagetan ini.

3 replies on “Buku: Saksi & Pendamping Adaptasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *