Categories
diaspora Indonesia minoritas di Amerika puisi

(Puisi) Cambridge

tuhan, kenapa malah tak bisa lupa

saat Frazer akting galau
skripsi hangus digoreng MS DOS
di musim gugur dua puluhan tahun lalu
aku mungkin sedang bayar SPP di SMP
di ruang TU, dengan satu-satunya printer
dan komputer di kelurahan itu.

kini, saat dia mirip mantan politisi
pemanasan global masih juga diingkari
aku teliti kampus ini, ingat Courtney
nemu pisang di Widener Library
dan Walt Whitman hidup lagi

ini bukan kisah motivasi. tapi puisi
tentang sesuatu pop yang laten abadi.

ada juga

saat Damon/Will diwejangi Williams,
(garis tangan semestinya digenggam!)
setelah merampungkan persamaan
sebagai petugas kebersihan
aku mungkin menghafal lirik Oasis
dengan logat Jawa bahasa Inggris
sepeninggal seorang sobat
lulusan SMK yang nekad
menyeberang dua selat,
bekerja di Hotel Kakatua
dan nulis surat tentang turis
(bonus satu idiom baru)

tadi malam aku beli kari veggie
di luar kampus tempat Chomsky
tanpa and so on, tanpa and so forth
mendebat Zizek dengan presisi

ingat, ini bukan puisi motivasi
tapi pelarian melankoli
pulang kampung
tak kunjung jadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *