Kemerdekaan di Tengah Badai

Berpuasa di tengah badai seperti yang saya bahas di postingan sebelumnya adalah berpuasa dengan terus menerus membuat keputusan. Ada hari-hari ketika badai-badai itu berlalu begitu saja tanpa membuat saya tumbang. Seperti saya bilang, malah banyak yang jadi nostalgia indah. Tapi, ada saat-saat tertentu ketika badai itu memaksa saya berteduh. Gampangnya, si manusia yang puasa ini akhirnya memutuskan untuk mokel. Tapi, kawan, ini bukan cerita murung. Manusia ini mokel dengan gagah. Ini bukan cerita murung, sekali lagi. Ini adalah cerita manusia yang mencoba memahami dunia dan memutuskan mengambil keputusan, manusia yang hingga titik tertentu memiliki otoritas untuk menentukan laju hidupnya.

Kejadian-kejadian ketika saya harus berteduh itu terjadi beberapa kali sejauh saya ingat, sebagian ketika saya harus melakukan perjalanan cukup jauh. Satu ke timur satu ke barat. Saya tidak menyadari sebelumnya, tapi ternyata itulah yang terjadi. Perjalanan ke timur terjadi ketika saya berangkat ke Eureka Spring dan satunya lagi saat ke Tahlequah.

Eureka Spring adalah satu kota kecil yang indah di kawasan perbukitan dan hutan-hutan Ozark. Hutan Ozark membentang dari di kawasan tengah barat Amerika, mencakup negara bagian Missouri, Arkansas, dan Oklahoma. Eureka Spring sendiri adalah kota di tengah perbukitan dan hutan-hutan itu. Kontur kotanya naik turun, dengan pemukiman dari abad ke-19 dari batu-batu warna-warni. Kota ini dulunya terkenal karena merupakan tempat yang segar yang cocok untuk perawatan orang-orang dengan penyakit paru-paru, mirip kawasan Pujon di Batu lah (untuk urusan kesejukan ini). Orang-orang Eropa membentuknya menyerupai kota-kota tua Eropa, hingga akhirnya kota ini pernah dikenal sebagai Swiss-nya Arkansas. Ada sebuah rumah sakit paru yang kelak menjadi hotel terkenal (dan tentu saja berhantu, biar eksotis) bernama Crescent Hotel.

Saat ini, kota Eureka Springs merupakan tempat wisata untuk memanjakan mata dan hati. Toko-tokonya yang berbaris rapat di jalanan meliuk-liuk naik turun, taman-taman kecilnya yang tersebar di seluruh kota, ada beberapa gereja yang indah (ada gereja tua dengan patung-patung Jalan Salib mini, ada kapel Thorn Crown Chapel karya arsitek kebanggaan Arkansas Fay Jones, dan ada patung Yesus raksasa bergaya art deco), dan tentu saja jalan-jalan yang meliuk-liuk cantik bagi mereka yang suka bermoge maupun gang-gang kecil yang di musim gugur selalu ditaburi dedaunan merah kuning—semua ini menjadikan Eureka Springs tempat yang membuat Anda kelenger bahagia.

Tapi, di puncak musim panas, tempat yang indah ini cukup dilematis. Dia hanya bisa diatasi dengan suplai air tak putus-putus. Masalahnya, pada tahun 2014 itu, puncak musim panas, ketika saya membawa para peraih beasiswa Fulbright itu, adalah juga bulan puasa.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Fayetteville, kami tiba di sana masih cukup pagi, sekitar pukul 10-an. Saya membawa GMC Savana andalan. Partner saya, Molly, membawa Chevy Express yang sebenarnya juga kembaran identik GMC Savana. Setibanya di sana, saya dan Molly langsung berbagi tugas membawa sejumlah peserta berbeda. Di kelompok saya, setelah saya beri instruksi, peta, jadwal, dan pilihan-pilihan tempat untuk dikunjungi, para peserta saya lepaskan. Menyadari hari itu panas dan akan sangat menyita energi, saya memilih untuk mengambil acara yang cukup santai, mengunjungi tempat-tempat yang teduh melewati gang-gang, naik trem, dan mengunjungi Crescent hotel. Ada beberapa peserta yang ikut saya. Yang lainnya menyebar. Secara keseluruhan, acara itu cukup melelahkan dan menguras energi. Tapi ketika kami berkumpul pada pukul 3 sore, saya masih bisa bertahan. Beberapa peserta yang ikut saya adalah mahasiswa asal Afghanistan. Mereka sudah biasa berpuasa di lingkungan yang ganas sebenarnya. Mereka bertahan oke saja.

Tapi, badai yang sebenarnya terjadi ketika dalam perjalanan pulang. Saya minta Molly berangkat duluan dan saya akan nyetir Savana saya santai-santai saja. Molly tidak benar-benar meninggalkan saya.  Tapi, belum begitu lama meninggalkan Eureka Springs, ketika melewati padang-padang gembala di pinggiran Ozark, kelelahan itu membawa kawannya: ngantuk. Ada satu titik ketika saya benar-benar harus memaksa mata terbuka di jalan berliku yang cukup sempit itu. Maka, begitu sampai di sebuah pom bensin, saya langsung menepi ke pom bensin. Ketika saya pasang sign ke kanan, Molly melihat saya dan ikut menepi ke pom bensin. Begitu turun, saya langsung ngeloyor masuk ke toko.

“What’s going on?” teriak Molly.

“I need to break my fast,” terus saya sambil mengindikasikan ngantuk tapi sembunyi-sembunyi agar mahasiswa yang saya bawa tidak melihatnya.

“Alrighty!” teriak Molly.

Di dalam toko pom bensin itu saya beli salah satu varian Fuze. Saya pastikan yang mengandung teh dan banyak gula. Serbuan gula itu yang saya butuh saat itu. Salah satu mahasiswa Afghanistan dari van yang saya setir ikut masuk toko dan ke toilet. Di luar, saya coba menggerak-gerakkan badan untuk memastikan agar sisa-sisa ngantuknya rontok. Ketika masuk lagi dan menaruh sisa Fuze di pegangan botol di dashboard, mahasiswa yang duduk di kursi depan agak heran—tahu saya semestinya puasa. Saya tersenyum lebar sekali.

Badai semacam ini juga terjadi ketika saya membawa sejumlah peserta program ke Barat, ke pusat warisan warga pribumi yang bernama Cherokee Heritage Center di Tahlequah, Oklahoma. Tempat ini sudah saya akrabi sejak semester pertama saya di Arkansas pada tahun 2008. Pada thaun 2014 itu, sudah beberapa kali saya ke sana membawa mahasiswa. Saya tidak pernah bosan bertemu para interpreter sejarah di sana, mendengar cerita tentang kearifan lokal bangsa Cherokee, melihat karya seni dan arsitektur reka ulang khas Cherokee, dan sebagainya. Saya sangat senang ikut berbagi itu dengan orang-orang yang baru datang ke Amerika Serikat.

Yang saya bawa di tahun 2014 itu adalah peserta program YALI (Young African Leaders Initiative). Program ini diikuti oleh para pemimpin muda dari negara-negara Afrika. Para pemimpin muda ini berusia antara pertengahan 20-an tahun hingga akhir 30-an. Ada yang staf menteri. Ada yang penggerak LSM. Ada yang anggota dewan. Ada yang duta besar PBB dari satu negara Afrika. Program yang didanai oleh Kemenlu AS ini adalah inisiatif dari Presiden Obama yang kita tahu bapaknya berasal dari Kenya.

Salah satu lagu yang kami putar di mobil keras-keras dalam perjalanan berangkat Oklahoma

Sayangnya Tahlequah adalah tempat yang cukup buas di musim panas. Betapapun saya menikmatinya dan banyak yang tertinggal di ingatan saya, DNA saya yang sudah berevolusi dengan alam tropis nan segar ini berontak juga. Saya sempat menulis menit-menit yang paling menyedot tenaga dari hari itu dalam puisi ini. Saya tetap bertahan selama berjalan-jalan di kawasan heritage center yang cukup luas itu. Saya masih ikut semua acara mulai peragaan cara membuat mata panah dari serpihan batu, peragaan permainan bola ala Cherokee, dan acara di dalam gubuk induk untuk pertemuan Cherokee. Tapi, ketika pulang, terjadi hal yang mirip-mirip dengan perjalanan pulang dari Eureka Springs. Satu harus berhenti di sebuah pom bensin setelah melewati hutan Ozark yang meliuk-liuk (di mana pada suatu malam saya pernah harus berhenti mendadak dan menyaksikan, bersama keluarga saya, sekeluarga rusa—ibu dan dua anaknya—menyeberang jalan dengan santainya).

“Masa depan Afrika ada di tangan dan mataku,” bisik saya sebelum berbelok ke kanan, masuk ke pom bensin tak jauh dari garis batas Oklahoma-Arkansas. Sebenarnya tinggal 45 menit hingga 1 jam lagi saya tiba di Fayetteville, di rumah. Tapi saya sadar, kecelakaan hanya membutuhkan beberapa detik.

Di titik ini, mestinya saya mulai merasionalisasi kenapa saya perlu mokel. Tapi, setelah melihat struktur dan isi tulisan ini. Sepertinya saya tidak perlu lagi merasionalisasi. Yang saya ingin komentari lagi-lagi adalah misteri tentang apa-apa yang membuat sebuah rasa inderawi bertahan lama dan tidak kunjung hilang. Yang saya ingin renungkan mungkin adalah betapa pentingnya hidup bila di setiap detiknya kita menyadari telah dianugerahi kesempatan memutuskan setelah mengamati kondisi dan menimbang berbagai opsi. Hidup—dan agama yang ada di dalamnya—sungguh begitu memerdekakan–tapi dengan syarat etis bahwa kemerdekaan itu tidak melanggar kemerdekaan orang lain. Dan hari-hari ini, tentu saya tidak perlu bertanya lagi harus ikut sholat tarawih atau sholat Ied di masjid. Keputusannya sudah ada dari dua bulan yang lalu dan semakin dikuatkan oleh hari demi hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *