Ramadhan, Risiko, Kemerdekaan Kanak-kanak

Nah, ketika kami sampai di dam “Kali Kanal” di kawasan Krembung Barat yang berbatasan dengan dusun Biting itulah biasanya terjadi permainan yang menyerempet-nyerempet bahaya. Saya pernah ketakutan di sini. Tapi, kalau direnungkan lagi, kalau melihat dari masih kuatnya ingatan tentang masa-masa itu, saya jadi kepikiran sendiri dan bertanya-tanya tentang banyak hal, tentang kemerdekaan kita, tentang anak saya.

Seperti lazimnya dam irigasi, di atasnya ada jembatan beton sempit. Di masa kecil saya, dam ini menggunakan balok-balok kayu besar untuk menahan airnya. Ketinggian balok air ini juga yang menentukan ketinggian airnya. Balok-balok kayu ini terjepit kerangka dari betok dan bisa ditarik naik dengan menggunakan rantai yang digulung dengan roda bertongkat mirip kemudi kapal jaman dahulu. Nah, jembatan betok sempit itu saya yakin fungsi utamanya adalah untuk jalannya petugas ketika menaikkan atau menurunkan balok-balok kayu itu. Namun, seiring bergulirnya waktu, tentu saja jembatan beton itu lebih sering dipakai oleh orang dari dukuh Mbiting yang menyeberang Kali Kanal menuju wilayah Krembung Barat. Tapi, kawan, jembatan itu menurut saya sangat mengerikan. Bagaimana tidak, lebarnya cuma sekitar 60 sentimeter, tidak ada pagar pembatasnya, dan bagian air di bawah sana jaraknya sekitar 5-7 meter di bawah kita dengan air menggelak, dan pastinya di kawasan itu dasar sungai cukup dalam. Kalau kita tidak bisa berenang, tidak usah dibayangkan.

Pada sebuah pagi Ramadhan yang tidak bisa saya lupakan, kami bermain-main di dam itu. Saya agak ngeri ikut mendekat ke dam dan naik jembatan dam. Tapi, setelah agak lama, saya penasaran juga ingin melihat balok-balok kayu penahan air dan melihat air yang menggelegak di bawah sana dari atasnya. Awalnya baik-baik saja. Tapi, ketika akan kembali dari tengah jembatan, menjelang tepi jembatan saya dihadang oleh seorang teman yang jauh lebih tua dari saya. Ketika saya akan melewatinya untuk kembali ke tepi sana, dia memegang kedua tangan saya dan menggoda, menakut-nakuti saya dengan isyarat akan menceburkan saya ke bagian bawah yang airnya menggelegak itu. Hati saya mencelos dan ngeri luar biasa. Mungkin saya menjerit, mungkin saya diam tapi kelihatan ketakutan. Kejadian itu terasa lama sekali dan akhirnya dia melepas saya. Saya langsung berlari sekuat tenaga dan teman-teman tertawa-tawa semua. Bangsat! Pekik saya dalam hati. Bangsat! Bangsat! Sejak itu, setiap kali ke “Kali Kanal,” saya selalu teringat kengerian itu. Dan ini berlangsung bahkan hingga kelak ketika sungai itu menjadi cukup dangkal dan saya ikut mencebur ketika mencari ikan dengan memakai potas. Keesokan harinya dan seterusnya, kawan saya yang lebih tua itu tidak pernah lagi menggoda saya. Tapi saya tetap ngeri untuk berjalan ke tengah jembatan.

Biasanya, setelah bermain cukup lama di dam, kami akan pulang dengan berjalan menyusuri Kali Kanal ke arah timur, ke gerbang belakang Pabrik Gula Krembung. Dalam perjalanan menyusuri Kali Kanal itu, kami melewati pagar belakang Pabrik Gula. Di salah satu bagian pagar itu, terlihat sebuah bagian yang menyerupai pintu dengan konstruksi lengkung. Bagian menyerupai pintu itu sudah ditambal dengan batu-bata dan plester, tapi kita masih sangat bisa mengenali bagian itu sebagai bekas pintu. Banyak kawan yang mengatakan bahwa itu adalah bekas pintu jaman Belanda yang dipakai orang untuk melarikan diri dari Pabrik Gula. Saya tidak tahu kenapa harus melarikan diri dari Pabrik Gula. Tapi, sepertinya saat itu saya menerimanya dengan santai. Dan percaya.

Di gerbang belakang Pabrik Gula, ada kalanya saya ketemu dengan Pak De Sabar, tetangga sebelah rumah saya (yang dulu sering dititipi saya oleh orang tua ketika Bapak-Ibu ikut penataran yang mengharuskan pulang sore). Pak De Sabar bekerja sebagai Satpam (atau kami menyebutnya Waker) Pabrik Gula Krembung sepanjang hidupnya.

Satu hal yang saya ingat dari Ramadhan pertama dalam ingat saya itu adalah kami rutin melakukan hal tersebut (kadang jarak perjalanan kami tambah, kadang kami kurangi). Dan, biasanya pada minggu terakhir menjelang Ramadhan, teman-teman saya mulai membawa mercon cabe dan dinyalakan di sepanjang perjalanan menyusuri sungai. Pernah, ada satu kejadian tak biasa, di sebuah Ramadhan, saya dan kawan-kawan sudah mulai bermain mercon pada hari kedua Ramadhan. Itu tidak lazim.

Sekarang, kalau diingat-ingat, yang kami lakukan sebenarnya hanya jalan-jalan, bermain-main tidak jelas dan kadang-kadang membayakan nyawa teman, dan kadang juga membahayakan diri sendiri dengan mercon itu. Tapi entah kenapa sampai sekarang saya selalu mengingat masa-masa yang lebih dari tiga puluh tahun yang lalu itu. Apakah memang seperti itu hakikat permainan anak-anak? Apakah yang anak-anak butuhkan hanya sebuah waktu ketika mereka bisa memiliki kebebasan atas diri mereka sendiri, menikmati sedikit risiko, dan menjadi penyintas risiko-risiko itu? Saya jadi sadar, betapa kurangnya anak saya mengalami yang semacam ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *