Story Telling Era YouTube

Beberapa tahun terakhir, kita mendengar “story telling” dipakai di berbagai bidang, mulai beriklan dan memasarkan barang/produk hingga menarasikan data. Hal itu juga ada di pikiran saya ketika berhadapan dengan video-video YouTube ketika beberapa hari terakhir saya menjadi juri lomba story telling di rumah sendiri, Prodi Sastra Inggris Universitas Ma Chung. Sejauh saya ingat, ini pertama kalinya saya jadi lomba story telling sejak pandemi menyambar. Penjurian ini membuat saya sadar: story telling ternyata sangat warna-warni, dan YouTube memainkan peran penting di situ.

Pertama-tama, mari kita ingat-ingat dulu. Lomba story telling terakhir yang saya juri mungkin terjadi pada tahun 2019. Ketika itu lomba diadakan oleh HMP Sastra Inggris juga, bagian dari Ma Chung English Week. Ketika itu saya menjuri bersama rekan dosen dan seorang mahasiswa kampus sebelah yang terkenal pinter public speaking dan punya prestasi nasional dan internasional dalam hal story telling. Peserta seingat saya dari berbagai daerah di Jawa Timur, ada Pasuruan, Pacitan, Kediri, dll. Seingat saya, waktu itu penampilannya berwarna-warni: ada yang memakai sedikit property tapi banyak akting, ada yang bercerita seperti orang tua mendongeng, ada yang bercerita sambil berganti-ganti kostum, dan ada juga yang sambil menyanyi. Tapi, saya tidak ingat benar-benar dibuat terkejut oleh penampilan penampilan tertentu.

Kali ini, di dunia pasca covid, ada lagi lomba Ma Chung English Week. Kebetulan di tahun kedua pasca COVID ini, saya kebagian jadi juri story telling. Kali ini, yang tampak paling menonjol adalah sebaran asal peserta. Kalau dulu semuanya dari berbagai daerah di Jawa Timur, sekarang pesertanya tersebar dari berbagai provinsi. Sumatera Utara, Kalimantan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Timur dan beberapa lagi. Mungkin ini yang disebut berkah pandemi. Jarak benar-benar tidak menjadi persoalan lagi. Dari mana pun kita bisa mengikuti lomba, termasuk lomba story telling yang dulunya menuntut kehadiran peserta di tempat lomba.

Selain asalnya, ragam penceritaan juga cukup menakjubkan. Kita masih bisa temukan pencerita yang berkisah layaknya sebuah dongeng yang dibacakan orang tua kepada anak, yang berisi dongengan biasa dengan property ala kadarnya. Story telling semacam ini menekankan kepada ekspresi dan akting penceritanya. Salah satu contohnya adalah ini:

Tapi, kita temukan bentuk-bentuk lain yang sebelumnya tidak pernah saya lihat.

Bentuk lainnya adalah penceritaan gaya YouTuber. Maksudnya di sini adalah bercerita biasa seperti halnya para vlogger, tapi kemudian di bagian-bagian tertentu ada animasi atau suara-suara yang muncul untuk membantu memberikan efek tertentu. Kalau kawan-kawan pernah lihat vlog-nya para seleb yang suka saling mengunjungi itu, pasti tahu maksud saya. Tapi tentu saja, karena konteksnya di sini mendongeng, suara-suara dan animasi yang muncul itu terlihat menyenangkan. Salah satu contohnya adalah yang semacam ini:

Namun, yang paling tidak biasa di antara para pencerita ini adalah munculnya seorang pencerita yang menggunakan gaya stand up comedy Amerika Serikat. Sementara kita sebuah saja begitu. Pencerita ini bercerita layaknya seorang Chris Rock di atas panggung. Gaya bercerita terasa sangat kasual dan bahkan conversational (meskipun jelas-jelas cerita di YouTube itu tidak seperti berdialog di panggung dengan penonton). Cerita tentang Tangkuban Perahu itu diselipi komentar kontemporer. Misalnya, saat bercerita kenapa hutan begitu sepi ketika Sangkuriang dan Tumang berburu kijang, si pencerita menyelipkan komentar “kok rasanya para hewan baru saja hilang karena jentikan Thanos.” Bahkan di situ dipakai kata-kata (yang sekilas terasa menjengkelkan dan sok) yang lazim dipakai dalam perbincangan kontemporer, misalnya memakai “anywho” untuk melanjutkan perbincangan alih-alih menggunakan “anyway.” Bagaimana, gaya bercerita yang baru ini menjadi angin segar dalam dunia story telling. Ini contohnya:

https://youtu.be/jwprW6nyNw0

Tentu masih ada beberapa lagi gaya bercerita yang bisa kita bicarakan dari salah satu lini lomba di ajang Ma Chung English Week 2022 ini. Kalau kawan-kawan tertarik, silakan lihat video-video lomba tersebut di link yang ada di bawah ini:

Adventia Kathleen Tanudjaya
Sofiyah Nadhira Sholihah
Michelle Ajeng Fransita
Anisa Agustin Damanik
Maria Joana
Jayvis Althea
Anisa Khairani
Devita Lusiana Matondang
Shinry Avilya Liawrence
Habibie Fauzan Hendriansyah
Marcela Bernanda Berliana Putri
Denise Victoria Felianto
Benedictus Alfrigan Dacirio
Sophia Milka Krisfalina Seso
Febrina Dwita Slamet Saputri
Ely Elsaday Sinaga
Paullinus C Saragih

Oh ya, daftar pemenangnya ada di sini.

Semoga kawan-kawan juru cerita kita ini selanjutnya terus bisa meningkatkan kemampuan bercerita di depan publik dengan maksimal. Semoga pukauan cerita mereka bisa tetap canggih ketika tampil langsung, tanpa diperantarai oleh kamera HP. Bercerita adalah cara yang asyik menghidupkan suasana dan menarik perhatian kepada diri kita ketika berada di publik. Ya, kedengarannya agak narsis, tapi ya realistis saja lah, kita semua punya sesuatu yang ingin kita suarakan, dan tanpa menarik perhatian orang kepada diri kita, mana bisa orang mendengar agenda itu ya, kan? ya, kan?

Postingan ini saya awali dengan penggunaan “story telling” dalam berbagai aspek kehidupan saat ini mulai marketing sampai menyajikan data. Nah, di sinilah saya berharap semoga para pencerita di atas bisa memanfaatkan kemampuan bercerita itu untuk berbagai kebutuhan bercerita dalam kehidupan, termasuk kebutuhan bercerita di dunia baru ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *