Badai yang Sempurna di Tengah Dahaga

Sebelumnya saya menyinggung tentang sesuatu yang mungkin membuat saya tidak lagi update dengan perkembangan album-album religi Gigi. Kemungkinan sebabnya adalah Ramadhan-ramadhan yang brutal antara tahun 2012 sampai tahun 2016. Selama 5 Ramadhan itu, saya bekerja selama musim panas. Pekerjaan tersebut membuat keluarga saya bisa hidup—karena pada bulan-bulan musim panas itu, saya tidak mengajar di kampus sehingga saya tidak ada penghasilan. Jadi ya pekerjaan itulah yang membuat saya dan keluarga bisa hidup. Tapi pekerjaan itu memiliki kombinasi yang sesekali bisa menyebabkan “badai yang sempurna.” Dan terkadang elemen pembentuk badai itu tampak sederhana tapi indah, seperti cinta, dan begitu mudah dirasa. Apa ini?

Apa yang saya maksud “badai yang sempurna” atau “perfect storm” ini? Intinya, istilah “perfect storm” berarti kombinasi bencana yang sempurna karena terdiri dari elemen-elemen berbahaya yang ukurannya tidak terlalu besar tapi kemudian bersatu hingga menyebabkan sesuatu yang hebat. Silakan kawan-kawan cari apa itu “badai yang sempurna” di sini—kadang-kadang saya itu ya begini, lebih suka memberi pancing daripada memberi ikan. Dalam kasus saya, badai yang sempurna itu berbentuk bekerja fisik, di musim panas, ketika puasa, dan sesekali ada yang memancing gairah lapar dan dahaga.

Mari kita mulai dari satu yang paling teringat saking kuatnya. Pada tahun 2013, puasa terjadi pada puncak musim panas, awal Juli hingga awal Agustus. Ketika itu bertepatan dengan paruh kedua pekerjaan musim panas saya di Spring Internasional—sebagai asisten pelayanan mahasiswa, yang terdiri dari transportasi, penyelenggaraan acara sosial, dan rekreasi. Paruh kedua artinya saya berurusan dengan dua program sekaligus, program pelatihan guru-guru bahasa Inggris dari Meksiko dan pra-akademik peraih beasiswa Fulbright dari beberapa negara yang akan memulai pendidikan pada semester musim gugur di beberapa universitas di seluruh Amerika Serikat. Pada tahun 2013 ini, saya bertugas menjadi chaperon atau pendamping perjalanan ke Little Rock untuk mengunjungi museum dan perpustakaan Bill Clinton, SMA Central Little Rock, dan kantor Gubernuran Arkansas. Kunjungan ke tempat-tempat itu sebenarnya oke. Tidak ada masalah serius. Saya masih cukup kuat melakukannya sembari puasa.

Tapi kawan, ada satu tempat kunjungan yang cukup mengganggu konsentrasi saya, yaitu River Market di Little Rock. Duh gusti. River Market adalah tempat kami istirahat untuk makan siang setelah berjalan-jalan di Museum dan Perpustakaan Bill Clinton. Di situlah saya menemani para mahasiswa Fulbright yang saya dampingi itu istirahat. Beberapa di antara mereka mencari makan di food court dan di situ—sayangnya—ada stand yang menjual nasi goreng Thailand yang biasanya jadi langganan saya dan istri kalau ke sana. Ada di situ Thai tea yang sangat merah—seperti mengandung wortel. Saya santai saja dan tidak merasa perlu membatalkan puasa saat itu. Tapi, oh tapi, salah satu mahasiswa yang saya dampingi  itu membeli Thai tea tadi dan dibawa ke bus kami. Di situlah badai pertama saya mengamuk.

Blogger Anda di depan kantornya. Kantornya ya GMC Savana warna putih ini. 🙂

Badai kedua terjadi di tempat yang sangat rindang, Wilson Park. Taman ini posisinya sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Tapi tentu saja waktu itu—tanggal 17 Juli—saya ke sana dalam konteks bekerja. Saya membawa para guru Meksiko dan mahasiswa Fulbright dengan kendaraan dinas kebanggan saya, van GMC Savana putih dengan 15 penumpang. Sore itu, sekitar pukul 5 kami berangkat untuk sebuah acara unik. Acara ini adalah acara syukur dari bank lokal tempat kantor saya menitipkan uang dan memasukkan pembayaran SPP para mahasiswa. Mereka mengadakan acara unik buat kami, mahasiswa kami, dan semua peserta program khusus kami. Total 150-an mahasiswa dijamu makan siang sandwich Subway dan kemudian disewakan kolam renang bagi kami semua. Saya bertanggung jawab membawa para guru bahasa Inggris dari Meksiko. Mereka sangat penuh semangat dan memperlakukan saya—sopir dan pelayan kebutuhan mereka ini—dengan sangat baik dan ada kalanya takjub. Mereka takjub karena saya bisa sekolah di Amerika dan tinggal secara happy—tentu ini semua sawang-sinawang atau dalam bahasa Inggris looking-linooking.

Nah, ketika lagi acara itu, di tengah keintiman para guru Meksiko itulah, berhembus badai di antara sandwich. Saya memang pada dasarnya sangat suka sandwich Subway yang memakai tuna atau seafood (dari kaki kepiting sintetis) dengan saus honey mustard—gusti! Udara ketika itu sangat lembab karena sehari sebelumnya sempat hujan dan hari ini sangat panas. Air yang sedikit ada di tanah dan di pepohonan itu langsung terangkat naik dan dihembalangkan oleh angin panas. Yang terjadi adalah hawa lembab, gerah, tapi menyesakkan disertai aroma atsiri dan petrikor (kok jadi kayak Mbak Dee?). Di situlah, begitu menurunkan para guru itu di lokasi Wilson Park tempat saya sesekali bermain-main dengan anak saya kalau sore, tempat di mana anak saya berani naik sepeda sendiri tanpa roda bantuan, saya melihat baki-baki plastik berisi barisan sandwich: ham, turkey, chicken, tuna, veggie. Oh gusti. Akan saya kemanakan puasa saya ini. Gusti, kuatkan. Gusti, kuatkan. Alhamdulillah, saya tetap tegar menghadapi serangan sandwich dari segala ruang pandang saya itu.

Saya tidak tahu apa yang paling membuat saya ingat badai itu: bisa jadi sandwich-nya bisa jadi kejadian manisnya. Kejadian manis itu adalah ketika salah seorang guru Meksiko tahu bahwa hari itu saya berulang tahun.

“Wawanito, happy birthday, my friend,” kata Hugo. “Let’s celebrate it.”

“We’re celebrating it now, right?” kata saya mengacu pada acara makan-makan itu, sebagai candaan saja.

“No!” kata Hugo. “We really need to celebrate it.”

“But, I’m fasting today,” saya mengira minta saya ikut merayakan sambil makan sandwich dan minum soda bersama dia.

“Hey! This is your birthday, my friend!” seru Hugo sambil menoleh ke kawan-kawannya seolah tak percaya. “Okay, let’s celebrate it tonight. It’s on me. Let me treat you.”

Baru kemudian saya tahu bahwa bagi dia, merayakan ulang tahun kawan baik adalah tentu saja dengan minum-minum. Minum-minum sampai happy. Waduh, saya jadi harus menjelaskan kalau saya tidak minum alkohol dan ini dan itu. Akhirnya, undangan merayakan ulang tahun bersama itu hanya jadi wacana dan berujung dengan sebuah sesi cross-cultural understanding. Mungkin ini yang membuat saya ingat hari itu, selain tentu saja badainya tadi yang membuat saya tidak bisa lupa.

Badai-badai semacam ini banyak terjadi selama bulan Ramadhan saya antara 2012 hingga 2016. Dua contoh ini hanya dua contoh kecil saya. Pasti akan sangat membosankan sidang pembaca yang kesasar ke blog ini kalau saya ceritakan yang lain. Pokoknya, kombinasi antara hawa panas, puasa yang panjang sampai 16 jam, dan pekerjaan yang menyedot energi dan kelembaban dalam tubuh saya itu—semua membuat saya benar-benar sudah terlalu capek ketika tiba di rumah. Tidur terasa nikmat setiap malam. Tapi, pada hari-hari itu, ketika begitu banyak hal menarik yang terjadi, saya tidak bisa banyak menuliskannya. Blog ini sepi pada hari-hari itu. Semua energi sudah habis dihembalangkan badai-badai yang sempurna semacam tadi, yang terjadi dari hari ke hari.

Tapi sekarang, setelah semuanya berlalu, ketika hidup lebih longgar, ketika bahkan saya bisa menuliskan postingan-postingan ini setiap hari selama—insya allah—31 hari, semua itu hanya menjadi nostalgia yang, well, membuat saya senyum-senyum sendiri. Badai yang sempurna bisa menjadi nostalgia yang paripurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *