Categories
serbasuka

“I Became the Three Eyed Raven”: Alat Informasi Pamungkas

Dalam hal kekuasaan, apa sih yang dicita-citakan oleh Game of Thrones itu sebenarnya? Maksud saya di sini adalah seperti apa sistem pemerintahan yang dicita-citakan oleh serial tentang rebutan tahta ini? Apakah demokrasi? Apakah kesejahteraan rakyat? Kepemimpinan seorang raja atau ratu yang tegas? Apakah ada yang lain? Di bagian awal cerita, kita tentu tidak tahu banyak karena sebagian besar yang kita dapatkan baru serpih-serpih yang sebagian besarnya dipengaruhi sifat haus kuasa. Tapi, kalau kita sudah sampai di ujung cerita, sepertinya yang dicita-citakan adalah pemerintahan yang memiliki mata untuk melihat segala lini kehidupan baik itu di hari ini, di hari lalu, atau di hari esok. Tapi, bagaimana saya bisa tiba-tiba sampai ke argumen itu? 

Bran the Broken sebagai Raja (dipinjam dari Line Today)

Yang kita bicarakan kali ini adalah perihal Brandon Stark atau Bran the Broken. Dia merupakan aspek ganjil dalam cerita Game of Thrones karena kemampuannya mengakses informasi dari berbagai tempat dan masa untuk kemudian menggunakan informasi tersebut. Kemampuannya di sini memungkinkan informasi bisa diakses dengan tidak semestinya. Tetapi, alih-alih menjadikan cerita membosankan, kemampuan ini justru hanya menjadi satu bumbu dalam cerita. Akses terhadap berbagai informasi ini tidak serta-merta menyelesaikan masalah. Dia hanya membantu menyelesaikan masalah yang tanpa itu nyaris mustahil terselesaikan. 

Yang saya maksud di sini adalah bagaimana dengan kemampuannya itu Bran membantu mencegah terjadinya kiamat salju. Berkat kewaskitaannya dan kemampuannya mengetahui apa yang jauh dan apa yang dulu, Bran bisa memperingatkan semua orang tentang akan terjadinya serangan White Walker. Memang itu tidak cukup dan terbukti ketika semua tenaga dikerahkan, tetap saja banyak prajurit Dothraki, warga Utara, dan prajurit-prajurit tangguh ikut mati. Tapi setidaknya, Bran sudah membuat mereka semua mempersiapkan diri sebagaik mungkin menghadapi serangan para setan putih itu. Dan itulah yang akhirnya membuat mereka bisa bertahan, meskipun dengan korban yang jumlahnya tak terkira. 

Ada beberapa hal tentang Bran yang perlu kita bahas di sini. Dan hal-hal itu bisa membantu kita menunjukkan berbagai hal tak biasa yang terjadi di Game of Thrones yang bisa kita bahas untuk mengetahui dunia macam apa yang kita dapatkan dalam serial ini.

Tidak ada yang mengetahui kenapa Bran mendapatkan kemampuan waskitanya. Yang kita ketahui adalah bahwa ketika dia jatuh dari menara, dia tidak bisa lagi berjalan atau memanjat atau ke mana-mana. Tetapi, setelah itu kita melihat untuk pertama kalinya Bran sebenarnya bisa berjalan keluar dari tubuhnya saat ia terbaring dan tidak sadar. Lama kelamaan, kemampuan ini berkembang sehingga dia tidak hanya bisa melihat melalui sudut pandang burung, tapi juga dia bisa masuk ke dalam pikiran seseorang dan mengendalikan orang tersebut untuk sesuai dengan kebutuhannya. 

Kekuatan Bran yang bisa masuk ke pikiran burung-burung gagak memungkinkannya bisa mengetahui kejadian-kejadian di luar pemahaman manusia pada umumnya. Karena hal inilah Bran bisa memantau bahaya yang mendekat. Baginya, bahaya terdekat saat itu adalah melihat adanya kaum mati yang sudah bangun dan siap membahayakan manusia pada saat musim dingin tiba. 

Sepertinya, Bran memang dipilih untuk melanjutkan kekuatan Gagak Mata Tiga. Gagak Mata Tiga sendiri adalah satu sosok yang terpilih untuk memiliki kekuatan “akses informasi tanpa batas.” Dan sosok ini merupakan bagian dari agama Dewa-dewa Lama. 

Ketika Bran sudah menjadi gagak mata tiga, dia menjadi jawaban atas permasalahan tahta di Game of Thrones. Kemampuan gagak bermata tiga memungkinkan Bran tahu berbagai aspek kehidupan dan mengetahui masa kini dan masa lalu. Hal ini bisa menyelesaikan sejumlah masalah yang sebelumnya tak terjamah. Bila sebelumnya gagak bermata tiga tidak terlibat dalam kehidupan sepenuhnya, kali ini gagak bermata tiga hidup di tengah masyarakat. Di sinilah pengetahuan tentang berbagai masalah ini menjadi bagian dari kehidupan umum. 

Oleh karena itu, setelah Bran menjadi raja, kita akan melihat Westeros hidup di zaman modern. Kali ini, pemimpin jadi tahu apa-apa saja kesalahan atau ketidakberesan yang terjadi. Dia tidak akan lagi menjadi pemimpin yang mudah digulingkan karena semua bawahannya bisa dia ketahui. Dia juga kini memiliki informan dari berbagai penjuru negara yang memungkinkannya tahu apa saja yang akan terjadi. Pendeknya, kehadiran Bran sang gagak mata tiga di tengah masyarakat menjadikan kisah GoT ini lebih kompleks dan semakin tak bisa dibedakan dengan permasalahan di dunia hari ini. 

Kita sudah melihat aplikasi dari kemampuan ini ketika Bran menyelesaikan persoalan Petyr Little Finger. Dengan kewaskitaannya, Bran menunjukkan kepada adik dan kakaknya bahwa Little Finger adalah orang yang membuat Ned Stark tertangkap dan akhirnya dipenggal di bawah perintah King Geoffrey. Dengan ini pula, dia menjadi tahu berbagai masalah yang menimpa Sansa. Dia bisa melakukan ini dengan mudah, tapi emosinya semakin hilang. “I became the three eyed  raven,” katanya dingin sambil menatap hampa. Dia bukan lagi manusia. Dia sudah menjadi alat untuk semesta. 

Pada diri Bran the Broken, kita melihat bagaimana informasi adalah sesuatu yang bisa menjadi solusi atau pencegah berbagai masalah. Oleh karena itu, Bran the Broken adalah wujud bagaimana penyempitan jarak dan bahkan waktu merupakan ciri dari kehidupan di masa kini yang tidak mungkin terjadi di Abad Pertengahan. Karena itulah Game of Thrones ini sama sekali bukan cerita pertengahan. Dia hanya cerita modern yang terjadi di tengah tampilan Abad Pertengahan. Dia adalah cerita modern di mana sebuah pemerintahan bisa berjalan dengan memanfaatkan informasi yang bisa didapatkan dari mana saja. 

Kalau ada yang benar-benar membedakan sistem pemerintahan seperti ini dengan sistem pemerintahan di hari-hari ini, hal itu adalah kerapuhan pemerintahan di Westeros. Bran punya akses informasi tanpa batas (yang memang masih harus diolah untuk menjadi pengetahuan), tapi semua itu bertumpu pada satu sosok. Bran sendiri. Kalau Bran hancur sebelum akses informasi yang luas itu terdistribusikan dengan baik, maka Westeros pun kembali ke gagrak lawas. Di zaman kita saat ini, untungnya kemampuan informasi tanpa batas itu tidak hanya di tangan satu orang, bahkan tidak hanya di tangan pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *