video

Menguntit Bajing Melompat

Seperti pernah saya posting sebelumnya, tupai atau bajing adalah salah satu anggota masyarakat yang populasinya cukup besar di Amerika Sebelah Sini yang separuh-separuh hutan separuh-separuh pedesaan ini. Tempo hari saya sempat posting foto tupai yang mampir ke balkon belakang rumah kos saya, kan? Kali ini, karena tadi sore ada momen yang pas, saya ingin menunjukkan aktivitas salah seekor tupai di kampus. Beberapa minggu yang lalu, salah seekor tupai masuk ke gardu listrik dan menyebabkan listrik nyaris seluruh kampus padam. Saking parahnya lampu padam waktu itu, sampai-sampai kampus memutuskan memindah lokasi Kuliah Kehormatan dari Dagoberta Menchu, seorang wanita pribumi Amerika Selatan penerima anugerah Nobel Perdamaian.

Hari-hari ini aktivitas para tupai tidak seramai biasanya. Biasanya, kalau musimnya pas, ketika pepohonan oak berbuah akorn (makanannya Chip and Dale atau tupai di seri film Ice Age itu), mereka terlihat begitu giras mengambil akorn, terus membawanya naik ke pohon, menimbunnya di tanah buat musim dingin, atau seterusnya. Hari-hari ini, ketika musim gugur sudah menua dan hawa semakin dingin, dan hujan tak henti-henti, para tupai itu sembunyi entah ke mana. Jarang sekali mereka terlihat.

Untungnya sore tadi Tim Laporan Studi Banding ketemu satu. Kebetulan saja, tadi sore, ketika kampus sangat suepi karena masih dalam hari-hari libur Thanksgiving, Tim LSB melihat seekor tupai yang nekad jalan-jalan di tengah basah rerumputan. Maka, silakan saksikan video ulah singkat oknum tupai tersebut melompat-lompat penuh intrik. Video ini dibuat khusus bagi Anda sekalian penikmat Laporan Studi Banding…

 [youtube https://www.youtube.com/watch?v=NnJ7mnIn2Ew]

perjalanan studi banding video

Laporan Studi Banding: Suaka Bison & Elk di Kansas (Maxwell Wildlife Refuge)

Saudara-saudara sesama warga negara Republik Indonesia yang saya sayangi,
Bapak-ibu dewan guru baik di lembaga pendidikan negeri maupun swasta yang saya kagumi,

Dalam kesempatan Laporan Studi Banding kali ini, saya ingin menunjukkan sebuah video yang saya buat dari kunjungan tim Laporan Studi Banding ke Maxwell Wildlife Refuge di Canton, Kansas.

Pada abad ke-19, pemerintah (dan khususnya Angkatan Darat) AS mendesak para pribumi dari kawasan Dataran Raya (Great Plains) agar lokasinya yang subur ini bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Penyingkiran para pribumi ini juga didukung dengan upaya besar-besaran menggalakkan perburuan bison, yang merupakan sumber pangan mereka. Banyak buku yang menceritakan kekejaman baku-bunuh antara tentara AS dan para pribumi yang terdesak ini. Pada akhirnya, orang-orang pribumi pun terdesak dan terpaksa tinggal di reservasi-reservasi. Begitu juga dengan bison di kawasan Kansas. Mereka juga punah.

Keluarga Maxwell termasuk orang yang turut mendapatkan lahan pembagian (homestead) di kawasan Dataran Raya ini, khususnya di bagian yang sekarang dinamakan Canton. Lahan ini semestinya digunakan untuk bertani memenuhi kebutuhan pangan Amerika Serikat. Alih-alih menggunakan seluruh lahan yang dia terima dari pemerintah untuk pertanian, dia mempertahankan sebagian kecil lahannya, area seluas 1000 hektar, untuk tetap menjadi padang rumput alami (istilah Inggrisnya prairie). Selanjutnya, keluarga ini juga mendatangkan bison dari kawasan Dakota guna mengembalikan populasi bison yang sudah punah karena perburuan yang dianjurkan itu.

Belakangan, pada pertengahan abad ke-20, keluarga Maxwell ini menghibahkan 1000 hektar lahan yang masih padang rumput ini kepada Dinas Kehutanan, Perikanan, dan Hewan Buruan guna dijadikan suaka margasatwa, khususnya untuk bison dan elk.

Pada bulan Maret, seperti pernah saya ceritakan di sebuah postingan terdahulu, saya berkesempatan datang ke suaka bison dan elk ini. Saya juga berkesempatan diantarkan melihat bison-bison ini dari dekat. Kebetulan saya diantarkan sendiri oleh pimpinan kelompok relawan yang mengelola tempat ini, Bu Betty. Saya melihat langsung bagaimana bison-bison ini bermalas-malasan di siang hari awal musim semi. Udara terasa kering seperti musim dingin, tapi hawanya tidak terlalu dingin. Saya ingin berbagi dengan Anda sekalian apa-apa yang bisa saya lihat dari balik kamera. Kunjungan ke tengah-tengah bison itu lumayan lama, tapi tentu saja saya hanya bisa mengambil sekira 3 menit saja dari kunjungan itu.

Sementara begitu dulu, silakan menikmati videonya. Oh ya, sebenarnya saya agak menyesal tidak bisa berbagi “aroma” kawasan bison bermalas-malasan ini :D.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=mA29pjbT_rs]

video

Melanggar Batas Kecepatan Tanpa Merasa Salah

Dalam kesempatan ini, saya pingin mengajak Anda sekalian melihat jalan dari depan rumah hingga ke kampus. Silakan lihat betapa dekatnya rumah saya dengan kampus. Selain itu, di dalam video mungkin sudah mulai bisa melihat pucuk-pucuk daunan sudah mulai oranye. Seminggu dua minggu lagi, dijamin tidak akan ada  lagi daun-daun hijau. Yang ada hanya daun oranye dan coklat. Jadi ya, mumpung masih ada ijo-ijonya, silakan dinikmati dulu.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=PJ0VRKFFlgA&w=420&h=315]

American Islam video

An American Soldier, who Happens to be Muslim – The Documentary

A young man of Moroccan descent, Army Specialist Zachary Klawonn has seen a lot of misconceptions about Islam and discrimination against Muslims in the U.S. Army, some of which put himself as a victim. He has seen individuals in the Army belittle Islam, not realizing that among his subordinates was a follower of the faith. In a session supposedly designed to provide a cultural education, a sergeant showed a slide saying “it is a duty of all Muslims to kill westerners or Americans” to Klawonn’s surprise. Incidents of this sort led Klawonn and his colleagues to believe that there is still a strong misunderstanding about Islam among U.S. Army members, to the degree that there is a belief that “Muslims” and “terrorists” are synonymous and that the United States is at war against Islam. This is not to mention all personal attacks against him, in which he is called nasty, racist names and slurs.

Chris Arata, Klawonn’s commander who respects him for his quality as a soldier, states that he is not aware of any acts of discrimination in his unit. With regards to the non-educational “cultural education” above, Arata explains that the attitude of that particular individual is not unrelated to the fact that many individuals in the American society that believe in the same misconception against Islam. Hence, it is appropriate to say that this problem in the U.S. Army is not unrelated to its counterparts in the larger American society. By its counterparts, I mean, among others, the common misconception of associating Muslims with terror incidents perpetrated by Islamist or Muslim fundamentalist groups. A similar case can be seen in the recent “Muslim poem vs Pledge of Allegiance incident” that took place in Concord-Carlisle High School, which I will discuss further in a different post.

As for Army Specialist Klawonn himself, he optimistically states near the end of the documentary that it is true that his appearance in this documentary might not make his life less difficult as a US Soldier who happens to be Muslim; however, for him, this is for the better, because unless he speaks up, the next Specialist Klawonns will experience the same things that he has experienced.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=guGtsn-9n6g&w=420&h=315]

American Islam culture video

Jack Shaheen’s Reel Bad Arabs

Chances are you have seen action movies where you see negative portrayals of Arab characters, whether they be in turbans, desert camos, or suits and ties. Or probably you’ve also seen main characters in a movie talk about the Arabs as some distant, primitive people. Indeed, Hollywood has numerous portrayals of “Arabs” with all their supposedly negative characters, ex. lewdness, anger, cruelness, cowardice, etc. Jack Shaheen discusses those portrayals in his book Reel Bad Arabs: How Hollywood Vilifies a People. He argues in his book that if the slurs and all the negative epithets were used for Black people, Jews, or Native Americans, they would easily fall into the category of racism.

So, today Jack Shaheen is in town. He is giving a lecture on the same topic that he discusses in his book. This evening–yes, this evening, just a few hours back–the Middle East and Islamic Studies Center of the University of Arkansas organized a screening of a documentary based on Dr. Jack Shaheen’s book, also entitled Reel Bad Arabs. I went to the screening and had the chance to talk a little bit with Dr. Shaheen. For those of you who are interested in the topic, you can please watch this embedded video. You’ll probably be shocked to know that some of the action movies you loved as a kid turn out to have such vilification of the Arabs.

By the way, if you go to the youtube account, you might find some anti-zionist rhetoric. That’s probably the uploader’s opinion, because as far as I’m concerned from the discussion today, Dr. Shaheen didn’t explicitly show such tendency. As an academic–albeit a retired one–Dr. Shaheen is concerned more about the vilification and how unjust such a practice is. In reply to a question by a member of the audience about how Dr. Shaheen had kept his resilience to “defend” the Arabs after all these years and incidents (9/11 and other terrorist attacks globally), he explicitly said that he didn’t intend to “defend” a people; he is more interested in evaluating how Americans see the Arabs and the negative implications of such a predilection.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=qHihlTw5Kck&w=420&h=315]